Jumat, 21 Oktober 2011

Menentukan Pilihan



Tugas saya saat menjadi Konselor Karir, salah satunya adalah membantu mahasiswa/ alumni untuk mendapatkan pekerjaan. Selain itu, menjadi hal yang biasa bagi saya untuk membantu mahasiswa/alumni membuat sebuah keputusan diantara beberapa pilihan yang menyangkut karir mereka di masa yang akan datang, seperti ini misalnya. 

Perusahaan A atau Perusahaan B ?
Masih takut mengambil keputusan? Ragu mau terima tawaran kerja yang udah di depan mata? Atau masih dilanda kebimbangan dengan dua tawaran di tempat yang berbeda? Ada beberapa hal yang dapat dijadikan pertimbangan, diantaranya adalah lima hal utama di bawah ini:

1. Posisi Kerja

Posisi kerja ini akan berkaitan dengan kemampuan/ kompetensi yang kita miliki. Posisi kerja memang tak selalu sesuai dengan background pendidikan. Selama kita qualified dengan standar perusahaan atau memiliki kemauan, sebenarnya posisi apapun tidak menjadi masalah. Bila harus memilih, maka pilihlah posisi kerja yang lebih Anda sukai atau lebih menjanjikan karir yang berkembang.

2. Gaji

Tidak perlu menutup mata, bahwa tujuan utama seseorang bekerja adalah untuk mendapatkan penghasilan agar dapat hidup layak. Namun sebelum bekerja, minimal jobseeker harus tahu standar gaji posisi yang dilamar. Cara mengetahuinya bisa dengan bertanya pada senior yang pernah bekerja di posisi tersebut, atau didapat dari search engine. Tapi sebagai gambaran nih, berdasarkan pengalaman saya mencari tahu sana sini, untuk D3 standar hidup di Jakarta itu berkisar 1,5-2,5 jt. Sedangkan untuk lulusan S1 lebih beragam lagi, sangat tergantung besar kecilnya perusahaan tersebut dan posisi yang ditawarkan.

Sebagai contoh, untuk posisi Frontliner di Bank, take home pay mulai dari 1,8 juta (kontrak outsource) sampai 2,2 juta di awal. Selain bank, untuk posisi officer juga mulai dari 1,8 – 2,7 di awal.

Apabila ingin mendapatkan penghasilan 3 juta ke atas maka silakan incar posisi MT (Management Trainee),ODP (Officer Development Program), atau MDP (Management Development Program). Istilahnya bisa saja berbeda di setiap industry, tapi intinya adalah orang-orang yang terpilih akan training selama beberapa bulan untuk langsung mendapati posisi selevel supervisor setelah training berakhir. Program percepatan karir seperti ini menjadi popular salah satunya karena income yang menggiurkan.

Tapi apabila Anda mendapatkan tawaran 1,5 – 1,8 juta di Jakarta jangan terburu menolaknya lebih dulu. Tanyakan apakah gaji itu sudah termasuk tunjangan-tunjangan. Apakah ada tunjangan lembur? Transport? Makan siang? Bonus? Insentif triwulan? Jaminan kesehatan? Karena sebenarnya masih banyak komponen penghasilan, tidak semata pada gaji pokok atau take home pay per bulannya.

Dan yang perlu digaris bawahi adalah sebesar atau sekecil apapun pendapatan seseorang, yang menentukan keberlangsungan hidup adalah gaya hidupnya. Mau digaji 5 juta perbulan tapi suka gonta-ganti gadget, ke café tiap hari, juga jadi hal yang sia-sia. Maka aturlah keuangan sebaik mungkin.

3. Kesempatan Berkarir dan Berkembang

Poin ini penting untuk diperhatikan. Perusahaan besar biasanya menawarkan gaji besar, tapi terkadang jarang memberikan kesempatan karyawannya untuk berkembang. Hal ini biasa disebabkan oleh jumlah karyawan yang banyak dan persaingan yang ketat.

 Gaji awal bisa saja besar, namun bayangkan bila kita berada diposisi yang sama selama beberapa tahun ke depan. Kebanyakan akan merasa jenuh, digantung, tak bersemangat bekerja dan bisa jadi berakhir pada pengunduran diri. Nah sebelum terlanjur seperti itu, cari tahu jenjang karir yang ada di perusahaan tersebut. Selain itu cari tahu juga apakah ada upaya peningkatan kompetensi yang akan diberikan perusahaan? Misal adanya pelatihan, diklat, dll. Intinya bayangkan apa yang akan terjadi pada Anda 2 tahun, 3 tahun, 5 tahun ke depan hingga bila perlu hingga pensiun nanti.

Hindari perusahaan yang menawarkan kontrak temporary, seperti hanya selama 1 tahun bekerja, atau tanpa ada kejelasan jangka waktu kontrak hingga diangkat sebagai pegawai tetap. Lalu untuk mengatasi persaingan yang tetat, pastikan bahwa persaingan tersebut menjadi tekanan yang positif, yang memotivasi agar terus meningkatkan kinerja kita. Bila tidak yakin akan kemampuan bersaing ini, mungkin ada baiknya mencari tempat bekerja yang tidak terlalu dinamis.

4. Citra perusahaan

Kenali perusahaan tersebut. Bisa dengan bertanya pada senior yang pernah bekerja di sana, atau searching di google atau kaskus misalnya. Bila citra perusahaan terjaga atau bahkan ternama, maka tak perlu ragu untuk memilihnya.

5. Lingkungan Kerja

Perhatikan lokasi kerja perusahaan tersebut. Apakah berada di posat kota, atau sebaliknya jauh dari peradaban? Hal ini perlu diperhatikan karena berkaitan living cost dan akses transportasi. Lalu di manakah penempatan kerja? Hal ini patut untuk dipertimbangkan karena perbedaan kota juga akan mempengaruhi ritme kerja.

Setelah melihat pertimbangan-pertimbangan di atas, waktunya untuk membuat sebuah keputusan. Jangan takut salah pilih.
 Menentukan pilihan bukan perkara benar atau salah, melainkan kesempatan untuk belajar memegang tanggung jawab pribadi dan menghadapi konsekuensi dari pilihan itu sendiri.

Teruslah belajar, karena setiap apa yang terjadi pada kita, tak pernah dimaksudkan Tuhan untuk menjadi hal yang sia-sia.