Saat remaja
dulu, berpikir tentang pernikahan itu ceremony-nya adalah hal yang utama. Dilangsungkan
pada tanggal cantik dan diselenggarakan dengan meriah dan indah. Sampai-sampai
saya saat itu yang masih berusia kurang dari 17 tahun sudah merencanakan akan
menikah pada tanggal 11-11-11 atau 12-12-12. Itu saya dulu. Bila hingga saat
ini masih ada orang mengidentikan
pernikahan dengan penyelenggaran pestanya, saya pun tak bisa menyalahkan. Tapi
bukankah ada hal yang jauh lebih besar dan penting dalam menuju jenjang
pernikahan itu sendiri?
Pernikahan
adalah keutuhan, bersatunya kasih sayang dua orang. Pernikahan adalah suatu
kepastian hati, kesatuan tujuan, dan kebahagiaan. Dua orang yang menikah tidak
akan lagi berbicara dengan bahasa aku atau kamu, tapi kita. Kamu itu aku dan
aku itu kamu. Ini adalah definisi pernikahan bagi saya. Dan selebihnya tentang
pernikahan pun sudah terjanjikan dengan lebih indah melalui HR berikut:
“Sesungguhnya,
apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang) dan
isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan
memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang
suami memegangi jemari
isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala
jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id)
Subhanallah…
Bila benar
begitu lalu buat apa menunda pernikahan? Apalagi kalau sudah ada calonnya..
Seperti tegaskan dalam HR berikut:
“Rasulullah
Saw bersabda kepada Ali Ra: “Hai Ali, ada tiga perkara yang janganlah kamu
tunda-tunda pelaksanaannya, yaitu shalat apabila tiba waktunya, jenazah bila
sudah siap penguburannya, dan wanita (gadis atau janda) bila menemukan
laki-laki sepadan yang meminangnya.” (HR. Ahmad)
“Tiga
golongan yang berhak ditolong oleh Allah : 1. Orang yang berjihad / berperang
di jalan Allah. 2. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. 3. Pemuda/ pemudi yang
menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram” (HR. Tirmidzi, Ibnu
Hibban dan Hakim)
Usiaku sudah
23 tahun. Jauh-jauh hari aku sudah menyusun rencana hidupku untuk menikah di
usia 24 tahun dan memiliki anak di usia 25 tahun. Yes, I almost get there… Dengan
siapapun saya berlabuh, saya hanya ingin pastikan bahwa saya benar-benar menyayanginya,
kesediaannya untuk bersabar atas banyaknya kekurangan saya, mencurahkan kasih
sayang dan menjaga kesetiaannya selama mendampingi saya nantinya. Dan 1 hal lagi
yang tak kalah penting, ia harus memiliki kewibawaan, iman dan taqwa yang cukup
untuk membimbing saya dan anak2 saya nantinya. Bukan karena harta atau fisiknya
semata..
“Barangsiapa
yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk
agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa
yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan
kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya
kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan
menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin
menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah
senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR.
Thabrani)
Lalu kalau
ditanya bagaimana harapan saya tentang pernikahan saya nantinya saya gak punya
harapan muluk. Yang penting bukan bagaimana ritualnya tapi dengan siapa
nantinya saya akan menghabiskan sisa hidup saya.
“Wanita yang
paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al
Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)
Kalau
walimah itu perlu, saya mau diselenggarakan di hari yang sama dengan akad
nikah, biar gak ribet dan repotnya cukup sehari. Beberapa pilihan bisa
dilakukan. Mungkin saya akan menikah di Masjid yang memiliki hall atau
pelataran yang cukup untuk resepsi kecil-kecilannya. Atau pilihan kedua, tetap
dibuat 2 hari, tapi di hari resepsinya saya tidak mau sewa gedung, cukup book
satu restoran dan pesan menu yang ada di sana, sehingga dapat menekan biaya
sewa dan tidak takut kehabisan stok makanan untuk tamu-tamu yang datang
belakangan. Di restoran itu tinggal susun pelaminan dan dekorasi minimalis aja.
Imaji saya kalau bisa sih restonya yang terbuka, jadi garden party gitu, undangannya
jam 15.00-17.30 aja, jadi suasananya sore menjelang senja gitu. Gak ada
gubuk2an, langsung prasmanan dan
ditambah koktail buah-buahan gitu. Kalau kostum saya pun maunya gak pakai
kebaya, tapi busana muslim warna putih dan calon suami pakai jas aja. Simple.
Idealisme
saya maunya segala hal berkaitan dengan pernikahan saya itu saya dan calon
suami saya sendiri yang tanggung. Orang tua dan keluarga lainnya cukup merestui
dan mendoakan saja. Jadi adanya pesta atau tidak ya tergantung dengan kemampuan
saya saat itu. Kalaupun habis-habisan, saya percaya rejeki itu akan datang lagi…
“Rasulullah
SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu.
Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka” (Al Hadits)
Rumah Tangga
Yang
terutama bagi saya menikah itu adalah menyatukan dua orang, dan tinggal dalam
satu rumah. Gak ada cerita keluarga saya nanti terpisah oleh jarak, seperti
banyak pasangan yang melakukannya demi pekerjaan atau studi. Aah pacaran jarak
jauh aja tersiksa, apalagi sudah suami istri.. Kalau bisa sih ke mana pun suami
saya pergi saya ikut.
Saya rela
meninggalkan pekerjaan saya bila tempat saya bertugas itu berbeda kota dengan
domisili suami saya. Hakikatnya seorang istri adalah mendampingi suami. Kalau
terpisah, kasihan suami saya donk, sama saja seperti bujang. Kasihan saya juga
jadi jablay. Ketika saya
sudah menentukan pilihan, segala konsekuensi harus diterima dan dijalankan.
Saya akan
tetap bekerja, dengan ketentuan saya harus pulang lebih dulu dari suami saya. Supaya
setiap hari saya tidak kehilangan momen menyambut kedatangannya, cium telapak
tangannya, dapat kecupan di kening saya, membukakan setelan kerjanya lalu
menyiapkan makan malam baginya. Kebahagian yang bagaimana lagi yang bisa menandingi
masa-masa seperti itu?
“Pikirkanlah
sikapmu kepadanya (suami), karena sesungguhnya ia adalah surgamu dan juga
nerakamu.” (HR. Ahmad, dan Al Hakim)
Dan ketika
saya sudah siap menjadi ibu, saya harus relakan pekerjaan saya menjadi nomer 4
diantara lainnya. Tugas utama seorang ibu adalah mengasihi anaknya, bukan
bekerja mencari nafkah.. Saya tidak mengharapkan anak saya diasuh oleh baby
sitter atau neneknya. Pada masa seperti ini saya berkeinginan untuk membuka
usaha saja. Atau bekerja paruh waktu. Intinya supaya sebagian besar waktu saya
tetap menjadi milik anak dan suami. Sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga
bukanlah hal yang buruk, ini adalah karir yang sesungguhnya wanita perlu kejar.
Lifelong career woman is
being a mother and wife.
Keberhasilan wanita adalah mampu menciptakan rumah tangga yang
bahagia dan utuh, sebaliknya kegagalan wanita adalah mencampakkan keluarganya
demi hal-hal duniawi yang tidak dibawa sampai mati.
Sebuah niat
tlah tertanam kini. Bismillahirrahmanirrahim..
Dituliskan untuk
calon suamiku, MBD :)