Minggu, 10 November 2013

Memilih Pasangan


Bagi teman yang belum menikah mungkin merasakan iri terhadap teman-teman yang sudah menikah. Daripada mikir pengen cepet-cepet nikah, mending cari dulu deh pasangan yang sesuai. Sesuai untukmu dan sesuai untuk diajak berumah tangga.

Tahu kan kisahnya Ayu Ting Ting? Pernikahannya belum sampai usia jagung sudah diguncang prahara #etdahh. Padahal sebelumnya sudah pacaran berapa tahun tuh? Mesranya dulu kayak apa tuh?
Pembelajaran bahwa sebenarnya pacaran bukanlah latihan pernikahan. Berlama-lama pacaran bukan jaminan pernikahan bakal langgeng dan berjalan baik-baik saja. Kebanyakan saat pacaran orang itu menggunakan topeng. Saat menikah barulah kelihatan aslinya. Yang dulu bisa kelihatan cantik/ganteng dan wangi tiap kali ketemu, sekarang gak bisa menghindar lagi waktu bangun tidur ternyata ada bekas iler yang mengering di pipi, wkwkwkw..

Memilih pasangan menjadi salah satu dalam persiapan pernikahan, melengkapi tulisan saya sebelumnya tentang persiapan menikah, berikut mungkin bisa dijadikan membantu teman-teman dalam memilih pasangan diluar pakem bibit, bebet, bobot:

Lihat Karakternya
Sesuaikan  dengan karaktermu, kalau bisa sih yang berlawanan. Semisal  kamu dominan cari yang penurut, kamu tempramen cari yang penyabar, kamu suka ngomong cari yang suka dengerin. Kalau karakternya mirip, kecenderungannya bakal sering berantem karena gak ada yang mau mengerti atau mengalah. 

Lihat Kebiasaannya
Pasangan suka bangun siang? Pasangan perokok? Pasangan suka keluar malam? Well ketahuilah kebiasaan-kebiasaan ini sedini mungkin, lalu bila tidak cocok dengan harapanmu coba kompromikan. Ini baik dilakukan sebelum menikah. Kalau dirasa ada kebiasaan buruk yang perlu dirubah namun calon pasangan tidak ada keinginan merubah kebiasaaan tersebut, ada dua hal yang bisa dilakukan. Satu terima kebiasaan tersebut, kedua tinggalkan calon pasanganmu. Kenapa penting dibicarakan, karena hal ini bisa jadi pemicu pertengkaran nantinya. Kalau gak ada kesadaran atau niatan mau berubah ya susaaahh, jangan berharap banyak kita bisa jadi sosok pahlawan yang mampu merubah orang jadi lebih baik, hal ini harus berasal dari diri sendiri.

Lihat Pergaulannya
Seorang preman teman-temannya ya preman, begitu kira-kira mudahnya melihat pentingnya faktor ini. Seorang yang memiliki pergaulan yang baik, Insyaallah pribadinya juga baik. Jadi gak ada salahnya tanyakan tentang teman-temannya, pekerjaan mereka apa, kalau berkumpul seringnya di mana, kalau perlu minta dikenalkan. 

Lihat Media Sosialnya
Sekarang lebih mudah untuk mencari tahu tentang seseorang, browsing aja. Lihat media sosialnya, bagaimana bahasanya dalam menulis status, tweet, atau komentar. Apa yang sering diposting? Nah dari sini bisa ketahuan banyak: hobi, sikapnya terhadap sesuatu, opininya, bahkan karakternya. Orang yang sering menuliskan kata-kata kasar berarti cenderung agresif. Suka tweetpic foto-foto diri sendiri berarti narsis. Tapi tetep ya gak bisa menyimpulkan seseorang hanya dari media sosialnya ya, coba dikonfirmasi langsung dengan orang yang bersangkutan.

