Jumat, 27 Mei 2022

Ada Apa Dengan Gigi Jani


Sebenarnya judulnya sungguh tidak menarik🤣. Kalau dijadikan film gak bakal jadi box office. 


Tapi aku menulis ini bukan tanpa tujuan.

Tujuan yang pertama adalah menerima kesalahanku di masa lalu. Iya, aku memang punya peranan penting dalam mengurus anak-anak, jadi aku gak menampik bahwa yang membuat gigi Jani seperti sekarang adalah kesalahanku. Aku tadinya tidak pernah mau tunjukkan gigi jani ke publik/sosmed karena aku sendiri malu. Jani juga tadinya terlihat malu bila ada yang bertanya tentang giginya, tapi beberapa saat lalu aku melihat ada perubahan pada Jani! Jadi kalau ada yang tanya giginya kenapa, dia bukan lagi menutupi, tapi malah makin nyengir dipamerin ke orang tersebut. Hahaha.

Ketika aku lihat Jani sudah tidak insecure, maka aku harus mulai membuka diri juga.


Kedua, tujuannya adalah sebagai warning buat orang tua lain, sehingga tidak ada lagi yang melakukan kesalahan yang sama sepertiku.


Sejak tumbuh gigi, Jani sangat tidak nyaman bila disikat giginya. Semakin lama semakin berontak dan nangis sejadi-jadinya kalau dipaksa gosok gigi. Kalau udah begitu akunya yang gak tegaan ini menyerah, ‘kalau gak mau yaudah’. Tapi jangan salah, segala provokasi dulu udah dilakukan, mulai dari belikan sikat gigi yang bagus, menarik, terus disetelin video sikat gigi mulai dari cocomelon, duggee, dll tentang kegiatan sikat gigi, sampai diajak sikat gigi bareng mamanya sambil nyanyi-nyanyi, tetap gagal!


Kemudian terjadilah, saat Jani harus dirawat inap selama 7 hari penuh di RS karena rotavirus. Bayangin aja anak sakit, lihat perawat nangis, dikasih obat pun nangis berontak. Waktu itu aku ingat banget, salah satu obat Jani seperti susu bubuk yang dikasih air sedikit sehingga bertekstur seperti bubur kental, lebih tepatnya mirip lulur mandi yang ada scrubnya. Selama 7 hari itulah jani teratur minum obat tersebut tapi tanpa sikat gigi, sudah pasti di giginya menempel banyak sisa obat lulurnya tadi. Aku sempat berusaha memaksa dia sikat gigi, tapi nangisnya sama lagi seperti sebelum-sebelumnya. Dan aku semakin gak tega karena dia sedang sakit saat itu.


Sejak itulah di gigi Jani terbentuk karies di pangkal gigi depannya (karena dia waktu itu cuma punya 4 gigi depan). Dari waktu ke waktu, bertumbuh giginya, karies nya makin turun sehingga rapuh dan mudah patah. Berujung seperti sekarang giginya sudah patah dan menghitam. Kata dokter gigi, solusinya cuma bisa nunggu gigi barunya tumbuh😅.


Apa yang bisa dipetik dari pengalaman Jani? Masih ingat kan cerita Jani speech delay? 

Ternyata salah satu tanda speech delay itu adalah kurang matangnya organ oral. Sikat gigi sebenarnya bisa merangsang otot oral anak. Tapi karena Jani tidak mendapatkan rangsangan tersebut, maka mundurlah kemampuan bicara dia.

Salah satu tandanya lagi adalah kesulitan makan/ GTM/ sudah diajak makan. Makanan dengan berbagai tekstur dipercaya berguna untuk merangsang oral anak. Makanya proses belajar makan itu tidak boleh disepelekan, selain untuk pemenuhan nutrisi, tahapan pengenalan tekstur pada MPASI anak wajib dipatuhi dan diperhatikan.

Jangan sampai besar cuma makan bubur saring terus menerus, atau dari 6 bulan selalu diberi tekstur fingerfood (yang cenderung keras).

Aku dulu salah, dari 6 bulan terlalu sering memberi finger food (pengen BLW banget gitu) mungkin Jani belum siap sehingga selanjutnya dia merasa malas makan. Ini spekulasiku dari evaluasi pribadi, karena Jani belum bisa ngomong.

Malas makan = GTM = kekurangan latihan oral = kemunduran kemampuan bicara.


Mengenai tahapan tekstur, sudah banyak artikelnya ya, parents bisa mencari informasi terkait ini di banyak sumber.


Pembelajaran buat parents dari kesalahanku dapat disimpulkan: 

1. Jangan lewatkan agenda gosok gigi. Harus tega, harus lebih pintar cari cara, jangan manjain anak sepertiku.

2. Jangan lewatkan tahapan tekstur pada MPASI.

Banyak faktor yang menyebabkan speech delay pada anak, kekurangan latihan otot oral juga menjadi salah satunya.


Selamat berjuang parents!

Rabu, 30 Maret 2022

Kisah Dilema Ibu Rumah Tangga yang Ingin Bekerja

 Sebelum benar-benar memutuskan menjalani profesi sebagai fulltime housewife alias ibu rumah tangga, saya juga sempat mengalami dilema.

Keinginan untuk bisa aktualisasi di luar rumah, memiliki karir dan menghasilkan uang sendiri memang masih besar saat itu di tambah rasa bosan dan merasa tak banyak berarti karena yang dilakukan hanya itu-itu saja, apalagi pemikiran bahwa yang dilakukan hanya pekerjaan kasar, tanpa gelar sarjana, siapapun mudah melakukannya (menyapu, mencuci, menyetrika dll).

Tapi saya lupa memikirkan prioritasnya menjadi ibu rumah tangga, yaitu mengasuh anak.

Ada idealisme bahwa saya ingin menjadi yang pertama dicari oleh anak saya disaat kapanpun dia membutuhkan seseorang. Misal ketika dia sedih dan sakit karena jatuh, saat dia terbangun dari tidur karena mimpi buruk, atau saat dia bahagia karena mendapatkan pencapaian di sekolah. Saya ingin jadi yang pertama tahu atas segala perjalanan tumbuh kembangnya.

Jakarta, tempat saya tinggal, bukanlah kota yang ideal untuk mengharapkan segala sesuatunya tepat waktu. Bila saya bekerja dengan jam kerja pukul 8 pagi - 5 sore katakanlah berangkat jam 6 pagi, sampai rumah mungkin jam 7 malam. Keruwetan jakarta tak memungkinkan siapapun untuk sampai rumah pukul 5 sore. Paling cepat juga magrib.

