Bagi
teman yang belum menikah mungkin merasakan iri terhadap teman-teman yang sudah
menikah. Daripada mikir pengen cepet-cepet nikah, mending cari dulu deh
pasangan yang sesuai. Sesuai untukmu dan
sesuai untuk diajak berumah tangga.
Tahu kan kisahnya Ayu Ting Ting? Pernikahannya belum
sampai usia jagung sudah diguncang prahara #etdahh. Padahal sebelumnya sudah pacaran berapa
tahun tuh? Mesranya dulu kayak apa tuh?
Pembelajaran bahwa sebenarnya pacaran bukanlah latihan pernikahan. Berlama-lama pacaran bukan jaminan
pernikahan bakal langgeng dan berjalan baik-baik saja. Kebanyakan saat
pacaran orang itu menggunakan topeng. Saat menikah barulah kelihatan aslinya.
Yang dulu bisa kelihatan cantik/ganteng dan wangi tiap kali ketemu, sekarang
gak bisa menghindar lagi waktu bangun tidur ternyata ada bekas iler yang
mengering di pipi, wkwkwkw..
Memilih pasangan menjadi salah satu dalam
persiapan pernikahan, melengkapi tulisan saya sebelumnya tentang persiapan menikah,
berikut mungkin bisa dijadikan membantu teman-teman dalam memilih pasangan diluar pakem bibit, bebet, bobot:
Lihat Karakternya
Sesuaikan
dengan karaktermu, kalau bisa sih yang berlawanan. Semisal kamu dominan cari yang penurut, kamu
tempramen cari yang penyabar, kamu suka ngomong cari yang suka dengerin. Kalau
karakternya mirip, kecenderungannya bakal sering berantem karena gak ada yang
mau mengerti atau mengalah.
Lihat Kebiasaannya
Pasangan suka bangun siang? Pasangan
perokok? Pasangan suka keluar malam? Well ketahuilah kebiasaan-kebiasaan ini
sedini mungkin, lalu bila tidak cocok dengan harapanmu coba kompromikan. Ini
baik dilakukan sebelum menikah. Kalau dirasa ada kebiasaan buruk yang perlu
dirubah namun calon pasangan tidak ada keinginan merubah kebiasaaan tersebut,
ada dua hal
yang bisa dilakukan. Satu terima kebiasaan tersebut, kedua tinggalkan calon
pasanganmu. Kenapa penting dibicarakan, karena hal ini bisa jadi pemicu
pertengkaran nantinya. Kalau gak ada kesadaran atau niatan mau berubah ya
susaaahh, jangan berharap banyak kita bisa jadi sosok pahlawan yang mampu
merubah orang jadi lebih baik, hal ini harus berasal dari diri sendiri.
Lihat Pergaulannya
Seorang preman teman-temannya ya preman,
begitu kira-kira mudahnya melihat pentingnya faktor ini. Seorang yang memiliki
pergaulan yang baik, Insyaallah pribadinya juga baik. Jadi gak ada salahnya tanyakan
tentang teman-temannya, pekerjaan mereka apa, kalau berkumpul seringnya di
mana, kalau perlu minta dikenalkan.
Lihat Media Sosialnya
Sekarang lebih mudah untuk mencari tahu tentang
seseorang, browsing aja. Lihat media
sosialnya, bagaimana bahasanya dalam menulis status, tweet, atau komentar. Apa
yang sering diposting? Nah dari sini bisa ketahuan banyak: hobi, sikapnya
terhadap sesuatu, opininya, bahkan karakternya. Orang yang sering menuliskan
kata-kata kasar berarti cenderung agresif. Suka tweetpic foto-foto diri sendiri berarti narsis. Tapi tetep ya gak
bisa menyimpulkan seseorang hanya dari media sosialnya ya, coba dikonfirmasi
langsung dengan orang yang bersangkutan.
Tanyakan Keinginannya tentang Sosok Istri/Suami
Ini perlu supaya gak kaget saat nanti memulai
berumah tangga. Kalau calon pasangan suka istri yang bisa masak, berarti harus
belajar masak dari sekarang. Kalau calon pasangan suka suami yang bisa bantuin
pekerjaan rumah tangga ya harus siap, jadi besok gak perlu diminta sudah terjun
langsung. Jawaban dari pertanyaan ini bisa luas banget sih, bisa juga berkaitan
dengan perlu atau tidak istri bekerja membantu suami atau full mengurus rumah
tangga. Pembagian peran ini bisa dibicarakan sebelum menikah, supaya gak kaget
nantinya. Perencanaan ke depan lainnya juga bisa digali seperti di mana akan
tinggal, dll.
Tanyakan Berapa Besar Nominal Ditabungannya
Ini optional ya, karena masih beberapa
orang menganggapnya pertanyaan tabu. Tapi sebenarnya perlu tahu, jadi kalau mau
Tanya pinter-pinter cari momen yang pas, bukannya mau ngajarin matrek ya.
