Sebenarnya judulnya sungguh tidak menarik🤣. Kalau dijadikan film gak bakal jadi box office.
Tapi aku menulis ini bukan tanpa tujuan.
Tujuan yang pertama adalah menerima kesalahanku di masa lalu. Iya, aku memang punya peranan penting dalam mengurus anak-anak, jadi aku gak menampik bahwa yang membuat gigi Jani seperti sekarang adalah kesalahanku. Aku tadinya tidak pernah mau tunjukkan gigi jani ke publik/sosmed karena aku sendiri malu. Jani juga tadinya terlihat malu bila ada yang bertanya tentang giginya, tapi beberapa saat lalu aku melihat ada perubahan pada Jani! Jadi kalau ada yang tanya giginya kenapa, dia bukan lagi menutupi, tapi malah makin nyengir dipamerin ke orang tersebut. Hahaha.
Ketika aku lihat Jani sudah tidak insecure, maka aku harus mulai membuka diri juga.
Kedua, tujuannya adalah sebagai warning buat orang tua lain, sehingga tidak ada lagi yang melakukan kesalahan yang sama sepertiku.
Sejak tumbuh gigi, Jani sangat tidak nyaman bila disikat giginya. Semakin lama semakin berontak dan nangis sejadi-jadinya kalau dipaksa gosok gigi. Kalau udah begitu akunya yang gak tegaan ini menyerah, ‘kalau gak mau yaudah’. Tapi jangan salah, segala provokasi dulu udah dilakukan, mulai dari belikan sikat gigi yang bagus, menarik, terus disetelin video sikat gigi mulai dari cocomelon, duggee, dll tentang kegiatan sikat gigi, sampai diajak sikat gigi bareng mamanya sambil nyanyi-nyanyi, tetap gagal!
Kemudian terjadilah, saat Jani harus dirawat inap selama 7 hari penuh di RS karena rotavirus. Bayangin aja anak sakit, lihat perawat nangis, dikasih obat pun nangis berontak. Waktu itu aku ingat banget, salah satu obat Jani seperti susu bubuk yang dikasih air sedikit sehingga bertekstur seperti bubur kental, lebih tepatnya mirip lulur mandi yang ada scrubnya. Selama 7 hari itulah jani teratur minum obat tersebut tapi tanpa sikat gigi, sudah pasti di giginya menempel banyak sisa obat lulurnya tadi. Aku sempat berusaha memaksa dia sikat gigi, tapi nangisnya sama lagi seperti sebelum-sebelumnya. Dan aku semakin gak tega karena dia sedang sakit saat itu.
Sejak itulah di gigi Jani terbentuk karies di pangkal gigi depannya (karena dia waktu itu cuma punya 4 gigi depan). Dari waktu ke waktu, bertumbuh giginya, karies nya makin turun sehingga rapuh dan mudah patah. Berujung seperti sekarang giginya sudah patah dan menghitam. Kata dokter gigi, solusinya cuma bisa nunggu gigi barunya tumbuh😅.
Apa yang bisa dipetik dari pengalaman Jani? Masih ingat kan cerita Jani speech delay?
Ternyata salah satu tanda speech delay itu adalah kurang matangnya organ oral. Sikat gigi sebenarnya bisa merangsang otot oral anak. Tapi karena Jani tidak mendapatkan rangsangan tersebut, maka mundurlah kemampuan bicara dia.
Salah satu tandanya lagi adalah kesulitan makan/ GTM/ sudah diajak makan. Makanan dengan berbagai tekstur dipercaya berguna untuk merangsang oral anak. Makanya proses belajar makan itu tidak boleh disepelekan, selain untuk pemenuhan nutrisi, tahapan pengenalan tekstur pada MPASI anak wajib dipatuhi dan diperhatikan.
Jangan sampai besar cuma makan bubur saring terus menerus, atau dari 6 bulan selalu diberi tekstur fingerfood (yang cenderung keras).
Aku dulu salah, dari 6 bulan terlalu sering memberi finger food (pengen BLW banget gitu) mungkin Jani belum siap sehingga selanjutnya dia merasa malas makan. Ini spekulasiku dari evaluasi pribadi, karena Jani belum bisa ngomong.
Malas makan = GTM = kekurangan latihan oral = kemunduran kemampuan bicara.
Mengenai tahapan tekstur, sudah banyak artikelnya ya, parents bisa mencari informasi terkait ini di banyak sumber.
Pembelajaran buat parents dari kesalahanku dapat disimpulkan:
1. Jangan lewatkan agenda gosok gigi. Harus tega, harus lebih pintar cari cara, jangan manjain anak sepertiku.
2. Jangan lewatkan tahapan tekstur pada MPASI.
Banyak faktor yang menyebabkan speech delay pada anak, kekurangan latihan otot oral juga menjadi salah satunya.
Selamat berjuang parents!