Gimana rasanya lelah setelah pulang bekerja, apakah saya sanggup menghadapi anak dengan tenang dan benar-benar 'hadir' untuk mereka? Belum juga untuk suami saya, dan diri saya sendiri? Saya kan juga butuh istirahat dan me time. Apakah saya sanggup menjalaninya?

Setelah menikah, suatu hari saya menemui dosen pembimbing skripsi saya dulu. Alhamdulillah, kami memang punya hubungan baik, bahkan bagi saya beliau bukan cuma asik untuk menjadi tempat diskusi mengenai skripsi saja, tapi semua topik kehidupan. Beliau sangat open minded, karena pernah tinggal di luar negeri, tapi tetap dalam border ke-Islam-an yang kuat. Bukan tanpa sebab saya ingin menemuinya, saat itu saya ingin minta surat rekomendasi untuk melanjutkan studi S2 supaya suatu saat bisa jadi dosen. Tapi alih-alih kuliah lagi, saya berubah pikiran setelah bertemu dengan beliau.

Saya bilang, saya dilema. Saya ingin melakukan hal lain di luar urusan rumah tangga dan mengurus anak. Begitu kira-kira inti yang saya sampaikan. Lalu beliau menamparku dengan nasehatnya. Begini kira-kira, "Seorang ibu di akhirat nanti bukan ditanya bagaimana tanggung jawabmu terhadap bosmu? Tapi bagaimana tanggung jawabmu terhadap anak-anakmu, suamimu?"

"Yang ditanya adalah apa yang sudah kamu lakukan untuk anak-anakmu, apakah kamu ada di saat mereka membutuhkanmu?"

Saya tahu beliau benar, tapi saya masih juga mencari pembenaran.

"Tapi pak, Saya ingin membantu suami saya mencari nafkah, agar saya bisa memastikan hidup keluarga saya cukup." "Rezeki sudah Allah yang mengatur. Saat kamu berpikir besok kamu gak bisa makan, itu sama saja dengan kamu menyangsikan kebesaran Allah, menyepelekan Allah. Setiap anak sudah membawa rejekinya masing-masing. Jadi jangan takut kekurangan dan jangan sampai kamu mengutamakan hal lain selain tanggung jawabmu terhadap anak-anak."

Tak terasa, mataku panas dan berair, tapi tertahan karena sungkan.

Kata-kata beliau bahkan begitu tertanam hingga sekarang, bahkan kuulang ketika mama dan ibu mertua yang pada saat itu masih sering bertanya atau bahkan secara tak sadar menyuruh saya untuk bekerja lagi. Hingga saya bertemu dosen saya tadi, saya jadi punya argumen yang sangat kuat untuk memantapkan diri menjawab tidak, tidak untuk kembali bekerja. Setidaknya sampai suatu saat, ada lagi godaan pekerjaan impian.

Ketika Juno berusia sekitar 3 tahun, ada sebuah lowongan 'asisten trainer'  rasanya jiwaku terpanggil. "Ini aku banget." Sampai akhirnya aku melamar pekerjaan tersebut, karena aku pikir Juno sudah cukup mandiri dan bisa diajak berkomunikasi, jadi cukup aman untuk ditinggal bekerja dan dititipkan di day care.

Melalui seleksi administratif, psikotes, lalu sampailah pada wawancara. Saat itu aku baru diberitahu bahwa trainer ini (yang akan ku asisteni kalau diterima)adalah trainer psikolog yang cukup kondang, sering tampil di televisi nasional dan pembicara di seluruh Indonesia (inisialnya ER). Bila aku diterima, maka harus menerima resiko tidak pulang karena harus terus mendampingi beliau keluar kota atau mempersiapkan segala hal berkaitan dengan presentasinya. 

Interviewerku saat itu adalah rekan beliau, beliau kaget saat kubilang aku sudah memiliki anak. Singkat cerita, kondisi yang seharusnya adalah wawancara kerja beralih menjadi sesi terapi psikologis.

Aku menangis sejadi-jadinya saat beliau bilang "Juno jauh lebih membutuhkanmu, dibandingkan kami." Nolak halus sih, tapi maknanya dalam. "Masa kecil anak-anak tidak akan bisa terulang. Aktualisasikan diri sebaik mungkin saja di rumah."

Beliau juga bilang bahwa aku tak sendiri, banyak ibu di luar sana yang bergelar sarjana, bahkan tak sedikit yang menjadi master/ magister tapi memilih untuk berkarir di rumah.

Kalau ada yang tanya, waktu aku tes Juno sama siapa, Juno aku titipin sama tetangga. Ujung-ujungnya sama tetangga juga dinasehatin. "Mbak kalau kerja selain habis waktu, tenaga, sebenarnya uangnya juga paling cuma sisa sedikit karena habis buat transport, buat makan siang, buat beli baju kerja, peralatan make up, kan kalau kerja itu harus dandan juga. Belum kalau kumpul sama teman-teman. Terus untuk bayar penitipan anak/ sewa baby sitter. Sisanya berapa? Mending di rumah aja sama anak-anak. Hati tenang, anak-anak terawat dengan baik sama ibunya sendiri."

Ealah, Gusti Allah pancen belum meridhoi simbok kerja lagi le, buat ngurusin kamu pakai yg cinta. Galak sitik gak papa ya le, pancen simbokmu masih ajar sabar.


(Disadur dari caption Instagram pribadi pada 1-3 Januari 2019)

Rabu, 31 Maret 2021

Jani Speech Delay

Di sini aku bukan mau membahas tentang definisi atau tanda-tanda keterlambatan bicara / speech delay, karena sudah pasti bukan kompetensiku dan sudah banyak artikel tentang hal tersebut di mana-mana. Aku hanya akan menceritakan pengalamanku sebagai ibu dari anak yang mengalami kendala keterlambatan bicara.

Melalui tulisan ini akupun mengakui bahwa aku masih jauh dari citra ibu sempurna melainkan ibu yang super duper sangat banyak kurangnya sekali.


Saat Mengetahui Jani Speech Delay

Mulai dari usia 1 tahun, aku menuliskan perkembangan kosakata Jani. Di usia ini aku sama sekali tidak khawatir karena aku menuliskan kata pertama Jani sudah keluar sejak usia 10 bulan dan terus bertambah sejak itu.