Tanyakan Keinginannya tentang Sosok Istri/Suami
Ini perlu supaya gak kaget saat nanti memulai berumah tangga. Kalau calon pasangan suka istri yang bisa masak, berarti harus belajar masak dari sekarang. Kalau calon pasangan suka suami yang bisa bantuin pekerjaan rumah tangga ya harus siap, jadi besok gak perlu diminta sudah terjun langsung. Jawaban dari pertanyaan ini bisa luas banget sih, bisa juga berkaitan dengan perlu atau tidak istri bekerja membantu suami atau full mengurus rumah tangga. Pembagian peran ini bisa dibicarakan sebelum menikah, supaya gak kaget nantinya. Perencanaan ke depan lainnya juga bisa digali seperti di mana akan tinggal, dll.

Tanyakan Berapa Besar Nominal Ditabungannya
Ini optional ya, karena masih beberapa orang menganggapnya pertanyaan tabu. Tapi sebenarnya perlu tahu, jadi kalau mau Tanya pinter-pinter cari momen yang pas, bukannya mau ngajarin matrek ya. Menurutku sih ini gambaran gaya hidup dia. Let me explain.. Semakin besar saving-nya (bisa jadi dalam bentuk tabungan, deposito atau investasi lainnya) berarti semakin dia berorientasi ke masa depan. Ukuran skalanya berapa lama dia udah bekerja. Jadi contohnya nih, si calon sudah bekerja selama 2 tahun, itung aja kira-kira dengan jumlah gaji, minimal (ini saya, tiap orang bisa punya batas minimal masing-masing) 30% adalah bentuk tabungannya. Nah kalau ternyata tabungannya dibawah batas minimal tersebut, berarti si calon punya lifestyle yang berlebihan. Tengok lagi accessories-nya, gadget-nya, kendaraannya. Menurut penilaian kalian wajar gak? Cocok gak dengan diri kalian sendiri? Karena nih karena.. gaya hidup seseorang itu susah dirubah. Perilaku konsumtif pasangan yang berlebihan bisa merusak rencana pembangunan financial ke depan. Pikirkan biaya sekolah anak yang semakin besar, dan kebutuhan-kebutuhan masa depan yang lain. So, kalau dilihat kurang, coba kompromikan, kira-kira si dia bisa gak ya lebih aware dan preparing the future?

Tanyakan Kesiapannya Memiliki Anak
Penting ini, jangan sampai kebobolan kalau ternyata salah satu dari calon bapak/ibu belum siap. Karena ngurus anak itu gak bisa sendirian dan gak bisa digantikan. Tidak bisa ditolak dan dimundurkan. Missal nih sangking capeknya ngurus anak, gak bisa donk bilang ke anak “dek kamu masuk aja lagi gih ke dalem perut, ibu mau istirahat” haha. It’s truly need a big responsibility. Satu anak aja, tanggung jawab yang ditanggung ya sampai dia besar sebesar kamu sekarang, bahkan bisa lebih. Calon ibu harus bisa sepenuh hati ngurusin anak, calon bapak harus dukung istri secara emosional dan giat mencari nafkah.

Lihat Pengorbanannya untuk Menikahimu
Dari pengorbanan inilah kita bisa melihat kesungguhannya. Hari gini jangan sampai jadi korban PHP (pemberi harapan palsu) ya. Kalau si calon serius, pasti udah ngenalin kamu ke keluarga dan rela melakukan apa aja buat bisa mendapatkan hati calon keluarganya juga.  Menurut saya sih penting ya untuk merasa diinginkan. Pengorbanan ini  nantinya bisa bikin kalian bertahan saat mungkin badai menerpa #eaa. Saat lagi jenuh sama rutinitas, saat lagi berantem, saat emosi sedang dipucuk, perjalanan cinta kalian bisa jadi penawar yang menyejukkan. *Suami saya menang di point ini =)

Dan yang Terpenting Lihat Ibadahnya
Kalau si calon berani meninggalkan kewajibannya sama Allah, gimana sama kita? Do not offense deh kalau masalah ini, gak perlu berkata-kata lebih lagi pasti udah pada ngerti. Setuju?! Sip

