Sabtu, 02 Juni 2012

Tentang Karir

Zaman saya sekolah dulu, saya tidak punya gambaran tentang pekerjaan yang akan saya geluti nantinya. Jenis pekerjaan yang nyata saat itu hanya dokter atau presiden, tapi saya tidak pernah bercita-cita untuk menjadi keduanya.
Sampai pada masa SMA saya mulai punya cita-cita yang tak lagi labil seperti masa kanak-kanak dulu, yakni menjadi seorang Guru TK. Alasannya simple, karena saya selalu jatuh cinta dengan anak kecil. Dan berhubung sejak SMP saya sudah jadi tante, mungkin semenjak itulah jiwa keibuan saya muncul karbitan (belum saatnya). Gimana gak pengen jadi ibu kalau liat bentuk-bentuk ponakanku yang imut-imut gini?

Kemudian ketika masuk ke bangku kuliah, ada beberapa hal yang sedikit mengubah keyakinan saya tentang pekerjaan.: lagunya Ne Yo berjudul Miss Independent, dan majalah Femina. Apanya yang menarik dari kedua hal tersebut sehingga membuat saya berubah pikiran? Lagi-lagi alasan saya sederhana, saya hanya ingin menjadi tokoh yang berkarakter seperti yang ada dalam lagu tersebut dan berpenampilan seperti model-model di majalah itu. Haha. As that simple and silly.

Then ini percobaan saya semasa kuliah untuk menjadi seperti "Wanita Karir".

Sejalan dengan berlalunya waktu, saya mulai mencari arti dari 'Kerja' itu sendiri. Kalau kerja disebut sebagai suatu usaha untuk mendapatkan uang, artinya saya sudah mulai bekerja sejak saya belum lulus kuliah. Kerja jadi Asisten Praktikum, Asisten Dosen, Asisten Penelitian saya lakukan disela-sela kesibukan kuliah. Tapi saya masih belum merasakan bahwa hal yang saya lakukan itu adalah bekerja, meskipun saya dapat uang yang lumayan saat melakukan itu semua. Setelah itu saya  melamar pekerjaan setelah ditawari oleh senior saya. Menjadi marketing disalah satu lembaga konsultan pendidikan studi luar negeri, tak cukup membuat saya yakin bahwa ini juga yang disebut bekerja, karena saya tidak menggunakan pakaian resmi seperti yang saya lihat di majalah-majalah wanita dewasa itu. Kostum kerja saya saat itu masih ala anak kuliahan, jeans dan kemeja saja. Lalu saya berubah profesi jadi dosen sungguhan (bukan asisten lagi). Eh saya juga tidak merasa bahwa saya itu bekerja, karena modal saya hanya memahami materi dan mempresentasikannya di depan mahasiswa.

Tak lama kemudian saya hijrah ke Bandung, lalu ke Jakarta untuk bekerja pada masing-masing instansi yang berbeda. Penampilan saya pun mulai menyerupai "Wanita Karir" yang berhasil dicitrakan oleh majalah-majalah ke dalam kepala saya.


Tetap tak selayaknya model-model juga sih, hehe.

Saya mulai paham tentang bekerja (seperti kebanyakan orang) saat saya melakukan hal-hal  untuk memenuhi kepentingan suatu instansi dan bertanggung jawab atas itu. Lebih komplek, bekerja bukan hanya sekedar cari uang saja, tapi bagi sebagian  orang melakukannya sebagai pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri. Maka saya simpulkan dari situlah munjul istilah karir.

Karir adalah kenaikan tingkat dari tanggung jawab, kekuasaan dan pendapatan seseorang (Bambang Wahyudi, 162). Pandangan yang lebih luas daripada karir adalah sebagai suatu rangkaian atas sikap dan prilaku yang berkaitan dengan aktivitas pekerjaan dan pengalaman sepanjang kehidupan seseorang (individually perceived sequence of attitudes and behaviors associated with work-related activities and experiences over the span of a person’s life, Bernardin, 194). Menurut Gibson dkk. (1995: 305) karir adalah rangkaian sikap dan perilaku yang berkaitan dengan pengalaman dan aktivitas kerja selama rentang waktu kehidupan seseorang dan rangkaian aktivitas kerja yang terus berkelanjutan. Senada dengan itu Malthis menyatakan bahwa karir adalah rangkaian posisi yang berkaitan dengan kerja yang ditempati seseorang sepanjang hidupnya (hal.342).
(via  http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2011/07/06/definisi-karier/)

Baca lagi apa yang telah saya Bold di atas. Saya menekankan pada kata-kata sepanjang hidup/ selama rentang waktu kehidupan. Itu artinya kalau saya mau menjadi "Wanita Karir" saya harus merelakan diri untuk bekerja sepanjang hidup saya??
Pertanyaan selanjuttnya, jenis pekerjaan apa yang membuat saya mampu bertahan selama itu??
Benarkah saya harus merelakan kehidupan saya nanti demi kepentingan instansi tertentu? Bukan untuk diri saya dan kehidupan pribadi saya??
Apa saya akan bahagia dengan mengabdikan diri pada pekerjaan??
Lalu dimana peran wanita saya yang lainnya??


*bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar