Rabu, 30 Desember 2009

malem tahun baru mau ke mana?

cerita setahun yang lalu (yang masih kurasakan hingga kini):D

Don’t asked me where I went last night.

Tuhan. Pertanyaan itu selalu ada ketika saya bertemu dengan seorang teman hari itu. “Mau ke mana malem ini?” Atau “mau ngerayain di mana malem tahun baru ini?” Pertanyaan yg bila saya jawab dengan jujur, “di rumah aja”, selalu mengundang komentar keheranan tak percaya. Well, gitu juga waktu kakakku bertanya, setelah kujawab, ia langsung menimpali “kayaknya nggak mungkin bgt, impossible, mima ada di rumah di malam tahun baru. Biasanya aja, hampir tiap malam Tanya boleh pergi atau nggak.
Hei, wajar donk klo saya berpamitan dan meminta persetujuan dari orang rumah untuk pergi di malam hari. Waktu saya Tanya mereka menjawab, “terserah mim, hidup kamu ya kmu yg jalanin.”
“Oke.” saya pergi. And theeeen, begitu aku kembali ke rumah, semua orang berbalik menyalahkan kepergianku tadi.

Hey, come on. Saya tidak pulang dengan mulut bau rokok, atau dalam keadaan mabuk.
Dan tak pernah lebih dari jam 12 malam.
Ralat, pernah memang, dan tahu karena apa? Karena kali itu saya ingin sekali mencoba nton midnight di 21. Dan dua kali malam tahun baru yang lalu, saya pulang sebelum pukul 2 malam, juga dalam keadaan sehat bugar, dan tolong ingat ya, digaris merah bila perlu: saat itu saya sedang pakai sandal jepit!
….

Sial.
Malem ini saya terbangun oleh suara2 kembang api dan petasan yg berdegum kayak bom . saya lihat jam diding kamar saya menunjukkan pukul 00.03. Oke, itu artinya saya harus mengganti semua tanggalan saya yang saat ini masih bertuliskan tahun 2008. Syukurlah, karena ada satu kalender bergambar norak yang sudah setahun ini saya tahan untuk tidak segera membuangnya.
Saya buka inbox dalam handphone saya, ada 2 message yg isinya serupa: pengirim pesan mengucapkan “selamat tahun baru”. Yeah. Malam ini adalah malam pergantian tahun. Malam ini aku di kamar, sedangkan sebagian besar manusia lain mungkin sedang berada dalam hingar bingar kota, merayakan sesuatu yg entah mengapa dari tahun ke tahun seolah menjadi kewajiban bagi manusia untuk melakukannya.

Well, aku terus mencari alasan logis, yg tepat untuk melukiskan makna dari perayaan tahun baru.

1. Tahun baru dirayakan sebagai tanda syukur kepada Tuhan karena kita telah diberi umur panjang, dan masih diperbolehkan untuk hidup, melihat kemegahan ciptaanNya, dan menghirup oksigen dengan gratis (bagi yg senang bersyukur).
2. Tahun baru dirayakan untuk menyambut resolusi baru, harapan baru, impian dan langkah-langkah baru untuk diwujudkannya (bagi yang sudah punya resolusi dan punya orientasi masa depan yang baik).
3. Tahun baru dirayakan untuk melepaskan beban di tahun yang lalu, dan membangkitkan semangat untuk menjalani kehidupan yang semakin menantang di kemudian hari (bagi yang optimis).

Saya positive thinking sajalah. Sekalipun saya tetap bingung dan merasa tidak bernyawa diantara euphoria hura-hura, ketika tahun lalu saya ikut merayakan pergantian tahun di kota.
Saya senyum-senyum sendiri, menutupi kegalauan saya tentang masa depan yang semakin dekat. Entahlah, mungkin di antara hingar bingar kemeriahan ini hanya saya saja yang merasa ketakutan. Lalu saya bertanya lagi dalam hati, sebenarnya apa yang saya rayakan saat itu? Apa yang orang-orang rayakan malam itu?
Yeah,, Dunia telah semakin tua, usia manusia semakin bertambah (baca: kesempatan untuk hidup semakin berkurang), dan tantangan hidup yang akan datang akan semakin berat menerpa..

Apakah itu yang patut kita rayakan? Sudahkah kita siap menghadapinya?

Well,, happy new YEAH! For everybody!

Wish u luck, in every way, in everything you do in your life, in every single day.

Jumat, 03 April 2009

gendut itu cantik

Anda tahu, toko apa yang membuat saya betah berada berjam-jam di dalamnya?

