Minggu, 17 Juni 2012

Tentang Pernikahan dan Karier

Saat remaja dulu, berpikir tentang pernikahan itu ceremony-nya adalah hal yang utama. Dilangsungkan pada tanggal cantik dan diselenggarakan dengan meriah dan indah. Sampai-sampai saya saat itu yang masih berusia kurang dari 17 tahun sudah merencanakan akan menikah pada tanggal 11-11-11 atau 12-12-12. Itu saya dulu. Bila hingga saat ini masih ada  orang mengidentikan pernikahan dengan penyelenggaran pestanya, saya pun tak bisa menyalahkan. Tapi bukankah ada hal yang jauh lebih besar dan penting dalam menuju jenjang pernikahan itu sendiri? 

Pernikahan adalah keutuhan, bersatunya kasih sayang dua orang. Pernikahan adalah suatu kepastian hati, kesatuan tujuan, dan kebahagiaan. Dua orang yang menikah tidak akan lagi berbicara dengan bahasa aku atau kamu, tapi kita. Kamu itu aku dan aku itu kamu. Ini adalah definisi pernikahan bagi saya. Dan selebihnya tentang pernikahan pun sudah terjanjikan dengan lebih indah melalui HR berikut:
“Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari
isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id)  

Subhanallah…
Bila benar begitu lalu buat apa menunda pernikahan? Apalagi kalau sudah ada calonnya.. Seperti tegaskan dalam HR berikut: 

“Rasulullah Saw bersabda kepada Ali Ra: “Hai Ali, ada tiga perkara yang janganlah kamu tunda-tunda pelaksanaannya, yaitu shalat apabila tiba waktunya, jenazah bila sudah siap penguburannya, dan wanita (gadis atau janda) bila menemukan laki-laki sepadan yang meminangnya.” (HR. Ahmad)
“Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah : 1. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. 2. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. 3. Pemuda/ pemudi yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim) 

Usiaku sudah 23 tahun. Jauh-jauh hari aku sudah menyusun rencana hidupku untuk menikah di usia 24 tahun dan memiliki anak di usia 25 tahun. Yes, I almost get there… Dengan siapapun saya berlabuh, saya hanya ingin pastikan bahwa saya benar-benar menyayanginya, kesediaannya untuk bersabar atas banyaknya kekurangan saya, mencurahkan kasih sayang dan menjaga kesetiaannya selama mendampingi saya nantinya. Dan 1 hal lagi yang tak kalah penting, ia harus memiliki kewibawaan, iman dan taqwa yang cukup untuk membimbing saya dan anak2 saya nantinya. Bukan karena harta atau fisiknya semata..

“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR. Thabrani)  

Lalu kalau ditanya bagaimana harapan saya tentang pernikahan saya nantinya saya gak punya harapan muluk. Yang penting bukan bagaimana ritualnya tapi dengan siapa nantinya saya akan menghabiskan sisa hidup saya. 

“Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih) 

Kalau walimah itu perlu, saya mau diselenggarakan di hari yang sama dengan akad nikah, biar gak ribet dan repotnya cukup sehari. Beberapa pilihan bisa dilakukan. Mungkin saya akan menikah di Masjid yang memiliki hall atau pelataran yang cukup untuk resepsi kecil-kecilannya. Atau pilihan kedua, tetap dibuat 2 hari, tapi di hari resepsinya saya tidak mau sewa gedung, cukup book satu restoran dan pesan menu yang ada di sana, sehingga dapat menekan biaya sewa dan tidak takut kehabisan stok makanan untuk tamu-tamu yang datang belakangan. Di restoran itu tinggal susun pelaminan dan dekorasi minimalis aja.  Imaji saya kalau bisa sih restonya yang terbuka, jadi garden party gitu, undangannya jam 15.00-17.30 aja, jadi suasananya sore menjelang senja gitu. Gak ada gubuk2an, langsung prasmanan  dan ditambah koktail buah-buahan gitu. Kalau kostum saya pun maunya gak pakai kebaya, tapi busana muslim warna putih dan calon suami pakai jas aja. Simple.

