Teringat semasa KKN setahun yang lalu, aku tinggal disebuah desa yang terpencil, benar-benar jauh dari kota dan ternyata merupakan salah satu dari 8 desa tertinggal sekecamatan. Desa PLALAR namanya.
Tercengang saya ketika memasuki desa tersebut, sungguh jauh dari bayangan saya, karena nenek saya juga tinggal di desa, saya kira tidak akan jauh berbeda. Dari kota jogja, dengan sepeda motor kecepatan 70-90 km/jam cukup 1 jam saja. Tidak masalah kalau sampai kelurahan, meskipun berkelok dan mendaki jalan masih beraspal. Tapi begitu mau ke dusun, saya harus benar-benar berhati-hati, karena selain tidak beraspal, terjal, dan berkelok, kanan atau kiri jalan adalah jurang! Jadi teringat saat supir saya mengantarkan pertama kali ke lokasi, mukanya sampai pucat pasi karena tegang :D
Bukan hanya akses menuju desa yang membutuhkan kesabaran ekstra, melainkan juga tempat saya tinggal. Saya dan kawan-kawan tinggal di rumah pak dukuh, beliau sudah cukup berumur dan kurang lancar berbahasa Indonesia. Rumah tersebut tidak berubin atau bersemen, tapi saya tidak ngerti apa istilahnya, terutama di bagian dapur (yang masih beralaskan tanah), sehingga kami harus akrab dengan debu berterbangan sekalipun sedang berada di dalam rumah maupun di kamar tidur :) Oiya di tambah lagi sulitnya mendapatkan sinyal kalau di dalam rumah. Jadi kalau saya pengen telfon untuk curhat sebelum tidur, tidak bisa saya lakukan sambil tiduran seperti kebiasaan saya kalau di rumah. Dengan kondisi tersebut, di awal saya tinggal di sana, rasanya ingin menangis minta pulang :D. tetapi karena ini merupakan hal yang harus dilewati, saya bersabar dan menguatkan diri, berusaha melalui ini semua dengan senang hati. Alhasil ketika saya pulang, saya malah heran kenapa rasanya waktu cepat sekali bergulir. Saya jadi kangen sama anak-anak SD di Plalar, yang mendadak jadi fans kami sewaktu tinggal di sana :)
Itu sekilas tentang kondisi tempat kkn saya. Yang sebenarnya ingin saya bagi adalah pengalaman dan pengetahuan yang luar biasa yang saya dapatkan ketika saya berada di sana dan saya bawa pulang hingga tersimpan sampai sekarang.
Di awal saat observasi lokasi, saya harus peka terhadap lingkungan dan menentukan program yang tepat yang bisa saya berikan untuk masyarakat desa. Hmm.. tidak terlalu sulit pikir saya, karena kondisi di sana sangat terpencil, sehingga jelas yang utama adalah membuat program yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara ekonomi. Saya harus membuat program yang membuat mereka terlatih untuk mencari cara agar memiliki penghasilan yang lebih sehingga taraf kehidupan mereka pun meningkat. Begitu pikir saya saat itu. Sehingga salah satu program andalan saya saat itu adalah: Penyuluhan Kewirausahaan. Yang datang hanya sedikit, karena saya menjadwalkannya di jam mereka sibuk bertani atau mencari makan untuk ternak sapi.
Sebenarnya bertani dan berternak sudah merupakan wirausaha, tapi sayangnya mereka tidak mengoptimalkan kemampuan dan sumber daya alam di desa itu. Mereka bertani sebatas untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, hari ini dan mungkin besok, tahun depan yaa lihat saja nanti. Itulah kesan yang saya tangkap. Hanya segelintir orang yang mau berpikir ke depan. Namun mayoritasnya cukup bertahan hidup dengan sikap ‘nerimo’.
“Urip ngene iki wis cukup”
Hmm.. saya kok gak habis pikir ya, kenapa mereka bisa bertahan seperti itu sepanjang hidupnya?
Dan setelah setengah bulan saya tinggal di sana saya berhasil menemukan jawabannya..
Saya turut larut dalam kehidupan mereka. Hari-hari pertama saya merasa ingin cepat pulang, tidak betah, tapi lama kelamaan saya menikmati ritme hidup warga di sana… damainya, sejuknya, kesederhanaannya..
Mereka adalah orang yang tidak rentan terhadap perubahan dunia. Mereka tidak akan mendapatkan dampak atas era globalisasi dan hedonism..
*kecuali bagi yang merantau..
Lihat anak SD di kota, mereka sudah punya hape untuk dibawa ke sekolah, jajanan di sekolahnya sudah burger atau crepes..
Bandingkan dengan anak SD di desa, punya hape juga karena pinjem orang tuanya, jajannya Cuma pecel atau es dawet, atau siomay seharga 500 rupiah..
Mereka gak kenal playstation, atau game online.. tapi petak umpet… justru ini bagus buat kecerdasan emosional dan ketrampilan sosial mereka.. :)
Mau makan sayur tinggal petik di kebun, gak punya uang untuk beli beras, yaa pakai singkong aja (dari hasil kebun juga)..
kalau butuh air untuk minum, masak, nyuci, mandi, timba dulu tuh sumur yang dalamnya 18 meter.. :)
Saya belajar banyak tentang kesederhanaan dari mereka..
Dan yang saya catat dari pengalaman saya di sana adalah tentang rasa kebersyukuran..
Coba kalau saya tanya menurut kalian orang kaya itu definisinya apa?
Kalau menurut saya: apabila seseorang menyukuri apa yang telah ia dapat, apa yang telah ia miliki sekarang, pada saat itu juga orang tersebut adalah orang yang kaya!
Bila materi menjadi tolak ukur , maka percaya dehh,, tidak akan ada batasannya.. tidak kenal puas dan akan terus merasa kurang…
Tapi kalau kaya berbanding dengan kebahagiaan, sehingga dijadikan sebagai tolak ukur seseorang maka tak hayal materi bukan jawabnya..
Kebahagiaan bisa didapat dengan kebersyukuran,, bila kita bersyukur maka tanpa sadar kita kan mendapatkan lebih dari yang sebelumnya justru tidak sempat kita bayangkan :)
Itulah karakter orang di desa.. karena itu juga yang menyebabkan mereka tidak perlu jadi kaya untuk meraih bahagia… :)
Tapi aku percaya, masing-masing orang punya caranya sendiri, punya pandangannya sendiri tentang hidup, termasuk care meraih bahagiaanyaa..
Temukanlah caramu sendiri, temaaan.. :)


0 komentar:
Posting Komentar