Menurutku sih ini gambaran gaya hidup dia. Let
me explain.. Semakin besar saving-nya (bisa jadi dalam bentuk tabungan,
deposito atau investasi lainnya) berarti semakin dia berorientasi ke masa
depan. Ukuran skalanya berapa lama dia udah bekerja. Jadi contohnya nih, si
calon sudah bekerja selama 2 tahun, itung aja kira-kira dengan jumlah gaji,
minimal (ini saya, tiap orang bisa punya batas minimal masing-masing) 30%
adalah bentuk tabungannya. Nah kalau ternyata tabungannya dibawah batas minimal
tersebut, berarti si calon punya lifestyle
yang berlebihan. Tengok lagi accessories-nya,
gadget-nya, kendaraannya. Menurut penilaian kalian wajar gak? Cocok gak dengan
diri kalian sendiri? Karena nih karena.. gaya hidup seseorang itu susah
dirubah. Perilaku konsumtif pasangan yang berlebihan bisa merusak rencana
pembangunan financial ke depan.
Pikirkan biaya sekolah anak yang semakin besar, dan kebutuhan-kebutuhan masa
depan yang lain. So, kalau dilihat kurang, coba kompromikan, kira-kira si dia
bisa gak ya lebih aware dan preparing the future?
Tanyakan Kesiapannya Memiliki Anak
Penting ini, jangan sampai kebobolan kalau
ternyata salah satu dari calon bapak/ibu belum siap. Karena ngurus anak itu gak bisa sendirian dan gak bisa digantikan.
Tidak bisa ditolak dan dimundurkan. Missal nih sangking capeknya ngurus anak,
gak bisa donk bilang ke anak “dek kamu masuk aja lagi gih ke dalem perut, ibu
mau istirahat” haha. It’s truly need a
big responsibility. Satu anak aja, tanggung jawab yang ditanggung ya sampai
dia besar sebesar kamu sekarang, bahkan bisa lebih. Calon ibu harus bisa
sepenuh hati ngurusin anak, calon bapak harus dukung istri secara emosional dan giat mencari
nafkah.
Lihat Pengorbanannya untuk Menikahimu
Dari pengorbanan inilah kita bisa melihat
kesungguhannya. Hari gini jangan sampai jadi korban PHP (pemberi harapan palsu)
ya. Kalau si calon serius, pasti udah ngenalin kamu ke keluarga dan rela
melakukan apa aja buat bisa mendapatkan hati calon keluarganya juga. Menurut saya sih penting ya untuk merasa
diinginkan. Pengorbanan ini nantinya bisa
bikin kalian bertahan saat mungkin badai menerpa #eaa. Saat lagi jenuh sama
rutinitas, saat lagi berantem, saat emosi sedang dipucuk, perjalanan cinta
kalian bisa jadi penawar yang menyejukkan. *Suami
saya menang di point ini =)
Dan yang Terpenting Lihat Ibadahnya
Kalau si calon berani meninggalkan
kewajibannya sama Allah, gimana sama kita? Do
not offense deh kalau masalah ini, gak perlu berkata-kata lebih lagi pasti
udah pada ngerti. Setuju?! Sip
Dari saya mungkin segini aja hal-hal yang
krusial untuk diketahui saat memilih pasangan untuk diajak menikah. Saya bisa
nulis gini bukan karena saya punya pasangan yang ideal, bisa jadi pasangan saya
tidak memenuhi semua kriteria, tapi justru dari sanalah saya bisa berbagi
melalui tulisan ini. Saya jadi ingat perkataan seseorang, ”tidak ada pernikahan
yang gagal, yang ada hanyalah salah memilih pasangan hidup (na’udzubillah).” Wajar ada
yang bilang gitu, karena sekali kita nikah kan pengennya bertahan sampai seumur
hidup. Kalau sampai kita salah memilih pasangan, hidup kita jadi korbannya. So please hati-hati ya..
Belajar lagi dari kasus selebriti, Eddies
Adelia, yang belakangan suaminya ditahan polisi karena kasus penipuan. Artis
lain juga banyak, Septi istinya Ahmad Fathonah, Kristina Dangdut, Ussy
Sulistyowati sama mantan suaminya, dll. Hal ini sebenarnya gak perlu terjadi
kalau dari awal sudah mencari tahu seluk beluk pasangannya dan tidak dibutakan
pada suatu hal aja (harta, dan tahta). Ya kan?
Buat yang belum dapet jodohnya sampai
sekarang, mungkin tulisan saya ini juga bisa jadi bahan introspeksi untuk
memantaskan diri. Terus berjuang yaa kawan. Doakan keluarga kecil saya bersama
suami bisa langgeng, sakinah, mawadah, warohmah ya.. Semoga kita semua
mendapatkan yang terbaik. Aamiin.