Dari saya mungkin segini aja hal-hal yang krusial untuk diketahui saat memilih pasangan untuk diajak menikah. Saya bisa nulis gini bukan karena saya punya pasangan yang ideal, bisa jadi pasangan saya tidak memenuhi semua kriteria, tapi justru dari sanalah saya bisa berbagi melalui tulisan ini. Saya jadi ingat perkataan seseorang, ”tidak ada pernikahan yang gagal, yang ada hanyalah salah memilih pasangan hidup (na’udzubillah).” Wajar ada yang bilang gitu, karena sekali kita nikah kan pengennya bertahan sampai seumur hidup. Kalau sampai kita salah memilih pasangan, hidup kita jadi korbannya. So please hati-hati ya..
Belajar lagi dari kasus selebriti, Eddies Adelia, yang belakangan suaminya ditahan polisi karena kasus penipuan. Artis lain juga banyak, Septi istinya Ahmad Fathonah, Kristina Dangdut, Ussy Sulistyowati sama mantan suaminya, dll. Hal ini sebenarnya gak perlu terjadi kalau dari awal sudah mencari tahu seluk beluk pasangannya dan tidak dibutakan pada suatu hal aja (harta, dan tahta). Ya kan?

Buat yang belum dapet jodohnya sampai sekarang, mungkin tulisan saya ini juga bisa jadi bahan introspeksi untuk memantaskan diri. Terus berjuang yaa kawan. Doakan keluarga kecil saya bersama suami bisa langgeng, sakinah, mawadah, warohmah ya.. Semoga kita semua mendapatkan yang terbaik. Aamiin.

Siap Menikah?


Banyak orang yang belum menikah berandai-andai tentang indahnya menikah. Yang udah punya pacar gak sabar dilamar, yang jomblo galau karena boro-boro cepet nikah, punya pacar aja susah. Gitu ya? Hehe. Padahal bagi yang sudah menjalani pernikahan, ternyata gak seindah apa yang dibayangkan dulu lho. Contohnya ya saya sendiri. Menikah bukan sekedar menghalalkan yang haram. Bukan sekedar rasa senang karena tak terpisahkan lagi dengan yang tersayang. Tapi jauh lebih kompleks dari itu. Saya menuliskan ini bukan karena mengeluhkan tentang pernikahan saya, tapi menjawab beberapa keingintahuan teman-teman saya dan semoga membuat mereka bersiap diri untuk ‘menerima kenyataan’ nantinya yang akan dihadapi juga.

Siapkah kamu merubah kebiasaan?
Dulu saat single, kamu bisa saja melakukan apa saja yang penting ‘aku senang’. Saat menikah tidak bisa lagi seperti itu. Perbuatanmu akan berhubungan dengan pasanganmu. Yang dulu senang pulang malam, pasanganmu belum tentu senang. Yang dulu suka bangun siang, pasanganmu bisa saja merasa dirugikan dan marah-marah. Kebiasaan memang perlu dirubah, apalagi yang jelas tidak ada manfaatnya. Percayalah, perubahanmu nantinya sebenarnya bukan Cuma sekedar untuk kebaikanmu, tapi menjadi kebaikan bersama. Intinya sikap yang diperlukan adalah: sadar diri dan mau berubah.