Bukan toko pakaian, karena meskipun saya pengikut model, tapi saya tidak pernah berniat untuk menggunakan pakaian atau stuff apapun yang sedang in di jamannya. Alasannya simple: saya hanya tidak mau terlihat sama dengan orang lain.

Bukan juga toko kaset (yang notabene juga sudah nggak jaman karena tergeser oleh popularitas MP3 bajakan seharga 7rb per keping). Terakhir kali saya beli kaset di Solo Grand Mall, dan ditertawai oleh teman-teman saya. Jauh-jauh plesiran dari jogja ke solo saya justru beli kasset Laskar Pelangi, bukan serabi solo atau batik solo. Kaset itu oleh-oleh buat om saya, seorang pecinta musik, yang sekalipun tidak pernah benar menyanyikan sebuah lagu.

Bukan juga toko awul-awul atau orang biasa juga menyebutnya toko sisa eksport. Menyenangkan sekali berada dalam toko ini, menjadi sebuah tantangan, seperti sedang mencari emas di hilir sungai. Wkwkwk. Sekali saya pernah ke sana, cukup lama memang, tapi cuma berhasil mendapat 1 aitem. Saya belum puas, lain kali saya pasti menyempatkan diri untuk pergi ke toko awul-awul yang bonafit sekalian (Dengar-dengar di sekaten banyak).

Bukan juga toko makanan. Meskipun saya penggila makanan, terlebih makanan yang enak. Hahaha. Saya masih normal kan? Mana ada orang yang menolak makanan enak. Saya memang bisa juga berlama-lama di dalam toko makanan (bahasa kerennya: restoran atau café), tapi itu bukan karena terkesima oleh sajian makanan enaknya, tapi karena asyik bergosip dengan teman-teman. Haha. Ini berlaku bagi teman perempuan. Tapi kalau dengan teman laki-laki, biasa kami saling bertukar cerita lucu dari pengalaman masing-masing di warung kopi.

Sungguh tidak to the point. Baiklah… jawaban yang benar dari pertanyaan di atas, adalah toko buku!

Saya terobsesi dengan buku. Entahlah. Padahal saya tidak suka membaca. Aneh memang. Tapi saya selalu bernafsu untuk membeli buku sebanyak-banyaknya bila ada uangnya. Hahaha. Namun kemungkinan itu sangat kecil. Kalaupun saya lagi punya uang, saya akan menghindari toko buku. Karena saya tahu efek sampingnya. Lemari buku saya akan bertambah sesak dengan deretan dan tumpukan buku yang hampir 70%nya belum saya baca hingga tuntas. Termasuk buku2 kuliah saya. Haha. Tapi kali ini saya masuk Gramedia karena dipaksa oleh teman saya. Maka dengan senang hati saya “terpaksa” masuk (karena saya tahu di dompet saya hanya tersisa uang 20rb, sehingga seingin-inginnya saya, saya tidak akan mampu membeli sebuah buku). Senangnya, sekalipun saya tidak membeli buku satupun saya justru mengalami hal yang lucu, yang membuat saya diperhatikan banyak orang karena senyum-senyum sendiri. Hehehe.

Saat itu saya sampai pada satu kolom rak psikologi popular. Sekilas saya kaget karena saya melihat foto Andy Lau di sebuah cover buku. Haha. Kok bisa? Andy Lau bikin buku psikologi popular juga ya? Begitulah yang terlintas dipikiran saya saat itu. Ternyata setelah saya perhatikan lebih dekat, orang itu buka Andy Lau, Cuma mirip. Haha. Saya perhatikan lagi buku itu. Judulnya cukup meyakinkan dan menarik:
Langkah Dasyat Meraih Impian. Langkah Ajaib Menuju ke Langit.


Hehehehe. Mantap kan?
Tapi saya tidak menyarankan anda untuk beli buku ini. Karena saya yakin pasti akan sangat membosankan (buku ini cukup bisa membuat kecoa mati kegencet).

Saya yakin saya tidak butuh buku itu, begitu juga Anda. Saya tahu dan selalu tahu hal yang membuat saya bisa meraih impian saya. Saya juga harap anda pun begitu. Jawabannya ada di dalam hati dan benak anda, hanya mungkin tidak disadari. Hanya untuk mempermudah anda mencari tahu dan menyadarinya: Pertama buatlah dulu impian anda. Jangan pernah terlintas kata “tidak mungkin”. Karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, selama anda percaya Tuhan.