Tapi mendekati usia 2 tahun, aku merasa tidak ada perkembangan yang signifikan. Jani sudah bisa diberi instruksi, sudah bisa bicara satu kata sesuai kebutuhannya, misalnya “Ninum” (minta minum) atau menunjuk benda yang jatuh sambil bicara “Jatuh!”. Tapi Jani tidak mau mengulang kata (echolalia), ikut bernyanyi, ataupun berusaha menjawab pertanyaaan dari kami. Seperti pertanyaan sederhana "Namamu siapa?"

Konsultasi ke Psikolog Anak

Di usia 3 tahun kurang 3 bulan (bulan Agustus 2020) saya membuat janji temu dengan psikolog di klinik tumbuh kembang. Lho kenapa kok lama, padahal sejak 2 tahun seperti sudah tahu tanda-tandanya ya?

Iya, memang. Telat ya.

Alasan yang pertama adalah tak lama dari ulang tahun Jani yang kedua, kita mengalami Pandemi Covid-19 sehingga ada kekhawatiran tentang resiko tertular bila hendak pergi ke klinik/ rumah sakit sekadar untuk konsultasi.

Namun alasan utama sebenarnya adalah “DENIAL”.

Panjang pemikiran sebelum memutuskan pergi konsultasi, bisa jadi hal ini juga dirasakan oleh orang tua lainnya. Ada kalanya orang tua terlalu subjektif menilai anaknya ("anak kita sehat kok, anak kita nggak kenapa-kenapa"), sehingga mengabaikan 'red flag' perkembangan anaknya. Tak ayal berusaha untuk denial sebagai self-defence, yang sebenarnya adalah rasa takut. Takut bila nanti anaknya terdeteksi memiliki kebutuhan khusus.

"Ah Jani gak apa-apa kok," kataku pada diriku sendiri.  Padahal selalu cemas lalu cari tahu tentang gejala ASD (Autism Spectrum Disorder) atau anak dengan kepribadian tertentu lain, dan mencari tahu adanya pada Jani.

 

Dukungan Pasangan

Sekuat apapun aku menyangkal, akhirnya aku tak tahan juga. Suami yang sebenarnya berusaha untuk selalu menenangkanku dan selalu bilang semua baik-baik saja, akhirnya kuberi penjelasan tentang alasan-alasan kekhawatiranku.

“Ada istilah kepribadian ambang, spektrum autisme juga ternyata luas, jadi daripada tidak tenang dan terus berspekulasi, aku mau konsultasi,” terangku pada suami. Suamiku akhirnya mendukung dan mau ikut menemaniku menemui psikolog. Jadi di hari itu, ruang konsultasi yang kecil jadi penuh karena ada kami; aku, suamiku, Jani dan Juno. Sepaket lengkap satu rumah ikut, agar segala apa yang mungkin terjadi bisa ditanggung bersama. Dan ternyata ada hikmahnya juga si kakak, Juno, ikut serta dalam ruang konsultasi. Dia jadi lebih paham kondisi adiknya dan bisa ikut berkomitmen membantu proses ini. Nanti akan kujelaskan lebih.

 

Jadi Jani Kenapa?

Setelah konsultasi, memang tidak boleh langsung diberikan diagnosa. Perlu parents ketahui, namanya menilai kepribadian / masalah psikologis tidak bisa saklek, harus ada observasi beberapa kali terlebih dahulu. Dari ruang konsul, biasanya akan disarankan untuk mengikuti terapi dan evaluasi untuk diketahui lebih dalam permasalahannya.

Secara umum, penyebab keterlambatan bicara yang mungkin terjadi pada Jani adalah terlalu banyak screen time.

Screen time memang tidak berdampak buruk pada semua anak. Beberapa kasus justru anak berkembang pesat dan terstimulus oleh tayangan televisi/ youtube. Tapi pada Jani, justru sebaliknya, padahal seringkali saat dia menonton, aku ada di sebelahnya untuk mengulang kata-kata dalam televisi supaya Jani lebih memeperhatikan makna dan menambah kosakatanya. Beberapa tayangan Jani berbahasa Inggris, sehingga ini juga menjadi kendala.Bisa jadi dia mengalami kebingungan karena bahasa yang dia dengar di televisi berbeda dengan yang digunakan sehari-hari. Akibat nyatanya adalah tak jarang Jani menyebut benda dalam bahasa Inggris. Hal ini tidak disarankan sebenarnya, sebaiknya memang penggunaan bahasa Ibu lebih diutamakan di usia pra-sekolah.

 

Jani Mulai Terapi

Singkatnya, Jani puasa nonton TV, sama sekali tidak diperbolehkan menonton TV selama waktu yang tidak dapat ditentukan. Alhamdulillah si Kakak bisa paham, dan bisa ikut mematikan TV selama di rumah. Aku pesan pada kakak, bahwa TV hanya bisa dinyalakan saat tidak ada adik atau adik sedang tidur. Tidak sulit karena si Kakak ikut masuk ruang konsultasi saat itu.

Selain itu, si Kakak juga terpaksa aku tinggal sendiri di rumah (mengurangi resiko penularan Covid-19) selama aku harus mengantar adik terapi, tetapi kakak justru senang karena dia jadi bisa nonton TV.

Selain itu Jani dijadwalkan untuk terapi sensori dan terapi wicara. Secara intensif aku sendiri yang antar Jani terapi selama 2x satu minggu selama 2 bulan penuh. Dari pengamatan terapis dan konsultasi lagi dengan dokter anak spesialis tumbuh kembang, Jani murni speech delay. Pada aspek perkembangan yang lain Jani dinilai cukup baik untuk anak seusianya.

Saran dari dokter sebenarnya cukup sederhana, ketat dalam pemberian screen time (agar lebih banyak interaksi dua arah) dan sekolah! Tujuannya agar Jani memiliki teman sebaya yang diharapkan bisa menjadi stimulus bicaranya.

Dokternya bilang, "Bu, ini sih anaknya di sekolahin aja nanti juga bisa ngomong sendiri. Tapi lagi pandemi ya, yaudah sering-sering diajak ngobrol ya."


Pentingnya Pengetahuan dan Kepekaan Orang Tua

Cukuplah aku yang kebanyakan self-defence terhadap anak, semoga orang tua lain bisa lebih siap, tanggap dan cepat melihat tanda sebelum muncul red-flag pada perkembangan anak. Tapi tolak ukurnya jangan anaknya orang lain ya, atau anak tetangga, apalagi anak selebgram, rentan bias dan jadi overthinking. Cukup kita lihat pedoman yang standar, ada di Kartu Menuju Sehat (KMS) dan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) yang bisa didapatkan di Posyandu. Formulir tersebut bisa diisi mandiri sejak anak berusia 3- 72 bulan. Kalau tidak pernah ke Posyandu, parents bisa dapatkan KPSP di mbah google ya, hahaha.