Siapkah kamu menomerduakan urusan-urusanmu?
Hal ini berkaitan dengan orientasi/prioritas. Rumah tangga itu gak bisa bertahan kalau masih ada yang bersikap egois. Well kalau masih ada, berarti pasangannya super duper sabar, tapi namanya manusia ya punya batas, gak bisa berharap bakal punya pasangan yang mau serba ngertiin kita. Kepentingan rumah tangga itu harus dicapai bersama.
 Misalnya berhubungan dengan keuangan, dulu gajimu bisa kamu gunakan untuk belanja keperluan sendiri, dan ketika sudah menikah akan muncul kebutuhan-kebutuhan rumah tangga seperti perabot, sewa tempat tinggal yang lebih besar, listrik, air dll. Terutama bagi pria yang memiliki istri yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, penghasilan sendiri harus bisa diatur cukup untuk berdua. Belum lagi kalau akan / sudah memiliki anak, berlipat lagi kebutuhannya. Dan ingat masalah keuangan ini krusial banget. Harus disadari bahwa kebutuhan itu bukan hanya untuk hari ini tapi juga untuk masa depan. Sehingga uang yang dimiliki saat ini gak boleh dihabiskan untuk sekedar memenuhi keinginan. Keinginan tu gak ada habisnya bro and sis! Bersikap bijaklah, jauhkan sikap egois semasa single, prioritaskan berdasarkan KEBUTUHAN bukan KEINGINAN. Dana cadangan tetap dibutuhkan, kalau-kalau terjadi hal yang tidak diinginkan.
Ini baru masalah keuangan ya, ada lagi. Kalau sudah menikah ya siapkan dirimu untuk meluangkan waktu lebih banyak di keluarga, untuk anak serta istri/suami. Suatu saat ada teman yang mengajak pergi di akhir pekan misalnya, sedangkan istri sedang hamil dan menginginkan kamu untuk menemaninya. Pilihlah untuk menemani istrimu! Orientasikan dirimu untuk keluarga, jangan ke teman-teman lagi. Sudah lewat masanya bro, temanmu yang sekarang ngajakin pergi mungkin masih single, bila dibalik, saat mereka sudah menikah lalu kamu ngajakin nongkrong belum tentu mereka mau. Rugi di kamu kan kalau udah gitu.. haha.

Siap mengurus orang lain atau bahkan bayi?
Nah ini nih, mungkin kalau udah cinta rasanya siap deh melakukan apa saja demi yang tersayang. Tapi bisa jadi pikiran itu berubah setelah menikah. Terutama bagi wanita, sudah kewajibannya mengurus suami, anak dan rumah. Sebagian mungkin meninggalkan pekerjaan untuk full time ngurusin rumah tangga, contohnya ya saya lagi. Sebelumnya saya ini terbiasa mandiri, ngurusin apapun kalau bisa dilakukan sendiri dulu ya gak bakalan minta tolong orang lain. Kebetulan dapetnya suami yang #uhuk agak manja, patriarki banget. Semua-semua kebutuhan dia kalau bisa aku juga yang layanin, begitu juga urusan rumah tangga semua aku yang beresin. Awalnya sih semangat, lama-lama jenuh juga, terus ngedumel, kenapa sih begini aja gak mau ngerjain sendiri..  Nah jadi pembelajarannya adalah: belajar ikhlas, dan kalau bisa buat komitmen dari awal nikah, lebih bagus dari sebelum nikah gimana pembagian tugas-tugas rumah tangga nantinya. Gak selamanya pria Cuma ngurusin urusan public (mencari nafkah), ketahuilah bahwa istri anda akan sangat senang bila anda ikut serta bantu-bantu urusan domestic (pekerjaan rumah tangga). Bahkan ada penelitian yang menyebutkan pria yang membantu wanitanya mengurus rumah tidak rentan terhadap perceraian. Apalagi kalau udah ada bayi, suami hendaknya pengertian bahwa sejak hamil sebenarnya kemampuan fisik wanita sudah tidak sama. Setelah melahirkan proses pemulihannya pun belum tentu cukup sebulan. Jadi gak ada salahnya pria membantu urusan rumah tangga dan atau mengurus bayi. Gak mudah lho mengurus bayi itu, bersiaplah untuk berkurangnya waktu istirahat.
Siap merasakan sakit?
Yang ini mungkin terkesan agak lebay. Tapi sangat mungkin terjadi pada pernikahan siapapun. Orang yang paling kita sayangi memiliki potensi untuk menjadi orang yang paling menyakiti hati kita. Hehehe. Penyatuan karakter yang berbeda memang tidak akan pernah mulus halus kayak jalan tol. Lihat saja hubungan kakak-adik, atau saudara kembar sekalipun pasti pernah berantem karena perbedaan pendapat/keinginan. Ya sama dengan pernikahan. Berantem-berantem kecil itu biasa, jadi gak biasa kalau dibesar-besarkan, karena semua dimasukin ke hati. Saat menikah mungkin akan merasakan berkali-kali patah hati, sakit hati, kecewa, dll, tapi inget nih… janji sehidup semati sudah dicatat sama Tuhan. Seberat apapun masalahnya, sesakit apapun rasanya, inget Allah ya.. Cobaan yang berat akan membuat kita semakin kuat. Dan sebenarnya tidak ada masalah yang berat, karena Allah memberikan ujian sesuai dengan kemampuan kita =)
Ini kesimpulannya. Pernikahan adalah a long time commitment atau bisa dibilang a life time commitment. Sekali menikah ya gak bakalan bisa mundur dari segala tanggung jawab yang menyertainya. Kamu tidak bisa meminta pemeran pengganti atas semuanya. Tidak bisa memutar balik waktu saat menjadi orang tua. Mulailah beradaptasi sejak awal pernikahan hingga akhir hayat nanti. Saya pernah mendengar nasehat dari seseorang, bahwa pernikahan itu perlu belajar yang tak kunjung usai. Karena pernikahan itu tidak ada kursusnya, dan tidak bisa latihan, cepat atau lambat sama saja. Inget pacaran tidak sama dengan pernikahan. Jadi yang saya tulis di atas ini bukan jadi alasan untuk menunda pernikahan itu sendiri.  Jadi bersiap-dirilah =)