Selanjutnya saya tidak mau mengurui siapapun. Tapi saya yakin, semua orang tahu caranya, hanya saja kebanyakan dari kita malas untuk bertindak, untuk meperbaiki diri, bahkan demi mencapai impiannya sendiri. Kata kuncinya adalah kemampuan untuk mengevaluasi diri dan kemampuan untuk berani bertindak.
Well. Hehe. Bukanya saya tapi bilang mau cerita hal yang lucu ya? Kenapa jadi serius begini? Oke, sekarang ganti topik. Saya masih berada di kolom psikologi. Dari deretan buku yang terpajang, saya sangat tertarik dengan buku berjudul : Gendut Itu Cantik. Hahaha. Kalau boleh saya bilang itu “aku banget!” hahaha. Maka saya mulai mengambil buku dan membaca ringkasannya di cover belakang. Buku itu mencoba mengajak orang melihat persepsi mengenai tubuh, apa saja factor-factor yang meyebabkan gendut, hingga tips-tips berpakaian agar tubuh gendut tetap terlihat menawan. Well, boleh juga. Hehehe.

Kebetulan ada sepasang kekasih di sebelah kanan saya waktu itu. Sang laki-laki berwajah culun, dan perempuannya berbadan subur. Awalnya saya melihat mereka sedang sibuk melihat lihat buku-buku perkawinan, sambil mengobrol yang tidak terdengar oleh saya. Hee. Tiba-tiba saat saya sedang asik membaca buku tadi, si laki-laki dgn suara yang lantang dan setengah tertawa, “wah ada buku judulnya Gendut itu cantik. Si perempuan menyahut “mana?”
Laki-laki itu masih tertawa, “kamu penasaran ya? Cari aja sendiri.”
Si perempuan masih penasaran: “Mana sih?”
Laki-laki itu bukannya menjawab malah bilang “hhihihihihi,, berarti aku nggak salah pilih donk, sayang.”

“Hmmmpprtttt” kalau yang ini bukan suara kentut, melainkan suara pelan saya menahan tawa. Tapi saya tidak berhasil menahannya, alhasil saya nyengir-nyengir kuda kebelet pipis (setengah tertekan,, tidak lega) dengan posisi masih di samping pasangan itu.
Si laki-laki itu masih tertawa. Sayangnya saya tidak mendengar dan melihat bagaimana ekspresi sang perempuan, saya takut kalau saya dikira mengejek atau ingin ikut campur.

Saya benar-benar tidak tahan untuk tertawa lepas. Maka saya segera cabut dari tempat, dan menjauh dari pasangan itu. Hahahahahahahahaha.. kali ini saya yang menanggung malu karena ketawa-ketawa sendiri di hadapan banyak orang. Saya tertawa karena laki-laki berwajah culun itu benar-benar polos ketika bicara seperti tadi. Dan saya tahu, laki-laki itu tidak bermaksud menyindir atau mengejek pacarnya sendiri, ungkapan tadi pasti rayuan bagi kekasihnya namun tulus dari hatinya. Hahahahahaha.

Salut, buat orang-orang yang tidak memandang fisik sebagai alasan utama untuk menyayangi seseorang!!

Kamis, 26 Maret 2009

wonder women

Sms kuterima, dengan lugas Laki2 itu bertanya, “masih kah kamu sayang dan cinta padaku?”
Aku balas, “Sayang sedikit, tapi tak cinta, karena cintaku hanya untuk laki2 yang akan menjadi suamiku kelak.”
Lama handphoneku tak berdering tanda menerima pesan, menunggu respon yg diberikan darinya. Kemudian, ada pesan masuk.. “kenapa harus pakai kata sedikit sih?”

Bukankah rasa sayang itu bagian dari afeksi, emosi atau perasaan seseorang?! Bagiku perasaan tidak bisa dinilai secara kuantitatif. Tidak bisa dihitung dengan rumus statistic atau kalkulus. Sedikit bagi seseorang bisa berarti banyak bagi orang lain. Relative. Unacountable .

Heran saya bila ada seseorang yang dapat mengumpamakan bahwa cintanya pada seseorang sedalam samudera, setinggi langit, sebesar dunia, atau apapun itu. Siapa sih yang bisa membuktikan itu?
Bila kita berbicara dengan kualitas, maka tak perlu obral kata2, cukup dengan perbuatan, yang semestinya orang bisa paham dgn itu.

Sedikit yang aku maksudkan setelah kata sayang, kunilai sebagai bentuk kualitatif, yang artinya aku tak ingin sayangku padanya dianggap berlebihan, kemudian berkorelasi akan ketergantungan, ketakutan akan perpisahan.

Aku tidak tidak akan SELEMAH itu, hanya karena rasa sayangku untuk seseorang belum tentu menjadi bagian dalam kehidupanku kelak.