Selasa, 27 September 2011

Berapa Pohon yang Telah Kamu Tebang?

Tolong jawab pertanyaan ini?

Kalau jawabanmu adalah "Saya tidak pernah menebang pohon sama sekali," maka kalau saya guru saya akan beri nilai NOL.

Kertas yang kita sehari-hari pakai itu terbuat dari apa?
Tissue yang kita buang-buang itu terbuat dari apa?
Lalu meja, kursi, dipan, lemari, bahkan sapu itu terbuat dari apa?
Ya dari pohon kan?

Hehehe. Saya cerita sedikit tentang saya ya, boleh lah yaaa..

Saya ini orangnya pelit.
Kalau pakai tissue secukupnya aja. Kalau beli tissue bukan yang kotak merk Paseo, atau Tessa, tapi pakai merk Multi, yang kecil ukuran persegi itu. Sebagai gantinya saya punya lap di kosan.

Eh ternyata saya bukan cuma pelit tapi ngiritt.
Kebiasaan saya sejak SD sampai SMA, tiap pergantian caturwulan atau semester belum tentu ganti buku tulis baru. Kalaupun gengsi pakai buku tulis lama, lembar sisa yang masih bersih itu pasti saya sobek dan saya jadikan satu dengan lembaran sisa buku lainnya lalu saya jadikan orek-orekan matematika (Bahasa Indonesianya 'orek-orekan" = coret-coretan). Bahkan sangking iritnya saya, waktu kuliah, isi binder saya itu ya kertas sisa buku tulis itu :D
Kertas HVS yang sudah dipakaipun saya kumpulkan dan saya gunakan sisi kosong lainnya untuk mencatat dll.

Hahaha konyol sih sebanarnya. Tapi setelah saya gedhe gini saya jadi tahu bahwa ada hikmah dibalik kebiasaan irit saya itu. Saya mungkin sudah menyelamatkan setidaknya 1 pohon untuk tetap hidup :)

Pelit dan irit saya bukan hanya dari penggunaan kertas dan tissue, tapi juga penggunaan plastik kresek.
Saya mengumpulkan kresek-kresek sisa belanja itu, dan terkadang saya bawa dilain waktu untuk membawa belanjaan lainnya (kalau yang ini masih sering lupa, tapi mau belajar biar gak lupa lagi). Bahkan jumlah kresek saya itu sudah memenuhi sebagian dari lemari saya sangking banyakknya. haha.

Buat apa saya begini?
Karena saya sadar, saya bukan tokoh heroik yang bisa menghentikan penebangan liar atau menyelamatkan bumi dari pemanasan global.
Saya hanya bisa melakukan ini.
Saya mungkin secara tidak langsung mengurangi beban bumi.
Selain mematikan listrik bila tak perlu, membuang sampah pada tempatnya dan menggunakan air bersih secukupnya.

Kalau saya bisa, mungkin kamu perlu mencoba juga agar jadi bisa dan biasa :)

Biar sedikit aksi, tapi berarti.
Daripada banyak laga tapi sia-sia. Pilih yang mana?

Kesalahan Kolektif dalam Bahasa Indonesia

Secara umum, kesalahan yang sering terjadi dalam penggunaan Bahasa Indonesia adalah:

Penulisan kata Jalan, yang bila disingkat adalah Jl. --> padahal yang betul Jln.

Penulisan kepala surat Kepada Yth. --> padahal yang benar adalah pilih salah satu Kepada saja atau Yth. saja

Penulisan penutup surat, misal: terima kasih atas perhatiaannya --> padahal yang benar adalah terima kasih atas perhatian Saudara/Anda/Bapak/Ibu langsung pada kata ganti orang yang dituju, bukan menggunakan imbuhan -nya yang artinya merujuk pada orang ketiga (berarti bukan orang yang membaca)

Penulisan kata silahkan --> padahal harusnya silakan

Penggunaan kata kita, padahal yang dimaksud adalah kami

Kesalahpahaman tentang arti acuh (biasa dianggap sinonim dari kata cuek) padahal arti yang sesungguhnya acuh adalah peduli. Jadi inget lagunya D'masiv, judulnya Cinta Ini Membunuhku

"kau membuatku tak berdaya, kau menolakku, acuhkan diriku"

Hehehe jadi gak nyambung kan kalau tahu arti yang sebenarnya :)


Ini sih sebagian kecil yang saya tahu. Tapi kalau dilihat seperti ini ironi juga ya, kita tinggal di Indonesia, jadi Warga Negara Indonesia, tapi masih sering keliru mengartikan Bahasa Indonesia...

Generasi sekarang justru berlomba-lomba bikin bahasa gaul

Heeemmm jadi penasaran, cetakan terbaru KBBI ada arti kata lebay gak ya?

Sabtu, 10 September 2011

Jangan Salahkan Doraemon

Beberapa waktu lalu saya berdebat dengan seorang teman.
Dimulai karena saya pamer desktop background laptop saya yang bergambar Spongebob dan Patrick.


