Minggu, 10 November 2013

Siap Menikah?


Banyak orang yang belum menikah berandai-andai tentang indahnya menikah. Yang udah punya pacar gak sabar dilamar, yang jomblo galau karena boro-boro cepet nikah, punya pacar aja susah. Gitu ya? Hehe. Padahal bagi yang sudah menjalani pernikahan, ternyata gak seindah apa yang dibayangkan dulu lho. Contohnya ya saya sendiri. Menikah bukan sekedar menghalalkan yang haram. Bukan sekedar rasa senang karena tak terpisahkan lagi dengan yang tersayang. Tapi jauh lebih kompleks dari itu. Saya menuliskan ini bukan karena mengeluhkan tentang pernikahan saya, tapi menjawab beberapa keingintahuan teman-teman saya dan semoga membuat mereka bersiap diri untuk ‘menerima kenyataan’ nantinya yang akan dihadapi juga.

Siapkah kamu merubah kebiasaan?
Dulu saat single, kamu bisa saja melakukan apa saja yang penting ‘aku senang’. Saat menikah tidak bisa lagi seperti itu. Perbuatanmu akan berhubungan dengan pasanganmu. Yang dulu senang pulang malam, pasanganmu belum tentu senang. Yang dulu suka bangun siang, pasanganmu bisa saja merasa dirugikan dan marah-marah. Kebiasaan memang perlu dirubah, apalagi yang jelas tidak ada manfaatnya. Percayalah, perubahanmu nantinya sebenarnya bukan Cuma sekedar untuk kebaikanmu, tapi menjadi kebaikan bersama. Intinya sikap yang diperlukan adalah: sadar diri dan mau berubah.

Siapkah kamu menomerduakan urusan-urusanmu?
Hal ini berkaitan dengan orientasi/prioritas. Rumah tangga itu gak bisa bertahan kalau masih ada yang bersikap egois. Well kalau masih ada, berarti pasangannya super duper sabar, tapi namanya manusia ya punya batas, gak bisa berharap bakal punya pasangan yang mau serba ngertiin kita. Kepentingan rumah tangga itu harus dicapai bersama.
 Misalnya berhubungan dengan keuangan, dulu gajimu bisa kamu gunakan untuk belanja keperluan sendiri, dan ketika sudah menikah akan muncul kebutuhan-kebutuhan rumah tangga seperti perabot, sewa tempat tinggal yang lebih besar, listrik, air dll. Terutama bagi pria yang memiliki istri yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, penghasilan sendiri harus bisa diatur cukup untuk berdua. Belum lagi kalau akan / sudah memiliki anak, berlipat lagi kebutuhannya. Dan ingat masalah keuangan ini krusial banget. Harus disadari bahwa kebutuhan itu bukan hanya untuk hari ini tapi juga untuk masa depan. Sehingga uang yang dimiliki saat ini gak boleh dihabiskan untuk sekedar memenuhi keinginan. Keinginan tu gak ada habisnya bro and sis! Bersikap bijaklah, jauhkan sikap egois semasa single, prioritaskan berdasarkan KEBUTUHAN bukan KEINGINAN. Dana cadangan tetap dibutuhkan, kalau-kalau terjadi hal yang tidak diinginkan.
Ini baru masalah keuangan ya, ada lagi. Kalau sudah menikah ya siapkan dirimu untuk meluangkan waktu lebih banyak di keluarga, untuk anak serta istri/suami. Suatu saat ada teman yang mengajak pergi di akhir pekan misalnya, sedangkan istri sedang hamil dan menginginkan kamu untuk menemaninya. Pilihlah untuk menemani istrimu! Orientasikan dirimu untuk keluarga, jangan ke teman-teman lagi. Sudah lewat masanya bro, temanmu yang sekarang ngajakin pergi mungkin masih single, bila dibalik, saat mereka sudah menikah lalu kamu ngajakin nongkrong belum tentu mereka mau. Rugi di kamu kan kalau udah gitu.. haha.