Idealisme saya maunya segala hal berkaitan dengan pernikahan saya itu saya dan calon suami saya sendiri yang tanggung. Orang tua dan keluarga lainnya cukup merestui dan mendoakan saja. Jadi adanya pesta atau tidak ya tergantung dengan kemampuan saya saat itu. Kalaupun habis-habisan, saya percaya rejeki itu akan datang lagi…

“Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka” (Al Hadits)

Rumah Tangga

Yang terutama bagi saya menikah itu adalah menyatukan dua orang, dan tinggal dalam satu rumah. Gak ada cerita keluarga saya nanti terpisah oleh jarak, seperti banyak pasangan yang melakukannya demi pekerjaan atau studi. Aah pacaran jarak jauh aja tersiksa, apalagi sudah suami istri.. Kalau bisa sih ke mana pun suami saya pergi saya ikut. 

Saya rela meninggalkan pekerjaan saya bila tempat saya bertugas itu berbeda kota dengan domisili suami saya. Hakikatnya seorang istri adalah mendampingi suami. Kalau terpisah, kasihan suami saya donk, sama saja seperti bujang. Kasihan saya juga jadi jablay. Ketika saya sudah menentukan pilihan, segala konsekuensi harus diterima dan dijalankan. 

Saya akan tetap bekerja, dengan ketentuan saya harus pulang lebih dulu dari suami saya. Supaya setiap hari saya tidak kehilangan momen menyambut kedatangannya, cium telapak tangannya, dapat kecupan di kening saya, membukakan setelan kerjanya lalu menyiapkan makan malam baginya. Kebahagian yang bagaimana lagi yang bisa menandingi masa-masa seperti itu?

“Pikirkanlah sikapmu kepadanya (suami), karena sesungguhnya ia adalah surgamu dan juga nerakamu.” (HR. Ahmad, dan Al Hakim)

Dan ketika saya sudah siap menjadi ibu, saya harus relakan pekerjaan saya menjadi nomer 4 diantara lainnya. Tugas utama seorang ibu adalah mengasihi anaknya, bukan bekerja mencari nafkah.. Saya tidak mengharapkan anak saya diasuh oleh baby sitter atau neneknya. Pada masa seperti ini saya berkeinginan untuk membuka usaha saja. Atau bekerja paruh waktu. Intinya supaya sebagian besar waktu saya tetap menjadi milik anak dan suami. Sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga bukanlah hal yang buruk, ini adalah karir yang sesungguhnya wanita perlu kejar. 

Lifelong career woman is being a mother and wife

Keberhasilan wanita adalah mampu menciptakan rumah tangga yang bahagia dan utuh, sebaliknya kegagalan wanita adalah mencampakkan keluarganya demi hal-hal duniawi yang tidak dibawa sampai mati. 

Sebuah niat tlah tertanam kini. Bismillahirrahmanirrahim.. 


Dituliskan untuk calon suamiku, MBD :)

Sabtu, 02 Juni 2012

Tentang Karir

Zaman saya sekolah dulu, saya tidak punya gambaran tentang pekerjaan yang akan saya geluti nantinya. Jenis pekerjaan yang nyata saat itu hanya dokter atau presiden, tapi saya tidak pernah bercita-cita untuk menjadi keduanya.
Sampai pada masa SMA saya mulai punya cita-cita yang tak lagi labil seperti masa kanak-kanak dulu, yakni menjadi seorang Guru TK. Alasannya simple, karena saya selalu jatuh cinta dengan anak kecil. Dan berhubung sejak SMP saya sudah jadi tante, mungkin semenjak itulah jiwa keibuan saya muncul karbitan (belum saatnya). Gimana gak pengen jadi ibu kalau liat bentuk-bentuk ponakanku yang imut-imut gini?

Kemudian ketika masuk ke bangku kuliah, ada beberapa hal yang sedikit mengubah keyakinan saya tentang pekerjaan.: lagunya Ne Yo berjudul Miss Independent, dan majalah Femina. Apanya yang menarik dari kedua hal tersebut sehingga membuat saya berubah pikiran? Lagi-lagi alasan saya sederhana, saya hanya ingin menjadi tokoh yang berkarakter seperti yang ada dalam lagu tersebut dan berpenampilan seperti model-model di majalah itu. Haha. As that simple and silly.

Then ini percobaan saya semasa kuliah untuk menjadi seperti "Wanita Karir".

Sejalan dengan berlalunya waktu, saya mulai mencari arti dari 'Kerja' itu sendiri. Kalau kerja disebut sebagai suatu usaha untuk mendapatkan uang, artinya saya sudah mulai bekerja sejak saya belum lulus kuliah. Kerja jadi Asisten Praktikum, Asisten Dosen, Asisten Penelitian saya lakukan disela-sela kesibukan kuliah. Tapi saya masih belum merasakan bahwa hal yang saya lakukan itu adalah bekerja, meskipun saya dapat uang yang lumayan saat melakukan itu semua. Setelah itu saya  melamar pekerjaan setelah ditawari oleh senior saya. Menjadi marketing disalah satu lembaga konsultan pendidikan studi luar negeri, tak cukup membuat saya yakin bahwa ini juga yang disebut bekerja, karena saya tidak menggunakan pakaian resmi seperti yang saya lihat di majalah-majalah wanita dewasa itu. Kostum kerja saya saat itu masih ala anak kuliahan, jeans dan kemeja saja. Lalu saya berubah profesi jadi dosen sungguhan (bukan asisten lagi). Eh saya juga tidak merasa bahwa saya itu bekerja, karena modal saya hanya memahami materi dan mempresentasikannya di depan mahasiswa.

Tak lama kemudian saya hijrah ke Bandung, lalu ke Jakarta untuk bekerja pada masing-masing instansi yang berbeda. Penampilan saya pun mulai menyerupai "Wanita Karir" yang berhasil dicitrakan oleh majalah-majalah ke dalam kepala saya.


Tetap tak selayaknya model-model juga sih, hehe.

Saya mulai paham tentang bekerja (seperti kebanyakan orang) saat saya melakukan hal-hal  untuk memenuhi kepentingan suatu instansi dan bertanggung jawab atas itu. Lebih komplek, bekerja bukan hanya sekedar cari uang saja, tapi bagi sebagian  orang melakukannya sebagai pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri. Maka saya simpulkan dari situlah munjul istilah karir.

Karir adalah kenaikan tingkat dari tanggung jawab, kekuasaan dan pendapatan seseorang (Bambang Wahyudi, 162). Pandangan yang lebih luas daripada karir adalah sebagai suatu rangkaian atas sikap dan prilaku yang berkaitan dengan aktivitas pekerjaan dan pengalaman sepanjang kehidupan seseorang (individually perceived sequence of attitudes and behaviors associated with work-related activities and experiences over the span of a person’s life, Bernardin, 194). Menurut Gibson dkk. (1995: 305) karir adalah rangkaian sikap dan perilaku yang berkaitan dengan pengalaman dan aktivitas kerja selama rentang waktu kehidupan seseorang dan rangkaian aktivitas kerja yang terus berkelanjutan. Senada dengan itu Malthis menyatakan bahwa karir adalah rangkaian posisi yang berkaitan dengan kerja yang ditempati seseorang sepanjang hidupnya (hal.342).
(via  http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2011/07/06/definisi-karier/)

Baca lagi apa yang telah saya Bold di atas. Saya menekankan pada kata-kata sepanjang hidup/ selama rentang waktu kehidupan. Itu artinya kalau saya mau menjadi "Wanita Karir" saya harus merelakan diri untuk bekerja sepanjang hidup saya??
Pertanyaan selanjuttnya, jenis pekerjaan apa yang membuat saya mampu bertahan selama itu??
Benarkah saya harus merelakan kehidupan saya nanti demi kepentingan instansi tertentu? Bukan untuk diri saya dan kehidupan pribadi saya??
Apa saya akan bahagia dengan mengabdikan diri pada pekerjaan??
Lalu dimana peran wanita saya yang lainnya??


*bersambung...