Jumat, 27 Mei 2022

Ada Apa Dengan Gigi Jani


Sebenarnya judulnya sungguh tidak menarik🤣. Kalau dijadikan film gak bakal jadi box office. 


Tapi aku menulis ini bukan tanpa tujuan.

Tujuan yang pertama adalah menerima kesalahanku di masa lalu. Iya, aku memang punya peranan penting dalam mengurus anak-anak, jadi aku gak menampik bahwa yang membuat gigi Jani seperti sekarang adalah kesalahanku. Aku tadinya tidak pernah mau tunjukkan gigi jani ke publik/sosmed karena aku sendiri malu. Jani juga tadinya terlihat malu bila ada yang bertanya tentang giginya, tapi beberapa saat lalu aku melihat ada perubahan pada Jani! Jadi kalau ada yang tanya giginya kenapa, dia bukan lagi menutupi, tapi malah makin nyengir dipamerin ke orang tersebut. Hahaha.

Ketika aku lihat Jani sudah tidak insecure, maka aku harus mulai membuka diri juga.


Kedua, tujuannya adalah sebagai warning buat orang tua lain, sehingga tidak ada lagi yang melakukan kesalahan yang sama sepertiku.


Sejak tumbuh gigi, Jani sangat tidak nyaman bila disikat giginya. Semakin lama semakin berontak dan nangis sejadi-jadinya kalau dipaksa gosok gigi. Kalau udah begitu akunya yang gak tegaan ini menyerah, ‘kalau gak mau yaudah’. Tapi jangan salah, segala provokasi dulu udah dilakukan, mulai dari belikan sikat gigi yang bagus, menarik, terus disetelin video sikat gigi mulai dari cocomelon, duggee, dll tentang kegiatan sikat gigi, sampai diajak sikat gigi bareng mamanya sambil nyanyi-nyanyi, tetap gagal!


Kemudian terjadilah, saat Jani harus dirawat inap selama 7 hari penuh di RS karena rotavirus. Bayangin aja anak sakit, lihat perawat nangis, dikasih obat pun nangis berontak. Waktu itu aku ingat banget, salah satu obat Jani seperti susu bubuk yang dikasih air sedikit sehingga bertekstur seperti bubur kental, lebih tepatnya mirip lulur mandi yang ada scrubnya. Selama 7 hari itulah jani teratur minum obat tersebut tapi tanpa sikat gigi, sudah pasti di giginya menempel banyak sisa obat lulurnya tadi. Aku sempat berusaha memaksa dia sikat gigi, tapi nangisnya sama lagi seperti sebelum-sebelumnya. Dan aku semakin gak tega karena dia sedang sakit saat itu.


Sejak itulah di gigi Jani terbentuk karies di pangkal gigi depannya (karena dia waktu itu cuma punya 4 gigi depan). Dari waktu ke waktu, bertumbuh giginya, karies nya makin turun sehingga rapuh dan mudah patah. Berujung seperti sekarang giginya sudah patah dan menghitam. Kata dokter gigi, solusinya cuma bisa nunggu gigi barunya tumbuh😅.


Apa yang bisa dipetik dari pengalaman Jani? Masih ingat kan cerita Jani speech delay? 

Ternyata salah satu tanda speech delay itu adalah kurang matangnya organ oral. Sikat gigi sebenarnya bisa merangsang otot oral anak. Tapi karena Jani tidak mendapatkan rangsangan tersebut, maka mundurlah kemampuan bicara dia.

Salah satu tandanya lagi adalah kesulitan makan/ GTM/ sudah diajak makan. Makanan dengan berbagai tekstur dipercaya berguna untuk merangsang oral anak. Makanya proses belajar makan itu tidak boleh disepelekan, selain untuk pemenuhan nutrisi, tahapan pengenalan tekstur pada MPASI anak wajib dipatuhi dan diperhatikan.

Jangan sampai besar cuma makan bubur saring terus menerus, atau dari 6 bulan selalu diberi tekstur fingerfood (yang cenderung keras).