Siap mengurus orang lain atau bahkan bayi?
Nah ini nih, mungkin kalau udah cinta rasanya siap deh melakukan apa saja demi yang tersayang. Tapi bisa jadi pikiran itu berubah setelah menikah. Terutama bagi wanita, sudah kewajibannya mengurus suami, anak dan rumah. Sebagian mungkin meninggalkan pekerjaan untuk full time ngurusin rumah tangga, contohnya ya saya lagi. Sebelumnya saya ini terbiasa mandiri, ngurusin apapun kalau bisa dilakukan sendiri dulu ya gak bakalan minta tolong orang lain. Kebetulan dapetnya suami yang #uhuk agak manja, patriarki banget. Semua-semua kebutuhan dia kalau bisa aku juga yang layanin, begitu juga urusan rumah tangga semua aku yang beresin. Awalnya sih semangat, lama-lama jenuh juga, terus ngedumel, kenapa sih begini aja gak mau ngerjain sendiri..  Nah jadi pembelajarannya adalah: belajar ikhlas, dan kalau bisa buat komitmen dari awal nikah, lebih bagus dari sebelum nikah gimana pembagian tugas-tugas rumah tangga nantinya. Gak selamanya pria Cuma ngurusin urusan public (mencari nafkah), ketahuilah bahwa istri anda akan sangat senang bila anda ikut serta bantu-bantu urusan domestic (pekerjaan rumah tangga). Bahkan ada penelitian yang menyebutkan pria yang membantu wanitanya mengurus rumah tidak rentan terhadap perceraian. Apalagi kalau udah ada bayi, suami hendaknya pengertian bahwa sejak hamil sebenarnya kemampuan fisik wanita sudah tidak sama. Setelah melahirkan proses pemulihannya pun belum tentu cukup sebulan. Jadi gak ada salahnya pria membantu urusan rumah tangga dan atau mengurus bayi. Gak mudah lho mengurus bayi itu, bersiaplah untuk berkurangnya waktu istirahat.
Siap merasakan sakit?
Yang ini mungkin terkesan agak lebay. Tapi sangat mungkin terjadi pada pernikahan siapapun. Orang yang paling kita sayangi memiliki potensi untuk menjadi orang yang paling menyakiti hati kita. Hehehe. Penyatuan karakter yang berbeda memang tidak akan pernah mulus halus kayak jalan tol. Lihat saja hubungan kakak-adik, atau saudara kembar sekalipun pasti pernah berantem karena perbedaan pendapat/keinginan. Ya sama dengan pernikahan. Berantem-berantem kecil itu biasa, jadi gak biasa kalau dibesar-besarkan, karena semua dimasukin ke hati. Saat menikah mungkin akan merasakan berkali-kali patah hati, sakit hati, kecewa, dll, tapi inget nih… janji sehidup semati sudah dicatat sama Tuhan. Seberat apapun masalahnya, sesakit apapun rasanya, inget Allah ya.. Cobaan yang berat akan membuat kita semakin kuat. Dan sebenarnya tidak ada masalah yang berat, karena Allah memberikan ujian sesuai dengan kemampuan kita =)
Ini kesimpulannya. Pernikahan adalah a long time commitment atau bisa dibilang a life time commitment. Sekali menikah ya gak bakalan bisa mundur dari segala tanggung jawab yang menyertainya. Kamu tidak bisa meminta pemeran pengganti atas semuanya. Tidak bisa memutar balik waktu saat menjadi orang tua. Mulailah beradaptasi sejak awal pernikahan hingga akhir hayat nanti. Saya pernah mendengar nasehat dari seseorang, bahwa pernikahan itu perlu belajar yang tak kunjung usai. Karena pernikahan itu tidak ada kursusnya, dan tidak bisa latihan, cepat atau lambat sama saja. Inget pacaran tidak sama dengan pernikahan. Jadi yang saya tulis di atas ini bukan jadi alasan untuk menunda pernikahan itu sendiri.  Jadi bersiap-dirilah =)

0 komentar:

Posting Komentar