Bukan toko pakaian, karena meskipun saya pengikut model, tapi saya tidak pernah berniat untuk menggunakan pakaian atau stuff apapun yang sedang in di jamannya. Alasannya simple: saya hanya tidak mau terlihat sama dengan orang lain.
Bukan juga toko kaset (yang notabene juga sudah nggak jaman karena tergeser oleh popularitas MP3 bajakan seharga 7rb per keping). Terakhir kali saya beli kaset di Solo Grand Mall, dan ditertawai oleh teman-teman saya. Jauh-jauh plesiran dari jogja ke solo saya justru beli kasset Laskar Pelangi, bukan serabi solo atau batik solo. Kaset itu oleh-oleh buat om saya, seorang pecinta musik, yang sekalipun tidak pernah benar menyanyikan sebuah lagu.
Bukan juga toko awul-awul atau orang biasa juga menyebutnya toko sisa eksport. Menyenangkan sekali berada dalam toko ini, menjadi sebuah tantangan, seperti sedang mencari emas di hilir sungai. Wkwkwk. Sekali saya pernah ke sana, cukup lama memang, tapi cuma berhasil mendapat 1 aitem. Saya belum puas, lain kali saya pasti menyempatkan diri untuk pergi ke toko awul-awul yang bonafit sekalian (Dengar-dengar di sekaten banyak).
Bukan juga toko makanan. Meskipun saya penggila makanan, terlebih makanan yang enak. Hahaha. Saya masih normal kan? Mana ada orang yang menolak makanan enak. Saya memang bisa juga berlama-lama di dalam toko makanan (bahasa kerennya: restoran atau café), tapi itu bukan karena terkesima oleh sajian makanan enaknya, tapi karena asyik bergosip dengan teman-teman. Haha. Ini berlaku bagi teman perempuan. Tapi kalau dengan teman laki-laki, biasa kami saling bertukar cerita lucu dari pengalaman masing-masing di warung kopi.
Sungguh tidak to the point. Baiklah… jawaban yang benar dari pertanyaan di atas, adalah toko buku!
Saya terobsesi dengan buku. Entahlah. Padahal saya tidak suka membaca. Aneh memang. Tapi saya selalu bernafsu untuk membeli buku sebanyak-banyaknya bila ada uangnya. Hahaha. Namun kemungkinan itu sangat kecil. Kalaupun saya lagi punya uang, saya akan menghindari toko buku. Karena saya tahu efek sampingnya. Lemari buku saya akan bertambah sesak dengan deretan dan tumpukan buku yang hampir 70%nya belum saya baca hingga tuntas. Termasuk buku2 kuliah saya. Haha. Tapi kali ini saya masuk Gramedia karena dipaksa oleh teman saya. Maka dengan senang hati saya “terpaksa” masuk (karena saya tahu di dompet saya hanya tersisa uang 20rb, sehingga seingin-inginnya saya, saya tidak akan mampu membeli sebuah buku). Senangnya, sekalipun saya tidak membeli buku satupun saya justru mengalami hal yang lucu, yang membuat saya diperhatikan banyak orang karena senyum-senyum sendiri. Hehehe.
Saat itu saya sampai pada satu kolom rak psikologi popular. Sekilas saya kaget karena saya melihat foto Andy Lau di sebuah cover buku. Haha. Kok bisa? Andy Lau bikin buku psikologi popular juga ya? Begitulah yang terlintas dipikiran saya saat itu. Ternyata setelah saya perhatikan lebih dekat, orang itu buka Andy Lau, Cuma mirip. Haha. Saya perhatikan lagi buku itu. Judulnya cukup meyakinkan dan menarik:
Langkah Dasyat Meraih Impian. Langkah Ajaib Menuju ke Langit.
Hehehehe. Mantap kan?
Tapi saya tidak menyarankan anda untuk beli buku ini. Karena saya yakin pasti akan sangat membosankan (buku ini cukup bisa membuat kecoa mati kegencet).
Saya yakin saya tidak butuh buku itu, begitu juga Anda. Saya tahu dan selalu tahu hal yang membuat saya bisa meraih impian saya. Saya juga harap anda pun begitu. Jawabannya ada di dalam hati dan benak anda, hanya mungkin tidak disadari. Hanya untuk mempermudah anda mencari tahu dan menyadarinya: Pertama buatlah dulu impian anda. Jangan pernah terlintas kata “tidak mungkin”. Karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, selama anda percaya Tuhan.
Selanjutnya saya tidak mau mengurui siapapun. Tapi saya yakin, semua orang tahu caranya, hanya saja kebanyakan dari kita malas untuk bertindak, untuk meperbaiki diri, bahkan demi mencapai impiannya sendiri. Kata kuncinya adalah kemampuan untuk mengevaluasi diri dan kemampuan untuk berani bertindak.
Well. Hehe. Bukanya saya tapi bilang mau cerita hal yang lucu ya? Kenapa jadi serius begini? Oke, sekarang ganti topik. Saya masih berada di kolom psikologi. Dari deretan buku yang terpajang, saya sangat tertarik dengan buku berjudul : Gendut Itu Cantik. Hahaha. Kalau boleh saya bilang itu “aku banget!” hahaha. Maka saya mulai mengambil buku dan membaca ringkasannya di cover belakang. Buku itu mencoba mengajak orang melihat persepsi mengenai tubuh, apa saja factor-factor yang meyebabkan gendut, hingga tips-tips berpakaian agar tubuh gendut tetap terlihat menawan. Well, boleh juga. Hehehe.
Kebetulan ada sepasang kekasih di sebelah kanan saya waktu itu. Sang laki-laki berwajah culun, dan perempuannya berbadan subur. Awalnya saya melihat mereka sedang sibuk melihat lihat buku-buku perkawinan, sambil mengobrol yang tidak terdengar oleh saya. Hee. Tiba-tiba saat saya sedang asik membaca buku tadi, si laki-laki dgn suara yang lantang dan setengah tertawa, “wah ada buku judulnya Gendut itu cantik. Si perempuan menyahut “mana?”
Laki-laki itu masih tertawa, “kamu penasaran ya? Cari aja sendiri.”
Si perempuan masih penasaran: “Mana sih?”
Laki-laki itu bukannya menjawab malah bilang “hhihihihihi,, berarti aku nggak salah pilih donk, sayang.”
“Hmmmpprtttt” kalau yang ini bukan suara kentut, melainkan suara pelan saya menahan tawa. Tapi saya tidak berhasil menahannya, alhasil saya nyengir-nyengir kuda kebelet pipis (setengah tertekan,, tidak lega) dengan posisi masih di samping pasangan itu.
Si laki-laki itu masih tertawa. Sayangnya saya tidak mendengar dan melihat bagaimana ekspresi sang perempuan, saya takut kalau saya dikira mengejek atau ingin ikut campur.
Saya benar-benar tidak tahan untuk tertawa lepas. Maka saya segera cabut dari tempat, dan menjauh dari pasangan itu. Hahahahahahahahaha.. kali ini saya yang menanggung malu karena ketawa-ketawa sendiri di hadapan banyak orang. Saya tertawa karena laki-laki berwajah culun itu benar-benar polos ketika bicara seperti tadi. Dan saya tahu, laki-laki itu tidak bermaksud menyindir atau mengejek pacarnya sendiri, ungkapan tadi pasti rayuan bagi kekasihnya namun tulus dari hatinya. Hahahahahaha.
Salut, buat orang-orang yang tidak memandang fisik sebagai alasan utama untuk menyayangi seseorang!!


0 komentar:
Posting Komentar