Sms kuterima, dengan lugas Laki2 itu bertanya, “masih kah kamu sayang dan cinta padaku?”
Aku balas, “Sayang sedikit, tapi tak cinta, karena cintaku hanya untuk laki2 yang akan menjadi suamiku kelak.”
Lama handphoneku tak berdering tanda menerima pesan, menunggu respon yg diberikan darinya. Kemudian, ada pesan masuk.. “kenapa harus pakai kata sedikit sih?”
Bukankah rasa sayang itu bagian dari afeksi, emosi atau perasaan seseorang?! Bagiku perasaan tidak bisa dinilai secara kuantitatif. Tidak bisa dihitung dengan rumus statistic atau kalkulus. Sedikit bagi seseorang bisa berarti banyak bagi orang lain. Relative. Unacountable .
Heran saya bila ada seseorang yang dapat mengumpamakan bahwa cintanya pada seseorang sedalam samudera, setinggi langit, sebesar dunia, atau apapun itu. Siapa sih yang bisa membuktikan itu?
Bila kita berbicara dengan kualitas, maka tak perlu obral kata2, cukup dengan perbuatan, yang semestinya orang bisa paham dgn itu.
Sedikit yang aku maksudkan setelah kata sayang, kunilai sebagai bentuk kualitatif, yang artinya aku tak ingin sayangku padanya dianggap berlebihan, kemudian berkorelasi akan ketergantungan, ketakutan akan perpisahan.
Aku tidak tidak akan SELEMAH itu, hanya karena rasa sayangku untuk seseorang belum tentu menjadi bagian dalam kehidupanku kelak.

