Banyak orang yang belum menikah
berandai-andai tentang indahnya menikah. Yang udah punya pacar gak sabar
dilamar, yang jomblo galau karena boro-boro cepet nikah, punya pacar aja susah.
Gitu ya? Hehe. Padahal bagi yang sudah menjalani pernikahan, ternyata gak
seindah apa yang dibayangkan dulu lho. Contohnya ya saya sendiri. Menikah bukan
sekedar menghalalkan yang haram. Bukan sekedar rasa senang karena tak
terpisahkan lagi dengan yang
tersayang. Tapi jauh lebih kompleks dari itu. Saya
menuliskan ini bukan karena mengeluhkan tentang pernikahan saya, tapi menjawab
beberapa keingintahuan teman-teman saya dan semoga membuat mereka bersiap diri
untuk ‘menerima kenyataan’ nantinya yang akan dihadapi juga.
Siapkah kamu merubah kebiasaan?
Dulu saat single, kamu bisa saja melakukan apa saja yang penting ‘aku
senang’. Saat menikah tidak bisa lagi seperti itu. Perbuatanmu akan berhubungan
dengan pasanganmu. Yang dulu senang pulang malam, pasanganmu belum tentu
senang. Yang dulu suka bangun siang, pasanganmu bisa saja merasa dirugikan dan
marah-marah. Kebiasaan memang perlu dirubah, apalagi yang jelas tidak ada
manfaatnya. Percayalah, perubahanmu nantinya sebenarnya bukan Cuma sekedar
untuk kebaikanmu, tapi menjadi kebaikan bersama. Intinya sikap yang diperlukan
adalah: sadar diri dan mau berubah.
Siapkah
kamu menomerduakan urusan-urusanmu?
Hal ini berkaitan dengan
orientasi/prioritas. Rumah tangga itu gak bisa bertahan kalau masih ada yang
bersikap egois. Well kalau masih ada, berarti pasangannya super duper sabar,
tapi namanya manusia ya punya batas, gak bisa berharap bakal punya pasangan
yang mau serba ngertiin kita. Kepentingan rumah tangga itu harus dicapai
bersama.
Misalnya berhubungan dengan keuangan, dulu
gajimu bisa kamu gunakan untuk belanja keperluan sendiri, dan ketika sudah
menikah akan muncul kebutuhan-kebutuhan rumah tangga seperti perabot, sewa
tempat tinggal yang lebih besar, listrik, air dll. Terutama bagi pria yang
memiliki istri yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, penghasilan sendiri
harus bisa diatur cukup untuk berdua. Belum lagi kalau akan / sudah memiliki
anak, berlipat lagi kebutuhannya. Dan ingat masalah keuangan ini krusial
banget. Harus disadari bahwa kebutuhan itu bukan hanya untuk hari ini tapi juga
untuk masa depan. Sehingga uang yang dimiliki saat ini gak boleh dihabiskan
untuk sekedar memenuhi keinginan. Keinginan tu gak ada habisnya bro and sis!
Bersikap bijaklah, jauhkan sikap egois semasa single, prioritaskan berdasarkan
KEBUTUHAN bukan KEINGINAN. Dana cadangan tetap dibutuhkan, kalau-kalau terjadi
hal yang tidak diinginkan.
Ini baru masalah keuangan ya, ada lagi.
Kalau sudah menikah ya siapkan dirimu untuk meluangkan waktu lebih banyak di
keluarga, untuk anak serta istri/suami. Suatu saat ada teman yang mengajak
pergi di akhir pekan misalnya, sedangkan istri sedang hamil dan menginginkan
kamu untuk menemaninya. Pilihlah untuk menemani istrimu! Orientasikan dirimu
untuk keluarga, jangan ke teman-teman lagi. Sudah lewat masanya bro, temanmu
yang sekarang ngajakin pergi mungkin masih single,
bila dibalik, saat mereka sudah menikah lalu kamu ngajakin nongkrong belum
tentu mereka mau. Rugi di kamu kan kalau udah gitu.. haha.
Siap mengurus orang lain atau bahkan bayi?
Nah ini nih, mungkin kalau udah cinta
rasanya siap deh melakukan apa saja demi yang tersayang. Tapi bisa jadi pikiran
itu berubah setelah menikah. Terutama bagi wanita, sudah kewajibannya mengurus
suami, anak dan rumah. Sebagian mungkin meninggalkan pekerjaan untuk full time ngurusin rumah tangga, contohnya
ya saya lagi. Sebelumnya saya ini terbiasa mandiri, ngurusin apapun kalau bisa
dilakukan sendiri dulu ya gak bakalan minta tolong orang lain. Kebetulan
dapetnya suami yang #uhuk agak manja, patriarki banget. Semua-semua kebutuhan
dia kalau bisa aku juga yang layanin, begitu juga urusan rumah tangga semua aku
yang beresin. Awalnya sih semangat, lama-lama jenuh juga, terus ngedumel,
kenapa sih begini aja gak mau ngerjain sendiri.. Nah jadi pembelajarannya adalah: belajar ikhlas, dan kalau bisa buat
komitmen dari awal nikah, lebih bagus dari sebelum nikah gimana pembagian
tugas-tugas rumah tangga nantinya. Gak selamanya pria Cuma ngurusin urusan public (mencari nafkah), ketahuilah
bahwa istri anda akan sangat senang bila anda ikut serta bantu-bantu urusan domestic (pekerjaan rumah tangga).
Bahkan ada penelitian yang menyebutkan pria yang membantu wanitanya mengurus
rumah tidak rentan terhadap perceraian. Apalagi kalau udah ada bayi, suami
hendaknya pengertian bahwa sejak hamil sebenarnya kemampuan fisik wanita sudah
tidak sama. Setelah melahirkan proses pemulihannya pun belum tentu cukup
sebulan. Jadi gak ada salahnya pria membantu urusan rumah tangga dan atau
mengurus bayi. Gak mudah lho mengurus bayi itu, bersiaplah untuk berkurangnya
waktu istirahat.
Siap merasakan sakit?
Yang ini mungkin terkesan agak lebay. Tapi
sangat mungkin terjadi pada pernikahan siapapun. Orang yang paling kita sayangi
memiliki potensi untuk menjadi orang yang paling menyakiti hati kita. Hehehe.
Penyatuan karakter yang berbeda memang tidak akan pernah mulus halus kayak
jalan tol. Lihat saja hubungan kakak-adik, atau saudara kembar sekalipun pasti
pernah berantem karena perbedaan pendapat/keinginan. Ya sama dengan pernikahan.
Berantem-berantem kecil itu biasa, jadi gak biasa kalau dibesar-besarkan,
karena semua dimasukin ke hati. Saat menikah mungkin akan merasakan
berkali-kali patah hati, sakit hati, kecewa, dll, tapi inget nih… janji sehidup
semati sudah dicatat sama Tuhan. Seberat apapun masalahnya, sesakit apapun
rasanya, inget Allah ya.. Cobaan yang berat akan membuat kita semakin kuat. Dan
sebenarnya tidak ada masalah yang berat, karena Allah memberikan ujian sesuai
dengan kemampuan kita =)
Ini kesimpulannya. Pernikahan adalah a long time commitment atau bisa
dibilang a life time commitment.
Sekali menikah ya gak bakalan bisa mundur dari segala tanggung jawab yang
menyertainya. Kamu tidak bisa meminta pemeran pengganti atas semuanya. Tidak
bisa memutar balik waktu saat menjadi orang tua. Mulailah beradaptasi sejak
awal pernikahan hingga akhir hayat nanti. Saya pernah mendengar nasehat dari
seseorang, bahwa pernikahan itu perlu belajar yang tak kunjung usai. Karena
pernikahan itu tidak ada kursusnya, dan tidak bisa latihan, cepat atau lambat
sama saja. Inget pacaran tidak sama dengan pernikahan. Jadi yang saya tulis di
atas ini bukan jadi alasan untuk menunda pernikahan itu sendiri. Jadi bersiap-dirilah =)


0 komentar:
Posting Komentar