Kamis, 20 Juni 2013

Nyambut Gawe (Sebuah Renungan Bagi yang Merasa Menjadi Pengangguran)

Kerja kerja kerja kerja
Seberapa sering kita mendengar kata itu dari orang lain?
Seberapa sering juga kita mengucapkannya?
Sangat sering pula orang menuliskannya di facebook, tweet,sms dll.
Ya memang benar..
Kata "kerja atau bekerja" sudah sangat familiar di kehidupan kita
Bahkan sejak kita belum tahu artinya apa.
Coba perhatikan anak usia 2 tahunan, yang baru belajar bicara..
Pengasuh atau terkadang orang tuanya sendirilah yang mengajarinya menjawab apabila ditanya "ayah mana?"

"Kerja" begitu jawab si anak.

Tanpa benar-benar mengerti apa sih artinya kerja? Mungkin itu juga yang terjadi pada kita semasa masih kecil

Sedari jaman sekolah dulu, kalau saya mikirin tentang kerja, pasti kebayang sebagaimana Bapak saya dulu. Pakai pakaian rapi, trus ke kantor. Tapi gak kebayang apa yang dilakukan Bapak waktu itu.

Bahkan sampai saya jadi sarjana, kata 'kerja' masih samar-samar wujudnya.
Sekalipun saya sudah berbekal pengalaman organisasi nonprofit dan menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan akademis yang berbonus uang. Saya pernah mendadak jadi marketing di sebuah konsultan pendidikan studi luar negeri. Setelah itu saya mendapatkan tantangan baru, menjadi staf pengajar di perguruan tinggi. Tapi sayangnya gak bisa berlangsung lama, kontrak kerja hanya 1 semester saja.

Akhirnya saya jobless lagi..
Mulai merangkai lagi apa yang saya bisa dan apa yang saya harapkan.
Nah sejak ini saya mulai teliti melihat wujud 'kerja'

Menyapu, ini benar sebuah kata kerja, dan ternyata ada yang memperolah uang dari satu kata kerja ini saja. Tukang sapu di jalan.

Melinting, sebuah kata kerja lagi, dan ternyata dari kata ini pun ada yang bisa mendapatkan uang. Buruh linting rokok.

Melukis, eehh ternyata bisa menghasilkan uang juga. Pelukis.

dll

Jadi pada dasarnya kerja itu perwujudan dari kata kerja yaa..

Kata kerja, sebagaimana dalam Kamus Wikipedia Indonesia berarti kata yang menyatakan suatu tindakan atau pengertian dinamis. Contohnya sederhananya: menyapu, menulis, menyuci, menggambar, menghitung, memasak.

