Sabtu, 27 Maret 2010

...

Mungkin ini hukuman bagi mereka yang bermain dengan rasa..
Mestinya kita menjaga rasa agar tak ada yang terluka.
Ketika dihadapkan pada sebuah pilihan
Nyatanya memilih jadi menyakitkan..
Pengorbanan, pengatasnamaan akan rasa sakit itu

Aku yang memilih, maka aku yang menanggung..
Ketika aku memilih hati itu, maka hatinya lah yang kan terluka..
Sejujurnya bukan hanya dia, tapi juga aku..
Aku kehilangannya..
Bagian indah dari hari-hariku dulu,,

Sahabatku yang terlanjur mencintaiku..

Kamis, 18 Maret 2010

Mengimani Hari Pendadaran Seperti Hari Kiamat

saya sempat mengalami ketakutan yang amat sangat waktu mendekati hari pendadaran..
hitungan waktu terasa lebih cepat dari biasanya.

H-7
seminggu sebelum hari H saya mendapatkan jadwal pendadaran..
Rabu, 17 Maret 2010 pukul 08.00.
saya sengaja tidak mengabari sahabat-sahabat terdekat saya. yang saya beri tahu hanya keluarga, teman kantor, teman satu dosen bimbingan, dan pacar. udah.
alasannya: takut di vonis gak lulus, jadi mending yang tahu sedikit aja lah..

yayayaya.. saya parnoid. saya takut beneran. makin saya baca-baca skripsi saya, saya semakin banyak menemui kekurangan-kekurangan.
bila saya bayangkan wajah2 dosen penguji dan situasi yang belum pernah saya jumpai, tiba-tiba rasanya oksigen tercekat di dada saya. huffh..

saya yang biasanya optimis jadi pesimis.
saya yang biasa gak doyan makan jadi freak banget lihat makanan. semua jadi lebih enak dari biasanya.

H-2
saya ke kampus..
melihat adik-adik kelas saya yang bejibun..
rasanya kampus ramai sekali..

saya jadi berpikir: mereka semua yang di sini, yang menginginkan lulus jadi sarjana kelak juga akan mengalami hari pendadaran. berarti saya tidak sendiri. berarti tak ada yang perlu ditakuti. cepat atau lambat ini harus dilalui..

hari pendadaran jadi seperti hari kiamat.

maksudnya bukan sebagai hari akhir,
tapi sebagai sesuatu yang pasti akan terjadi, baik cepat ataupun lambat.


yang bisa dilakukan untuk mempersiapkan kedua hari itu, hanyalah usaha dan doa.

jadi sebenarnya apapun keputusan tim penguji, yang terpenting saya sudah melakukan semua proses dengan sebaik-baiknya. saya sudah berusaha dan berdoa.
maka biar alam yang memutuskan, kelayakan saya..
saya layak LULUS atau Tidak LULUS.

biar Tuhan yang berkehendak, Ia Maha Mengetahui hal yang terbaik bagi umatNya.

Hari H
saya bangun pukul 05.00
sholat, mandi, dan bersiap2..
baju yang saya kenakan saat itu: rok kembang warna-warni dengan atasan putih dan jilbab putih. *rok saya pilih karena menandakan kesegaran dan keceriaan.
atasan putih saya pilih karena menunjukkan kejujuran..

singkat cerita...
semua berjalan dengan menyenangkan. hingga saya diminta keluar ruangan untuk menunggu mereka berunding mengenai kelayakan saya,
maka dalam hati, saya terus meyakini apa yang saya teriakkan dari hari kemarin bahwa..
SAYA PASSTI LULUS.

and I DID IT!

terima kasih ya Allah.

Jumat, 12 Maret 2010

Kisah Si Belalang dan Si Semut

Saya mau sharing, tentang suatu cerita yang pernah saya baca dari buku filsafah Jepang secara gratis di Toga Mas beberapa waktu lalu. Maaf saya lupa judulnya apa. Maklum, saya cuma hobi baca ditempat, kadang tanpa bermaksud membelinya. :D

Ada seekor semut dan belalang. Semut sedang sibuk mengankut-angkut makanan yang kemudian dibawa ke sarangnya di bawah tanah. Semut nampak sangat berusaha keras, mondar-mandir membawa makanan. Lalu Belalang menyapanya, “Hai Semut, ayo kita bermain. Kau pasti lelah bekerja?”

Lalu Semut menjawab, “Maaf, aku harus mempersiapkan persediaan makanan. Kau tak bisa menggangguku! Lebih baik kau main sendiri saja! Aku masih harus bekerja!”
Belalang pun pergi meninggalkan Semut.

Keesokan harinya, belalang kembali menemui Semut yang masih sibuk bekerja keras mengumpulkan makanan. Kali ini belalang tak berani mengusiknya.

Keesokan harinya lagi, Belalang masih saja berusaha menemui Semut, dan sama seperti hari-hari sebelumnya, Semut tetap bekerja. Lalu belalang memberanikan diri untuk menyapa semut, “Semut, sudahlah main saja kau denganku hari ini. Apakah kau tidak capek berhari-hari terus bekerja?”

Semut menjawab, “Aku harus mempersiapkan diri., menjaga kelangsungan hidupku dan keluargaku. Aku tidak mau sepertimu, Belalang! Kau hanya bisa bermain, tanpa berpikir panjang! Bagaimana bila nanti musim salju datang?! Pasti kau akan mati kelaparan!”

Tak disangka oleh si Semut, Belalang tertawa terbahak-bahak, dan berkata kepada Semut “Tidak kah kau tahu di mana kau tinggal sekarang? Ini Indonesia, maka tidak akan pernah ada musim salju!”

Semut tercengang, bengong melihat Belalang yang belum berhenti menertawainya.

---
Begitulah ceritanya (Dengan improvisasi, karena lupa-lupa ingat. Hehe)

Di tengah-tengah cerita, saya menerka bahwa si Belalang akan jera karena ia malas, tidak bekerja keras seperti apa yang dilakukan si Semut.

Tapi ternyata saya malah dibuat kaget dengan ending ceritanya. Lalu, si Penulis meninggalkan petuah bagi pembaca, bahwasanya kita hidup harus memiliki tujuan, harus memiliki pengetahuan dan wawasan yang menunjang demi mencapai tujuan itu. Kerja keras saja tidak akan cukup bila tidak berlandaskan tujuan yang tepat, karena akan menjadi sia-sia dan membuang waktu saja.

^_^