 

Pesan Untuk Parents

Mencari bantuan psikologis/terapis bukan berarti hal yang menakutkan, menyedihkan atau memalukan. Bila ada aspek tumbuh kembang tertentu yang dirasa mengkhawatirkan, tidak perlu menunggu lebih lama, disegerakan saja untuk dapatkan bantuan dari ahlinya.

Dan satu lagi yang penting, di atas aku sempat menuliskan “jangan bandingkan anak kita dengan anak orang lain,” ini sih pendapat pribadiku, karena aku pribadi bukan ibu yang kompetitif. Selagi anak bertumbuh dan berkembang secara wajar, sehat, dan ceria, itu cukup. Tidak perlu menjadi ‘lebih’ ataupun ‘luar biasa’, atau menjadi seperti anak si Anu, atau si Ono. Aku tidak mau anakku dibanding-bandingkan dengan anak orang lain.

Akupun meyakini bahwa setiap anak juga memiliki ‘waktunya’ masing-masing. Anak tetangga lebih cepat bisa jalan, bukan berarti anakku tak hebat. Begitu pula aku membesarkan hatiku.  Jani terlambat bicara bukan berarti ia kelak tidak bisa menjadi anak yang pintar.

Ah sudahlah, teman sekelasku saat sekolah dulu, yang selalu nyontek saat ujian, yang selalu mendapatkan peringkat akhir satu angkatan, toh sekarang dia bisa juga mandiri, punya rumah dan bisnis sendiri. 

Jadi jangan overthinking ya parents, dan tetap semangat, berusaha, dan berdoa.

Kamis, 23 April 2020

Tips Mengajarkan Anak Tidur Sendiri

Sudah menjadi harapanku untuk mendidik Juno, anak pertamaku menjadi anak yang mandiri, tak terkecuali untuk berani tidur di kamarnya sendiri. Bahkan sejak aku belum hamil anak kedua, kamar Juno (saat itu usia 3 tahun) sudah dipersiapkan. Prosesnya bisa dibilang cukup panjang, karena dilatih sejak usia 3,5 tahun, hingga akhirnya genap diumur 4 tahun, Juno sudah benar-benar terbiasa tidur tanpa ditemani, di kamarnya sendiri.

Nah, bagi yang sedang ingin melatih anaknya untuk tidur sendiri, berikut akan aku bagikan tips untuk orang tua mempersiapkannya.
  • Siapkan kamar anak yang tidak jauh dari kamar utama (kamar orang tua). Jadi saat anak takut atau merasa tak nyaman pada prosesnya (terbagun tengah malam atau terbangun karena mimpi buruk, dsb), ia akan mudah menemukan orang tuanya. Jadi jangan ya kamar utama di bawah, kamar anak di atas, atau sebaliknya. Untuk latihan sebaiknya satu lantai dulu, kalau sudah lancar mungkin bisa dipertimbangkan berpisah lantai dengan anak.
  • Siapkan kamar yang menyenangkan untuk anak. Saya sengaja memasang gorden, dan sprei dengan gambar karakter yang disukai anak saya. Saya taruh semua mainan di dalam kamarnya, juga kolase foto-fotonya sejak bayi hingga sekarang. Jadi sedari awal ia tahu bahwa kamar tersebut adalah miliknya dan menumbuhkan sense of belonging.
  • Sounding jauh sebelum dimulai. Saat ia masih sekasur dengan kami orang tuanya, bahkan sejak adiknya belum lahir kami selalu memberikan sugesti atau sounding bahwa dalam waktu dekat ia harus mulai belajar tidur sediri, beserta alasan-alasan mengapa ia harus tidur sendiri. Alasannya mulai dari kamarnya yang sudah disiapkan khusus untuknya, badannya semakin besar dan kasur kami tidak lagi nyaman jika ditiduri 4 orang (dengan adiknya), dan kami yang khawatir apabila tidurnya terganggu karena adiknya yang masih bayi akan sering terbangun tengah malam.
  • Berdoa sebelum tidur. Kebiasaan ini harus dipupuk sedari kecil, sambil ditanamkan bahwa dengan berdoa maka Allah akan menjaganya hingga ia tidak takut lagi, dan tidak bermimpi buruk. Akan mulai sulit bila anak sudah mengenal konsep ‘hantu’ atau ‘jin’ atau ‘setan’, sehingga biasanya itu yang menjadi kekhawatiran mereka saat sendirian. Maka perlu ditanamkan lebih pada anak bahwa manusia itu derajatnya lebih tinggi dari jin dan sebangsanya, dan bila berdoa maka jin akan takut dan Allah yang akan menjaganya.
Proses belajar tidur sendiri ini butuh waktu dan bertahap (ya sama saja seperti proses belajar lainnya).
 Tahapan pertama kali Juno tidur ditemani papahnya hingga terlelap, kemudian baru ditinggal setelah nyenyak. Terkadang bila papahnya belum pulang bekerja maka pintu kamarnya saya biarkan terbuka sehingga Juno tetap merasa aman meski tidak ada yang menemani di kamar. Selama beberapa waktu, setiap terbangun dari tidurnya di tengah malam, Juno selalu teriak memanggil papahnya, maka dengan sigap papahnya akan ke kamarnya dan menemani. Tahap selanjutnya ketika Juno terbagun menjelang subuh (sekitar jam 3 atau 4 pagi), ia tidak lagi memanggil tapi langsung ke kamar kami dan melajutkan tidurnya di kamar kami hingga pagi. Tahap terakhir Juno sudah terbiasa sudah tidak bangun tengah malam lagi hingga pagi.


Keberhasilan Juno ini juga dinikmati olehnya sendiri, ya pasti anak-anak akan senang dan bangga kan kalau berhasil menguasai sesuatu. Juno cerita kepadaku, suatu waktu ketika dia terbangun tengah malam, dia teringat kataku, “Kalau Juno takut, berdoa ya, terus tidur lagi, gak akan terjadi apa-apa kok, kan Allah yang jaga.”

Satu lagi yang perlu sekali disampaikan ke pada anak saat akan memulai belajar tidur sendiri, yaitu pemahaman bahwa bila tidur sendiri bukan berarti karena orang tua ingin berpisah dengannya, tidak sayang padanya, melainkan sebaliknya. Hal ini adalah sebuah langkah untuk menjadikannya semakin kuat dan berani, menandakan bahwa ia semakin dewasa (bukan anak kecil lagi), biasanya anak-anak akan suka bila dianggap sudah lebih besar. Ah kalau bagian ini biasanya ibunya yang mewek, gak nyangka dan gak rela anaknya sudah bukan bayi lagi. Ternyata anak belajar tidur sendiri selain perlu membesarkan hati anak, sebelumnya juga orang tua dulu yang perlu membesarkan hati, supaya tega, yakin dan konsisten pada proses belajar anak. 

Ini baru salah satu tahap kemandirian anak, bila maju mundur, yang dikhawatirkan adalah kelak akan menghambat proses kemandirian anak yang lain.

Sabtu, 04 Juli 2015

Mainan Tak Mengenal Gender

Banyak orang yg masih memisahkan jenis mainan dengan gender. Misalnya mainan masak-masakan dan boneka adalah mainan anak perempuan, sebagaimana bola atau robot adalah mainan laki-laki. Pemahaman ini perlu diperbaharui, karena sebenarnya semua jenis permainan memiliki manfaat bagi perkembangan anak.

Saya beri contoh. Tak masalah sebenarnya bila laki-laki bermain boneka teddy bear atau perempuan bermain robot. Keduanya sama-sama merupakan jenis permainan pura-pura (role play), berguna untuk belajar tentang peran di kehidupan, melatih kreativitas, kemampuan komunikasi dan kemampuan berpikir anak. Tak ada salahnya anak perempuan bermain robot, bisa jadi dia ingin ada peran pahlawan yang kuat. Sama halnya anak laki-laki bisa menganggap boneka beruang yang lembut sebagai sosok yang harus dilindungi atau disayangi, atau bahkan sebagai binatang yang buas yang sedang ingin menyerangnya. semua terserah imajinasi mereka saja.

Contoh lainnya, seperti saya sendiri ingin membelikan anak laki-laki saya mainan masak-masakan. Kenapa? Karena memasak saat ini bukan lagi sebatas urusan perempuan. banyak koki laki-laki di luaran sana yang sukses, atau tak perlu jadi chef, jadi pengusaha kuliner buka lapak di pinggir jalan tapi laris manis juga gak masalah kan? Selain alasan pengenalan profesi, saya juga melihat ada keingintahuan yang besar pada anak saya ketika melihat saya memasak. Tak mungkin rasanya mengijinkan dia bermain pisau atau kompor betulan. Jadi solusinya adalah mainan masak-masakan itu tadi. Manfaatnya jelas banyak: pengenalan profesi, pengenalan peralatan masak, atau bahkan tentang sayur, lauk, dan buah yang berkaitan dengan masakan, pengenalan bumbu masak (misal ajak anak berpura-pura menaburkan garam agar asin sekaligus mengajak anak untuk mencicipi langsung garam asli). Selain itu yang tak kalah penting, anak bisa belajar tentang proses.. mengolah makanan mentah menjadi bisa dan enak dimakan serta dapat menghargai peran ibu yang memasak tiap hari untuknya. Bagus bukan?

Saya beri contoh satu lagi tentang mainan anak yang distereotypekan dengan mainan anak perempuan, yaitu mainan setrika-setrikaan. Emangnya kenapa kalau anak laki-laki main itu. Itu jelas manfaatnya berupa life skill. Kemandirian. Penting ketika dewasa seandainya anak laki-laki merantau dan tidak punya banyak uang untuk melaundry pakaiannya, mencuci dan menyetrika baju sendiri tentu sangat bermanfaat.

Sedikit contoh yang saya tuliskan tapi intinya adalah "bebaskan anak bermain apapun yang dia inginkan." Mainan tak mengenal gender, semua mainan bermanfaat. Gak usah kawatir anak perempuan bermain bola, arena jelas itu melatih motorik kasarnya, anak sehat plus senang karena tak dilarang. Gak usah sewot juga kalau anak perempuan main mobil-mobilan.. eh siapa tahu besarnya bisa jadi pembalap perempuan yang sukses. Jadi orang tua cukup temani anak bermain, sambil membimbing mereka untuk mendapatkan manfaat yang lebih dari permainan itu sendiri.

Minggu, 10 November 2013

Memilih Pasangan


Bagi teman yang belum menikah mungkin merasakan iri terhadap teman-teman yang sudah menikah. Daripada mikir pengen cepet-cepet nikah, mending cari dulu deh pasangan yang sesuai. Sesuai untukmu dan sesuai untuk diajak berumah tangga.

Tahu kan kisahnya Ayu Ting Ting? Pernikahannya belum sampai usia jagung sudah diguncang prahara #etdahh. Padahal sebelumnya sudah pacaran berapa tahun tuh? Mesranya dulu kayak apa tuh?
Pembelajaran bahwa sebenarnya pacaran bukanlah latihan pernikahan. Berlama-lama pacaran bukan jaminan pernikahan bakal langgeng dan berjalan baik-baik saja. Kebanyakan saat pacaran orang itu menggunakan topeng. Saat menikah barulah kelihatan aslinya. Yang dulu bisa kelihatan cantik/ganteng dan wangi tiap kali ketemu, sekarang gak bisa menghindar lagi waktu bangun tidur ternyata ada bekas iler yang mengering di pipi, wkwkwkw..

Memilih pasangan menjadi salah satu dalam persiapan pernikahan, melengkapi tulisan saya sebelumnya tentang persiapan menikah, berikut mungkin bisa dijadikan membantu teman-teman dalam memilih pasangan diluar pakem bibit, bebet, bobot:

Lihat Karakternya
Sesuaikan  dengan karaktermu, kalau bisa sih yang berlawanan. Semisal  kamu dominan cari yang penurut, kamu tempramen cari yang penyabar, kamu suka ngomong cari yang suka dengerin. Kalau karakternya mirip, kecenderungannya bakal sering berantem karena gak ada yang mau mengerti atau mengalah. 

Lihat Kebiasaannya
Pasangan suka bangun siang? Pasangan perokok? Pasangan suka keluar malam? Well ketahuilah kebiasaan-kebiasaan ini sedini mungkin, lalu bila tidak cocok dengan harapanmu coba kompromikan. Ini baik dilakukan sebelum menikah. Kalau dirasa ada kebiasaan buruk yang perlu dirubah namun calon pasangan tidak ada keinginan merubah kebiasaaan tersebut, ada dua hal yang bisa dilakukan. Satu terima kebiasaan tersebut, kedua tinggalkan calon pasanganmu. Kenapa penting dibicarakan, karena hal ini bisa jadi pemicu pertengkaran nantinya. Kalau gak ada kesadaran atau niatan mau berubah ya susaaahh, jangan berharap banyak kita bisa jadi sosok pahlawan yang mampu merubah orang jadi lebih baik, hal ini harus berasal dari diri sendiri.

Lihat Pergaulannya
Seorang preman teman-temannya ya preman, begitu kira-kira mudahnya melihat pentingnya faktor ini. Seorang yang memiliki pergaulan yang baik, Insyaallah pribadinya juga baik. Jadi gak ada salahnya tanyakan tentang teman-temannya, pekerjaan mereka apa, kalau berkumpul seringnya di mana, kalau perlu minta dikenalkan. 

Lihat Media Sosialnya
Sekarang lebih mudah untuk mencari tahu tentang seseorang, browsing aja. Lihat media sosialnya, bagaimana bahasanya dalam menulis status, tweet, atau komentar. Apa yang sering diposting? Nah dari sini bisa ketahuan banyak: hobi, sikapnya terhadap sesuatu, opininya, bahkan karakternya. Orang yang sering menuliskan kata-kata kasar berarti cenderung agresif. Suka tweetpic foto-foto diri sendiri berarti narsis. Tapi tetep ya gak bisa menyimpulkan seseorang hanya dari media sosialnya ya, coba dikonfirmasi langsung dengan orang yang bersangkutan.

Tanyakan Keinginannya tentang Sosok Istri/Suami
Ini perlu supaya gak kaget saat nanti memulai berumah tangga. Kalau calon pasangan suka istri yang bisa masak, berarti harus belajar masak dari sekarang. Kalau calon pasangan suka suami yang bisa bantuin pekerjaan rumah tangga ya harus siap, jadi besok gak perlu diminta sudah terjun langsung. Jawaban dari pertanyaan ini bisa luas banget sih, bisa juga berkaitan dengan perlu atau tidak istri bekerja membantu suami atau full mengurus rumah tangga. Pembagian peran ini bisa dibicarakan sebelum menikah, supaya gak kaget nantinya. Perencanaan ke depan lainnya juga bisa digali seperti di mana akan tinggal, dll.

Tanyakan Berapa Besar Nominal Ditabungannya
Ini optional ya, karena masih beberapa orang menganggapnya pertanyaan tabu. Tapi sebenarnya perlu tahu, jadi kalau mau Tanya pinter-pinter cari momen yang pas, bukannya mau ngajarin matrek ya. Menurutku sih ini gambaran gaya hidup dia. Let me explain.. Semakin besar saving-nya (bisa jadi dalam bentuk tabungan, deposito atau investasi lainnya) berarti semakin dia berorientasi ke masa depan. Ukuran skalanya berapa lama dia udah bekerja. Jadi contohnya nih, si calon sudah bekerja selama 2 tahun, itung aja kira-kira dengan jumlah gaji, minimal (ini saya, tiap orang bisa punya batas minimal masing-masing) 30% adalah bentuk tabungannya. Nah kalau ternyata tabungannya dibawah batas minimal tersebut, berarti si calon punya lifestyle yang berlebihan. Tengok lagi accessories-nya, gadget-nya, kendaraannya. Menurut penilaian kalian wajar gak? Cocok gak dengan diri kalian sendiri? Karena nih karena.. gaya hidup seseorang itu susah dirubah. Perilaku konsumtif pasangan yang berlebihan bisa merusak rencana pembangunan financial ke depan. Pikirkan biaya sekolah anak yang semakin besar, dan kebutuhan-kebutuhan masa depan yang lain. So, kalau dilihat kurang, coba kompromikan, kira-kira si dia bisa gak ya lebih aware dan preparing the future?

Tanyakan Kesiapannya Memiliki Anak
Penting ini, jangan sampai kebobolan kalau ternyata salah satu dari calon bapak/ibu belum siap. Karena ngurus anak itu gak bisa sendirian dan gak bisa digantikan. Tidak bisa ditolak dan dimundurkan. Missal nih sangking capeknya ngurus anak, gak bisa donk bilang ke anak “dek kamu masuk aja lagi gih ke dalem perut, ibu mau istirahat” haha. It’s truly need a big responsibility. Satu anak aja, tanggung jawab yang ditanggung ya sampai dia besar sebesar kamu sekarang, bahkan bisa lebih. Calon ibu harus bisa sepenuh hati ngurusin anak, calon bapak harus dukung istri secara emosional dan giat mencari nafkah.

Lihat Pengorbanannya untuk Menikahimu
Dari pengorbanan inilah kita bisa melihat kesungguhannya. Hari gini jangan sampai jadi korban PHP (pemberi harapan palsu) ya. Kalau si calon serius, pasti udah ngenalin kamu ke keluarga dan rela melakukan apa aja buat bisa mendapatkan hati calon keluarganya juga.  Menurut saya sih penting ya untuk merasa diinginkan. Pengorbanan ini  nantinya bisa bikin kalian bertahan saat mungkin badai menerpa #eaa. Saat lagi jenuh sama rutinitas, saat lagi berantem, saat emosi sedang dipucuk, perjalanan cinta kalian bisa jadi penawar yang menyejukkan. *Suami saya menang di point ini =)

Dan yang Terpenting Lihat Ibadahnya
Kalau si calon berani meninggalkan kewajibannya sama Allah, gimana sama kita? Do not offense deh kalau masalah ini, gak perlu berkata-kata lebih lagi pasti udah pada ngerti. Setuju?! Sip

Dari saya mungkin segini aja hal-hal yang krusial untuk diketahui saat memilih pasangan untuk diajak menikah. Saya bisa nulis gini bukan karena saya punya pasangan yang ideal, bisa jadi pasangan saya tidak memenuhi semua kriteria, tapi justru dari sanalah saya bisa berbagi melalui tulisan ini. Saya jadi ingat perkataan seseorang, ”tidak ada pernikahan yang gagal, yang ada hanyalah salah memilih pasangan hidup (na’udzubillah).” Wajar ada yang bilang gitu, karena sekali kita nikah kan pengennya bertahan sampai seumur hidup. Kalau sampai kita salah memilih pasangan, hidup kita jadi korbannya. So please hati-hati ya..
Belajar lagi dari kasus selebriti, Eddies Adelia, yang belakangan suaminya ditahan polisi karena kasus penipuan. Artis lain juga banyak, Septi istinya Ahmad Fathonah, Kristina Dangdut, Ussy Sulistyowati sama mantan suaminya, dll. Hal ini sebenarnya gak perlu terjadi kalau dari awal sudah mencari tahu seluk beluk pasangannya dan tidak dibutakan pada suatu hal aja (harta, dan tahta). Ya kan?