Sebagaimana kata "bekerja" artinya adalah melakukan "kata kerja"

Jadi ternyata konsep bekerja itu sederhana ya. Tapi begitu banyak yang mengaku sebagai pengangguran. padahal buanyaaaak sekali kata kerja dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, apakah tidak ada satupun yang bisa kita lakukan???

Maksimalkan apa yang kita bisa. Wujudkan, dan dapatkan hasilnya. jangan hanya menunggu dikaryakan, marii berkaryaa..

Hehehe. Oke. Sekarang yang masih merasa jadi pengangguran, pikirkan kembali, apa yang bisa kamu kerjakan??? Syukur-syukur bisa menghasilkan uang. Saya kasih contoh ya...

Kamu bisa membuat kue? Kenapa tidak mencoba membungkusnya lalu menjualnya pada orang lain. >> Ada 3 kata kerja di sini : membuat, membungkus, menjual. Tuh gak nganggur lagi kan? Insyaallah kamu juga akan menghasilkan uang dari pekerjaan ini..

Simple kan? Contoh yang lain deh, hitung sendiri berapa kata kerjanya ya..

Kamu suka menulis? Kenapa tidak mencoba mengirimkan tulisanmu pada majalah/ koran lokal?
Kamu bisa membuat web? Kenapa tidak menawarkan jasa pembuatan web tersebut kepada orang lain?

Fokus pada apa yang bisa kamu lakukan, ketrampilan, pengetahuan, atau kelebihanmu, niscaya kamu gak nganggur lagi.. 
Kuncinya: Jangan menyerah dan mau mencoba.

Wrote by Emamiridya E. Yupi
Ex Career Counselor at Telkom University










Aku dan Kamu adalah Seorang Pengajar

Life is everlasting learning.

Tidak harus menjadi pelajar bila ingin belajar
Tidak perlu juga menjadi seorang guru bila mau berbagi tahu

Seseorang diberi kelebihan bukan untuk disombongkan, tapi untuk memberi manfaat bagi orang lain..
Siapa pun kamu, apapun pekerjaanmu, apapun status sosialmu, kamu pasti memiliki pengalaman ataupun pengetahuan yang tidak semua orang mendapatkannya..

Maka berbagilah..
Melalui tulisan, melalui obrolan, melalui apa saja yang kamu bisa wujudkan..
Karna sebagaimana sabda Rosulullah saw...
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni)
Kebaikan yang kita tebar akan kembali kepada diri kita...
Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri (QS. 17:7) 

Sabtu, 09 Maret 2013

Just Married


Seorang sahabat bertanya padaku, bagaimana rasanya menjadi pengantin baru?

Kujawab, “Spesial. Bangun tidur ada orang tersayang berada di sebelahku yang sedang tersenyum.”
Itu jawaban spontan yang bisa kuberikan pada saat itu. Tapi kalau boleh merangkai kata yang lebih indah untuk menggambarkan perasaan saya adalah..

“Bahagia. Mengetahui orang yang selama ini kusayang dan menyayangiku telah benar-benar menjadi bagian dariku, hidupku, selamanya. Mengetahui bahwa seseorang (yang tengah kupandangi wajahnya ini) adalah calon bapak dari anak-anakku dan imam atas keluarga kami sendiri. Aku percaya padanya dan mencintainya tanpa ragu.”

Kalimat di atas rasanya sudah tepat menggambarkan perasaan saya, tapi kenyataan malam itu sebenarnya dia tidak sedang tersenyum sambil memandangi saya. Saya hanya melihat senyumnya terbingkai saat dia masih terlelap tepat disebelah saya dan (masih) memegang tangan saya yang tengah memeluk tubuhnya semalaman.
--
Dear my Bi @Brama_Danastri. Here we are. Finally arrived at the wonderful moment that we wanted madly, deeply. Keep it everlasting, Bi, cause you know i will.

ditulis sebelum malam tanggal 8 Maret 2013