Kulit sawo matang mengkilat, rambut kering sebahu tak terikat seraya berayun mengikuti angin yang berhembus berlawan dengan langkahnya..
Gigi kuning rapi tertata, nampak jelas saat ia ingin menyapa tetangga-tetangganya, bukan dengan kata-kata,, hanya nyengir kuda dengan sedikit anggukan kepala..
Ia adalah Si Kaki Ketela..
Telapak kakinya sudah tak seindah perempuan seusianya..
Kapalan, pecah-pecah, gosong, dan hitam-hitam kotoran di ujung kuku kakinya..
Tapi jangan menilainya terlalu singkat dari penampilannya saja..
Dia tangguh,
Dia biasa melakukan pekerjaan laki-laki.. tak sungkan dia membantu ayahnya mengusung-usung kursi di balai desa saat akan diadakan pertemuan yang membahas tentang bantuan pupuk dari koperasi daerah..
Dia sopan..
Dia tidak pernah menunjukkan betisnya.. bukan karena kakinya banyak bekas luka dan sebesar pemain sepak bola.. tapi karena ia tahu, pemuda di kampungnya begitu ‘ganas’ saat melihat kaki-kaki kawan perempuannya terbuka hingga paha.. kata teman-teman perempuannya sih, sekarang sedang zaman yang namanya hot pen (bukan hot pants).. jadi wajar bila mereka ingin terlihat fashionable.. padahal mereka tinggal di desa. Mau mereka nampak modern, tapi lupa kalau lingkungan sekitarnya masih katrok. Mungkin juga lupa, klo kodratnya laki2 itu suka kalap melihat tubuh perempuan yang terbuka.
Dia murah senyum..
Bapak penjual cendol yang lewat depan rumahnya pun diberikan senyum.. senyumannya mautt.. bahkan tukang parkir toko klontong di pasar saja rela tidak dibayar atas jasa menjagakan sepedanya :D
Dia ramah terhadap siapapun..
Ibunya suka heran kalau Si Kaki Ketela, membawa teman untuk berkunjung ke rumahnya. Begitu ibunya tanya, “sampeyan temannya Fifa? “
Orang yang ditanya biasanya menjawab panjang lebar. Salah satunya ini contoh jawaban Jimi: “Iya, saya kebetulan saya kenal Fifa. Saya itu temannya Sodikin, ponakan dari kakak iparnya temennya adik kelas Lilis.”
“Lilis itu siapa?” tanya Ibu Fifa.
Lalu Jimi menjawab: Lilis itu sepupu Slamet, yang punya kakak namanya Gogon.. nah Gogon itu anaknya kakak ibu saya yang nikah sama anaknya Pak Petruk , yang ternyata temenan juga sama teman saya. Sedangkan Sodikin itu kan teman sekelas Fifa.”
“Hah?” Ibunya melongo.. Gak mudeng dengan koneksi yang begitu ribet.
Dia menjadi kebanggaan…
Nama aslinya Si Kaki Ketela adalah
Afifah Fakhirah Shakila, yang artinya perempuan yang punya harga diri dan menjadi kebanggaan. Fifa adalah nama panggilannya, jadi nama itu berasal bukan karena dia suka bola, dan punya betis seperti pemain sepak bola.
Bapaknya yang kasih nama, dapat dari buku kumpulan nama-nama bayi yang dipinjemnya dari Ibu-ibu yang datang ke kantor kelurahan untuk mengurus akte kelahiran.
Bapak Fifa bekerja sebagai perangkat desa bagian administrasi di kantor Kelurahan.
Gak naik2 pangkat meski sudah 25 tahun kerja, karena bapaknya hanya lulusan SD. Tapi jangan tanya tentang pengabdiannya terhadap Negara.
“Jadi PNS itu tanggung jawabnya gedhe nak, jangan dianggep remeh ya. Bapak digaji sama pemerintah, pemerintah dapet duit dari rakyat, jadi mesti bapak balikkan ke rakyat dengan sebaik-baiknya. Kalau bapak kerja seenaknya, kerja malas-malasan, dosanya sama rakyat seIndonesia.” bilang Bapak Fifa.
Fifa jadi paham dengan tanggung jawab berkat bapaknya.
Dia jadi doyan belajar karena ia merasa belajar adalah tanggung jawabnya sebagai siswa, bukan karena terpaksa atau cari nilai saja. Tak heran bila dia selalu dapat rangking pertama di kelasnya.
Fifa adalah anak perempuan ke 5 dari 5 bersaudara yang perempuan semua. Kakak yang pertama MBA alias Married By Accident di usia 15 tahun! Diwaktu yang bersamaan ibunya lagi hamil Fifa 3 bulan. Jadi sewaktu Fifa lahir, dia sudah harus siap dipanggil tante!
Bisa dibayangkan betapa berat yang telah di tempuh bapak ibu Fifa. Keempat kakak Fifa lainnya nggak mau lanjutin sekolah setamat SMP. Tapi Fifa punya cita-cita sekolah sampai Cina! … (to be continued)