Buat yang belum dapet jodohnya sampai sekarang, mungkin tulisan saya ini juga bisa jadi bahan introspeksi untuk memantaskan diri. Terus berjuang yaa kawan. Doakan keluarga kecil saya bersama suami bisa langgeng, sakinah, mawadah, warohmah ya.. Semoga kita semua mendapatkan yang terbaik. Aamiin.

Siap Menikah?


Banyak orang yang belum menikah berandai-andai tentang indahnya menikah. Yang udah punya pacar gak sabar dilamar, yang jomblo galau karena boro-boro cepet nikah, punya pacar aja susah. Gitu ya? Hehe. Padahal bagi yang sudah menjalani pernikahan, ternyata gak seindah apa yang dibayangkan dulu lho. Contohnya ya saya sendiri. Menikah bukan sekedar menghalalkan yang haram. Bukan sekedar rasa senang karena tak terpisahkan lagi dengan yang tersayang. Tapi jauh lebih kompleks dari itu. Saya menuliskan ini bukan karena mengeluhkan tentang pernikahan saya, tapi menjawab beberapa keingintahuan teman-teman saya dan semoga membuat mereka bersiap diri untuk ‘menerima kenyataan’ nantinya yang akan dihadapi juga.

Siapkah kamu merubah kebiasaan?
Dulu saat single, kamu bisa saja melakukan apa saja yang penting ‘aku senang’. Saat menikah tidak bisa lagi seperti itu. Perbuatanmu akan berhubungan dengan pasanganmu. Yang dulu senang pulang malam, pasanganmu belum tentu senang. Yang dulu suka bangun siang, pasanganmu bisa saja merasa dirugikan dan marah-marah. Kebiasaan memang perlu dirubah, apalagi yang jelas tidak ada manfaatnya. Percayalah, perubahanmu nantinya sebenarnya bukan Cuma sekedar untuk kebaikanmu, tapi menjadi kebaikan bersama. Intinya sikap yang diperlukan adalah: sadar diri dan mau berubah.

Siapkah kamu menomerduakan urusan-urusanmu?
Hal ini berkaitan dengan orientasi/prioritas. Rumah tangga itu gak bisa bertahan kalau masih ada yang bersikap egois. Well kalau masih ada, berarti pasangannya super duper sabar, tapi namanya manusia ya punya batas, gak bisa berharap bakal punya pasangan yang mau serba ngertiin kita. Kepentingan rumah tangga itu harus dicapai bersama.
 Misalnya berhubungan dengan keuangan, dulu gajimu bisa kamu gunakan untuk belanja keperluan sendiri, dan ketika sudah menikah akan muncul kebutuhan-kebutuhan rumah tangga seperti perabot, sewa tempat tinggal yang lebih besar, listrik, air dll. Terutama bagi pria yang memiliki istri yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, penghasilan sendiri harus bisa diatur cukup untuk berdua. Belum lagi kalau akan / sudah memiliki anak, berlipat lagi kebutuhannya. Dan ingat masalah keuangan ini krusial banget. Harus disadari bahwa kebutuhan itu bukan hanya untuk hari ini tapi juga untuk masa depan. Sehingga uang yang dimiliki saat ini gak boleh dihabiskan untuk sekedar memenuhi keinginan. Keinginan tu gak ada habisnya bro and sis! Bersikap bijaklah, jauhkan sikap egois semasa single, prioritaskan berdasarkan KEBUTUHAN bukan KEINGINAN. Dana cadangan tetap dibutuhkan, kalau-kalau terjadi hal yang tidak diinginkan.
Ini baru masalah keuangan ya, ada lagi. Kalau sudah menikah ya siapkan dirimu untuk meluangkan waktu lebih banyak di keluarga, untuk anak serta istri/suami. Suatu saat ada teman yang mengajak pergi di akhir pekan misalnya, sedangkan istri sedang hamil dan menginginkan kamu untuk menemaninya. Pilihlah untuk menemani istrimu! Orientasikan dirimu untuk keluarga, jangan ke teman-teman lagi. Sudah lewat masanya bro, temanmu yang sekarang ngajakin pergi mungkin masih single, bila dibalik, saat mereka sudah menikah lalu kamu ngajakin nongkrong belum tentu mereka mau. Rugi di kamu kan kalau udah gitu.. haha.