Aku dulu salah, dari 6 bulan terlalu sering memberi finger food (pengen BLW banget gitu) mungkin Jani belum siap sehingga selanjutnya dia merasa malas makan. Ini spekulasiku dari evaluasi pribadi, karena Jani belum bisa ngomong.

Malas makan = GTM = kekurangan latihan oral = kemunduran kemampuan bicara.


Mengenai tahapan tekstur, sudah banyak artikelnya ya, parents bisa mencari informasi terkait ini di banyak sumber.


Pembelajaran buat parents dari kesalahanku dapat disimpulkan: 

1. Jangan lewatkan agenda gosok gigi. Harus tega, harus lebih pintar cari cara, jangan manjain anak sepertiku.

2. Jangan lewatkan tahapan tekstur pada MPASI.

Banyak faktor yang menyebabkan speech delay pada anak, kekurangan latihan otot oral juga menjadi salah satunya.


Selamat berjuang parents!

Rabu, 30 Maret 2022

Kisah Dilema Ibu Rumah Tangga yang Ingin Bekerja

 Sebelum benar-benar memutuskan menjalani profesi sebagai fulltime housewife alias ibu rumah tangga, saya juga sempat mengalami dilema.

Keinginan untuk bisa aktualisasi di luar rumah, memiliki karir dan menghasilkan uang sendiri memang masih besar saat itu di tambah rasa bosan dan merasa tak banyak berarti karena yang dilakukan hanya itu-itu saja, apalagi pemikiran bahwa yang dilakukan hanya pekerjaan kasar, tanpa gelar sarjana, siapapun mudah melakukannya (menyapu, mencuci, menyetrika dll).

Tapi saya lupa memikirkan prioritasnya menjadi ibu rumah tangga, yaitu mengasuh anak.

Ada idealisme bahwa saya ingin menjadi yang pertama dicari oleh anak saya disaat kapanpun dia membutuhkan seseorang. Misal ketika dia sedih dan sakit karena jatuh, saat dia terbangun dari tidur karena mimpi buruk, atau saat dia bahagia karena mendapatkan pencapaian di sekolah. Saya ingin jadi yang pertama tahu atas segala perjalanan tumbuh kembangnya.

Jakarta, tempat saya tinggal, bukanlah kota yang ideal untuk mengharapkan segala sesuatunya tepat waktu. Bila saya bekerja dengan jam kerja pukul 8 pagi - 5 sore katakanlah berangkat jam 6 pagi, sampai rumah mungkin jam 7 malam. Keruwetan jakarta tak memungkinkan siapapun untuk sampai rumah pukul 5 sore. Paling cepat juga magrib.

Gimana rasanya lelah setelah pulang bekerja, apakah saya sanggup menghadapi anak dengan tenang dan benar-benar 'hadir' untuk mereka? Belum juga untuk suami saya, dan diri saya sendiri? Saya kan juga butuh istirahat dan me time. Apakah saya sanggup menjalaninya?

Setelah menikah, suatu hari saya menemui dosen pembimbing skripsi saya dulu. Alhamdulillah, kami memang punya hubungan baik, bahkan bagi saya beliau bukan cuma asik untuk menjadi tempat diskusi mengenai skripsi saja, tapi semua topik kehidupan. Beliau sangat open minded, karena pernah tinggal di luar negeri, tapi tetap dalam border ke-Islam-an yang kuat. Bukan tanpa sebab saya ingin menemuinya, saat itu saya ingin minta surat rekomendasi untuk melanjutkan studi S2 supaya suatu saat bisa jadi dosen. Tapi alih-alih kuliah lagi, saya berubah pikiran setelah bertemu dengan beliau.

Saya bilang, saya dilema. Saya ingin melakukan hal lain di luar urusan rumah tangga dan mengurus anak. Begitu kira-kira inti yang saya sampaikan. Lalu beliau menamparku dengan nasehatnya. Begini kira-kira, "Seorang ibu di akhirat nanti bukan ditanya bagaimana tanggung jawabmu terhadap bosmu? Tapi bagaimana tanggung jawabmu terhadap anak-anakmu, suamimu?"