Dengan nada pedas teman saya langsung berkomentar "Yang buat Spongebob kan homo, pesan yang terkandung dalam kartun itu pun adalah pesan homoseksual, lihat juga tuh kata-katanya di gambarmu."

Teman saya melanjutkan, "Makanya kartun spongebob itu gak cocok untuk ditonton anak-anak (*karena dianggap mengajarkan anak menjadi homo), dan tidak masuk akal. Mana ada kehidupan seperti kartun di Spongebob itu? Spongebob itu makhluk apa?"


Saya jawab, "Ya tergantung bagaimana melihatnya, kalau saya sih lihatnya itu sebatas mengajari persahabatan" tanpa melihat tendensi apapun. "Lagian ya mbak, selama anak itu didampingi saat menonton televisi, maka orang tua bisa menjelaskan hal apa yang baik dalam tayangan tersebut, dan apa yang tidak patut ditiru. Dan tidak ada salahnya untuk memunculkan karakter yang berbeda dari kehidupan normal, untuk melatih imajinasi dan kreativitas anak"

"Anak kan meniru apa yang dia lihat. Kartun yg bagus itu Dora," lanjut teman saya.

"Doraemon?"

"Bukan, Dora The Explorer. Doraemon juga gak baik untuk anak-anak. Apa-apa yang dimau bisa diwujudkan oleh kantung ajaib Doraemon. Makanya anak-anak sekarang jadi instan."

I'm stuck. Saat perbincangan itu terjadi saya sedang tidak "in" dan ditambah sebenarnya kami sedang dalam persiapan rapat, banyak orang dan saya sebenarnya bukan orang yang suka menyulut keributan.
Maka saya cut saja, "Loh kok kita jadi debat tentang kartun gini sih mbak?"


Teman saya menimpali, "Siapa yang debat? Lagian itu tidak perlu diperdebatkan, karena sudah jelas-jelas salah. Kamu anak psikologi gimana sih?!"

Eng ing eng...
Ada yang tidak tepat dalam pola pikir teman saya ini, dalam hati saya berkomentar.

Yang saya tahu, cara pandang lawan bicara saya penuh dengan judgement, label, bias, dan tertutup.

Ini menurut pandangan saya:
Anak kecil tidak berpikir seruwet orang dewasa. Anak kecil belum tahu konsep homoseksual. Maka berpikirlah sederhana, bahwa Patrick dan Spongebob adalah teman dekat. Lalu apakah salah bila kita bersahabat dengan sesama jenis?

Saya dulu pernah juga berpikir skeptis, bahwa film kartun itu tidak masuk akal karena karakter tokoh-tokoh di film tersebut tidak ada dalam dunia nyata. Cerita kartun pun tidak nyata, mengada-ngada. Tidak rasional, pikir saya saat itu.

Tapi saya tersadar, ketika saya menemani ponakan saya menonton kartun The Backyardigans. Saya melebur, menghayati scene demi scene kartun itu agar saya bisa menjadi translator ponakan saya yang saat baru berusia 1 tahun.



Dalam kartun ini ada 5 karakter hewan (yang sebenarnya saya tidak tahu pasti hewan apa, ada yg bisa sebutkan?) yang bersahabat dan selalu mengimajinasikan halaman belakang rumah mereka sebagai tempat berpetualang.

Lalu tanpa sadar saya merasa saya kembali menjadi seperti anak kecil yang terlarut dalam kartun tersebut.. ikut tertawa, dan ikut bernyanyi bersama ponakan :)

Sometimes adults need to go back to be a child.. Being simple, open-minded, honest, cheerful,and curios..

Jangan batasi pikir anak, mereka perlu mengembangkan terus imajinasinya agar tumbuh menjadi orang yang kreatif dan inovatif.

Think it twice or more..

Kalau Doraemon memang punya dampak buruk terhadap anak, mengapa Jepang merajai teknologi hampir di seluruh dunia???

Kalau anak menjadi berpola pikir instan, jangan salahkan Doraemon. Kemungkinan besar penyebabnya adalah kekeliruan pola asuh orang tuanya. Orang tua terlalu sibuk mencari uang, sehingga mereka melupakan pembelajaran tentang proses kepada anak-anaknya.

Salah satu contohnya adalah memberikan apapun yang anak mau hanya agar anaknya tak menangis.

Kecenderungan memberi semua keinginan itu sebagai pengganti kurangnya perhatian mereka terhadap anak.

Ituuu lhooo akar masalahnya, bukan semata-mata karena anak mereka nonton Doraemon.

Please stop pretending, and judging, but being open-mind and wiser, hi Adults..

PR untuk orang dewasa saat ini (termasuk saya) adalah: mempertahankan rasa ingin tahunya (sama seperti anak-anak) agar dapat mengetahui suatu hal dalam berbagai sudut pandang yang berbeda, lalu memilah perkara secara objektif, sehingga bisa menilai dan memutuskan secara bijaksana dan adil.

:) Peace :)