Siap mengurus orang lain atau bahkan bayi?
Nah ini nih, mungkin kalau udah cinta rasanya siap deh melakukan apa saja demi yang tersayang. Tapi bisa jadi pikiran itu berubah setelah menikah. Terutama bagi wanita, sudah kewajibannya mengurus suami, anak dan rumah. Sebagian mungkin meninggalkan pekerjaan untuk full time ngurusin rumah tangga, contohnya ya saya lagi. Sebelumnya saya ini terbiasa mandiri, ngurusin apapun kalau bisa dilakukan sendiri dulu ya gak bakalan minta tolong orang lain. Kebetulan dapetnya suami yang #uhuk agak manja, patriarki banget. Semua-semua kebutuhan dia kalau bisa aku juga yang layanin, begitu juga urusan rumah tangga semua aku yang beresin. Awalnya sih semangat, lama-lama jenuh juga, terus ngedumel, kenapa sih begini aja gak mau ngerjain sendiri..  Nah jadi pembelajarannya adalah: belajar ikhlas, dan kalau bisa buat komitmen dari awal nikah, lebih bagus dari sebelum nikah gimana pembagian tugas-tugas rumah tangga nantinya. Gak selamanya pria Cuma ngurusin urusan public (mencari nafkah), ketahuilah bahwa istri anda akan sangat senang bila anda ikut serta bantu-bantu urusan domestic (pekerjaan rumah tangga). Bahkan ada penelitian yang menyebutkan pria yang membantu wanitanya mengurus rumah tidak rentan terhadap perceraian. Apalagi kalau udah ada bayi, suami hendaknya pengertian bahwa sejak hamil sebenarnya kemampuan fisik wanita sudah tidak sama. Setelah melahirkan proses pemulihannya pun belum tentu cukup sebulan. Jadi gak ada salahnya pria membantu urusan rumah tangga dan atau mengurus bayi. Gak mudah lho mengurus bayi itu, bersiaplah untuk berkurangnya waktu istirahat.
Siap merasakan sakit?
Yang ini mungkin terkesan agak lebay. Tapi sangat mungkin terjadi pada pernikahan siapapun. Orang yang paling kita sayangi memiliki potensi untuk menjadi orang yang paling menyakiti hati kita. Hehehe. Penyatuan karakter yang berbeda memang tidak akan pernah mulus halus kayak jalan tol. Lihat saja hubungan kakak-adik, atau saudara kembar sekalipun pasti pernah berantem karena perbedaan pendapat/keinginan. Ya sama dengan pernikahan. Berantem-berantem kecil itu biasa, jadi gak biasa kalau dibesar-besarkan, karena semua dimasukin ke hati. Saat menikah mungkin akan merasakan berkali-kali patah hati, sakit hati, kecewa, dll, tapi inget nih… janji sehidup semati sudah dicatat sama Tuhan. Seberat apapun masalahnya, sesakit apapun rasanya, inget Allah ya.. Cobaan yang berat akan membuat kita semakin kuat. Dan sebenarnya tidak ada masalah yang berat, karena Allah memberikan ujian sesuai dengan kemampuan kita =)
Ini kesimpulannya. Pernikahan adalah a long time commitment atau bisa dibilang a life time commitment. Sekali menikah ya gak bakalan bisa mundur dari segala tanggung jawab yang menyertainya. Kamu tidak bisa meminta pemeran pengganti atas semuanya. Tidak bisa memutar balik waktu saat menjadi orang tua. Mulailah beradaptasi sejak awal pernikahan hingga akhir hayat nanti. Saya pernah mendengar nasehat dari seseorang, bahwa pernikahan itu perlu belajar yang tak kunjung usai. Karena pernikahan itu tidak ada kursusnya, dan tidak bisa latihan, cepat atau lambat sama saja. Inget pacaran tidak sama dengan pernikahan. Jadi yang saya tulis di atas ini bukan jadi alasan untuk menunda pernikahan itu sendiri.  Jadi bersiap-dirilah =)

Kamis, 20 Juni 2013

Nyambut Gawe (Sebuah Renungan Bagi yang Merasa Menjadi Pengangguran)

Kerja kerja kerja kerja
Seberapa sering kita mendengar kata itu dari orang lain?
Seberapa sering juga kita mengucapkannya?
Sangat sering pula orang menuliskannya di facebook, tweet,sms dll.
Ya memang benar..
Kata "kerja atau bekerja" sudah sangat familiar di kehidupan kita
Bahkan sejak kita belum tahu artinya apa.
Coba perhatikan anak usia 2 tahunan, yang baru belajar bicara..
Pengasuh atau terkadang orang tuanya sendirilah yang mengajarinya menjawab apabila ditanya "ayah mana?"

"Kerja" begitu jawab si anak.

Tanpa benar-benar mengerti apa sih artinya kerja? Mungkin itu juga yang terjadi pada kita semasa masih kecil

Sedari jaman sekolah dulu, kalau saya mikirin tentang kerja, pasti kebayang sebagaimana Bapak saya dulu. Pakai pakaian rapi, trus ke kantor. Tapi gak kebayang apa yang dilakukan Bapak waktu itu.

Bahkan sampai saya jadi sarjana, kata 'kerja' masih samar-samar wujudnya.
Sekalipun saya sudah berbekal pengalaman organisasi nonprofit dan menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan akademis yang berbonus uang. Saya pernah mendadak jadi marketing di sebuah konsultan pendidikan studi luar negeri. Setelah itu saya mendapatkan tantangan baru, menjadi staf pengajar di perguruan tinggi. Tapi sayangnya gak bisa berlangsung lama, kontrak kerja hanya 1 semester saja.

Akhirnya saya jobless lagi..
Mulai merangkai lagi apa yang saya bisa dan apa yang saya harapkan.
Nah sejak ini saya mulai teliti melihat wujud 'kerja'

Menyapu, ini benar sebuah kata kerja, dan ternyata ada yang memperolah uang dari satu kata kerja ini saja. Tukang sapu di jalan.

Melinting, sebuah kata kerja lagi, dan ternyata dari kata ini pun ada yang bisa mendapatkan uang. Buruh linting rokok.

Melukis, eehh ternyata bisa menghasilkan uang juga. Pelukis.

dll

Jadi pada dasarnya kerja itu perwujudan dari kata kerja yaa..

Kata kerja, sebagaimana dalam Kamus Wikipedia Indonesia berarti kata yang menyatakan suatu tindakan atau pengertian dinamis. Contohnya sederhananya: menyapu, menulis, menyuci, menggambar, menghitung, memasak.

Sebagaimana kata "bekerja" artinya adalah melakukan "kata kerja"

Jadi ternyata konsep bekerja itu sederhana ya. Tapi begitu banyak yang mengaku sebagai pengangguran. padahal buanyaaaak sekali kata kerja dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, apakah tidak ada satupun yang bisa kita lakukan???

Maksimalkan apa yang kita bisa. Wujudkan, dan dapatkan hasilnya. jangan hanya menunggu dikaryakan, marii berkaryaa..

Hehehe. Oke. Sekarang yang masih merasa jadi pengangguran, pikirkan kembali, apa yang bisa kamu kerjakan??? Syukur-syukur bisa menghasilkan uang. Saya kasih contoh ya...

Kamu bisa membuat kue? Kenapa tidak mencoba membungkusnya lalu menjualnya pada orang lain. >> Ada 3 kata kerja di sini : membuat, membungkus, menjual. Tuh gak nganggur lagi kan? Insyaallah kamu juga akan menghasilkan uang dari pekerjaan ini..

Simple kan? Contoh yang lain deh, hitung sendiri berapa kata kerjanya ya..

Kamu suka menulis? Kenapa tidak mencoba mengirimkan tulisanmu pada majalah/ koran lokal?
Kamu bisa membuat web? Kenapa tidak menawarkan jasa pembuatan web tersebut kepada orang lain?

Fokus pada apa yang bisa kamu lakukan, ketrampilan, pengetahuan, atau kelebihanmu, niscaya kamu gak nganggur lagi.. 
Kuncinya: Jangan menyerah dan mau mencoba.

Wrote by Emamiridya E. Yupi
Ex Career Counselor at Telkom University