cerita setahun yang lalu (yang masih kurasakan hingga kini):D
Don’t asked me where I went last night.
Tuhan. Pertanyaan itu selalu ada ketika saya bertemu dengan seorang teman hari itu. “Mau ke mana malem ini?” Atau “mau ngerayain di mana malem tahun baru ini?” Pertanyaan yg bila saya jawab dengan jujur, “di rumah aja”, selalu mengundang komentar keheranan tak percaya. Well, gitu juga waktu kakakku bertanya, setelah kujawab, ia langsung menimpali “kayaknya nggak mungkin bgt, impossible, mima ada di rumah di malam tahun baru. Biasanya aja, hampir tiap malam Tanya boleh pergi atau nggak.
Hei, wajar donk klo saya berpamitan dan meminta persetujuan dari orang rumah untuk pergi di malam hari. Waktu saya Tanya mereka menjawab, “terserah mim, hidup kamu ya kmu yg jalanin.”
“Oke.” saya pergi. And theeeen, begitu aku kembali ke rumah, semua orang berbalik menyalahkan kepergianku tadi.
Hey, come on. Saya tidak pulang dengan mulut bau rokok, atau dalam keadaan mabuk.
Dan tak pernah lebih dari jam 12 malam.
Ralat, pernah memang, dan tahu karena apa? Karena kali itu saya ingin sekali mencoba nton midnight di 21. Dan dua kali malam tahun baru yang lalu, saya pulang sebelum pukul 2 malam, juga dalam keadaan sehat bugar, dan tolong ingat ya, digaris merah bila perlu: saat itu saya sedang pakai sandal jepit!
….
Sial.
Malem ini saya terbangun oleh suara2 kembang api dan petasan yg berdegum kayak bom . saya lihat jam diding kamar saya menunjukkan pukul 00.03. Oke, itu artinya saya harus mengganti semua tanggalan saya yang saat ini masih bertuliskan tahun 2008. Syukurlah, karena ada satu kalender bergambar norak yang sudah setahun ini saya tahan untuk tidak segera membuangnya.
Saya buka inbox dalam handphone saya, ada 2 message yg isinya serupa: pengirim pesan mengucapkan “selamat tahun baru”. Yeah. Malam ini adalah malam pergantian tahun. Malam ini aku di kamar, sedangkan sebagian besar manusia lain mungkin sedang berada dalam hingar bingar kota, merayakan sesuatu yg entah mengapa dari tahun ke tahun seolah menjadi kewajiban bagi manusia untuk melakukannya.
Well, aku terus mencari alasan logis, yg tepat untuk melukiskan makna dari perayaan tahun baru.
1. Tahun baru dirayakan sebagai tanda syukur kepada Tuhan karena kita telah diberi umur panjang, dan masih diperbolehkan untuk hidup, melihat kemegahan ciptaanNya, dan menghirup oksigen dengan gratis (bagi yg senang bersyukur).
2. Tahun baru dirayakan untuk menyambut resolusi baru, harapan baru, impian dan langkah-langkah baru untuk diwujudkannya (bagi yang sudah punya resolusi dan punya orientasi masa depan yang baik).
3. Tahun baru dirayakan untuk melepaskan beban di tahun yang lalu, dan membangkitkan semangat untuk menjalani kehidupan yang semakin menantang di kemudian hari (bagi yang optimis).
Saya positive thinking sajalah. Sekalipun saya tetap bingung dan merasa tidak bernyawa diantara euphoria hura-hura, ketika tahun lalu saya ikut merayakan pergantian tahun di kota.
Saya senyum-senyum sendiri, menutupi kegalauan saya tentang masa depan yang semakin dekat. Entahlah, mungkin di antara hingar bingar kemeriahan ini hanya saya saja yang merasa ketakutan. Lalu saya bertanya lagi dalam hati, sebenarnya apa yang saya rayakan saat itu? Apa yang orang-orang rayakan malam itu?
Yeah,, Dunia telah semakin tua, usia manusia semakin bertambah (baca: kesempatan untuk hidup semakin berkurang), dan tantangan hidup yang akan datang akan semakin berat menerpa..
Apakah itu yang patut kita rayakan? Sudahkah kita siap menghadapinya?
Well,, happy new YEAH! For everybody!
Wish u luck, in every way, in everything you do in your life, in every single day.