"Yang ditanya adalah apa yang sudah kamu lakukan untuk anak-anakmu, apakah kamu ada di saat mereka membutuhkanmu?"

Saya tahu beliau benar, tapi saya masih juga mencari pembenaran.

"Tapi pak, Saya ingin membantu suami saya mencari nafkah, agar saya bisa memastikan hidup keluarga saya cukup." "Rezeki sudah Allah yang mengatur. Saat kamu berpikir besok kamu gak bisa makan, itu sama saja dengan kamu menyangsikan kebesaran Allah, menyepelekan Allah. Setiap anak sudah membawa rejekinya masing-masing. Jadi jangan takut kekurangan dan jangan sampai kamu mengutamakan hal lain selain tanggung jawabmu terhadap anak-anak."

Tak terasa, mataku panas dan berair, tapi tertahan karena sungkan.

Kata-kata beliau bahkan begitu tertanam hingga sekarang, bahkan kuulang ketika mama dan ibu mertua yang pada saat itu masih sering bertanya atau bahkan secara tak sadar menyuruh saya untuk bekerja lagi. Hingga saya bertemu dosen saya tadi, saya jadi punya argumen yang sangat kuat untuk memantapkan diri menjawab tidak, tidak untuk kembali bekerja. Setidaknya sampai suatu saat, ada lagi godaan pekerjaan impian.

Ketika Juno berusia sekitar 3 tahun, ada sebuah lowongan 'asisten trainer'  rasanya jiwaku terpanggil. "Ini aku banget." Sampai akhirnya aku melamar pekerjaan tersebut, karena aku pikir Juno sudah cukup mandiri dan bisa diajak berkomunikasi, jadi cukup aman untuk ditinggal bekerja dan dititipkan di day care.

Melalui seleksi administratif, psikotes, lalu sampailah pada wawancara. Saat itu aku baru diberitahu bahwa trainer ini (yang akan ku asisteni kalau diterima)adalah trainer psikolog yang cukup kondang, sering tampil di televisi nasional dan pembicara di seluruh Indonesia (inisialnya ER). Bila aku diterima, maka harus menerima resiko tidak pulang karena harus terus mendampingi beliau keluar kota atau mempersiapkan segala hal berkaitan dengan presentasinya. 

Interviewerku saat itu adalah rekan beliau, beliau kaget saat kubilang aku sudah memiliki anak. Singkat cerita, kondisi yang seharusnya adalah wawancara kerja beralih menjadi sesi terapi psikologis.

Aku menangis sejadi-jadinya saat beliau bilang "Juno jauh lebih membutuhkanmu, dibandingkan kami." Nolak halus sih, tapi maknanya dalam. "Masa kecil anak-anak tidak akan bisa terulang. Aktualisasikan diri sebaik mungkin saja di rumah."

Beliau juga bilang bahwa aku tak sendiri, banyak ibu di luar sana yang bergelar sarjana, bahkan tak sedikit yang menjadi master/ magister tapi memilih untuk berkarir di rumah.

Kalau ada yang tanya, waktu aku tes Juno sama siapa, Juno aku titipin sama tetangga. Ujung-ujungnya sama tetangga juga dinasehatin. "Mbak kalau kerja selain habis waktu, tenaga, sebenarnya uangnya juga paling cuma sisa sedikit karena habis buat transport, buat makan siang, buat beli baju kerja, peralatan make up, kan kalau kerja itu harus dandan juga. Belum kalau kumpul sama teman-teman. Terus untuk bayar penitipan anak/ sewa baby sitter. Sisanya berapa? Mending di rumah aja sama anak-anak. Hati tenang, anak-anak terawat dengan baik sama ibunya sendiri."

Ealah, Gusti Allah pancen belum meridhoi simbok kerja lagi le, buat ngurusin kamu pakai yg cinta. Galak sitik gak papa ya le, pancen simbokmu masih ajar sabar.


(Disadur dari caption Instagram pribadi pada 1-3 Januari 2019)