Sebelum benar-benar memutuskan menjalani profesi sebagai fulltime housewife alias ibu rumah tangga, saya juga sempat mengalami dilema.
Keinginan untuk bisa aktualisasi di luar rumah, memiliki karir dan menghasilkan uang sendiri memang masih besar saat itu di tambah rasa bosan dan merasa tak banyak berarti karena yang dilakukan hanya itu-itu saja, apalagi pemikiran bahwa yang dilakukan hanya pekerjaan kasar, tanpa gelar sarjana, siapapun mudah melakukannya (menyapu, mencuci, menyetrika dll).
Tapi saya lupa memikirkan prioritasnya menjadi ibu rumah tangga, yaitu mengasuh anak.
Ada idealisme bahwa saya ingin menjadi yang pertama dicari oleh anak saya disaat kapanpun dia membutuhkan seseorang. Misal ketika dia sedih dan sakit karena jatuh, saat dia terbangun dari tidur karena mimpi buruk, atau saat dia bahagia karena mendapatkan pencapaian di sekolah. Saya ingin jadi yang pertama tahu atas segala perjalanan tumbuh kembangnya.
Jakarta, tempat saya tinggal, bukanlah kota yang ideal untuk mengharapkan segala sesuatunya tepat waktu. Bila saya bekerja dengan jam kerja pukul 8 pagi - 5 sore katakanlah berangkat jam 6 pagi, sampai rumah mungkin jam 7 malam. Keruwetan jakarta tak memungkinkan siapapun untuk sampai rumah pukul 5 sore. Paling cepat juga magrib.
Gimana rasanya lelah setelah pulang bekerja, apakah saya sanggup menghadapi anak dengan tenang dan benar-benar 'hadir' untuk mereka? Belum juga untuk suami saya, dan diri saya sendiri? Saya kan juga butuh istirahat dan me time. Apakah saya sanggup menjalaninya?
Setelah menikah, suatu hari saya menemui dosen pembimbing skripsi saya dulu. Alhamdulillah, kami memang punya hubungan baik, bahkan bagi saya beliau bukan cuma asik untuk menjadi tempat diskusi mengenai skripsi saja, tapi semua topik kehidupan. Beliau sangat open minded, karena pernah tinggal di luar negeri, tapi tetap dalam border ke-Islam-an yang kuat. Bukan tanpa sebab saya ingin menemuinya, saat itu saya ingin minta surat rekomendasi untuk melanjutkan studi S2 supaya suatu saat bisa jadi dosen. Tapi alih-alih kuliah lagi, saya berubah pikiran setelah bertemu dengan beliau.
Saya bilang, saya dilema. Saya ingin melakukan hal lain di luar urusan rumah tangga dan mengurus anak. Begitu kira-kira inti yang saya sampaikan. Lalu beliau menamparku dengan nasehatnya. Begini kira-kira, "Seorang ibu di akhirat nanti bukan ditanya bagaimana tanggung jawabmu terhadap bosmu? Tapi bagaimana tanggung jawabmu terhadap anak-anakmu, suamimu?"
"Yang ditanya adalah apa yang sudah kamu lakukan untuk anak-anakmu, apakah kamu ada di saat mereka membutuhkanmu?"
Saya tahu beliau benar, tapi saya masih juga mencari pembenaran.
"Tapi pak, Saya ingin membantu suami saya mencari nafkah, agar saya bisa memastikan hidup keluarga saya cukup." "Rezeki sudah Allah yang mengatur. Saat kamu berpikir besok kamu gak bisa makan, itu sama saja dengan kamu menyangsikan kebesaran Allah, menyepelekan Allah. Setiap anak sudah membawa rejekinya masing-masing. Jadi jangan takut kekurangan dan jangan sampai kamu mengutamakan hal lain selain tanggung jawabmu terhadap anak-anak."
Tak terasa, mataku panas dan berair, tapi tertahan karena sungkan.
Kata-kata beliau bahkan begitu tertanam hingga sekarang, bahkan kuulang ketika mama dan ibu mertua yang pada saat itu masih sering bertanya atau bahkan secara tak sadar menyuruh saya untuk bekerja lagi. Hingga saya bertemu dosen saya tadi, saya jadi punya argumen yang sangat kuat untuk memantapkan diri menjawab tidak, tidak untuk kembali bekerja. Setidaknya sampai suatu saat, ada lagi godaan pekerjaan impian.
Ketika Juno berusia sekitar 3 tahun, ada sebuah lowongan 'asisten trainer' rasanya jiwaku terpanggil. "Ini aku banget." Sampai akhirnya aku melamar pekerjaan tersebut, karena aku pikir Juno sudah cukup mandiri dan bisa diajak berkomunikasi, jadi cukup aman untuk ditinggal bekerja dan dititipkan di day care.
Melalui seleksi administratif, psikotes, lalu sampailah pada wawancara. Saat itu aku baru diberitahu bahwa trainer ini (yang akan ku asisteni kalau diterima)adalah trainer psikolog yang cukup kondang, sering tampil di televisi nasional dan pembicara di seluruh Indonesia (inisialnya ER). Bila aku diterima, maka harus menerima resiko tidak pulang karena harus terus mendampingi beliau keluar kota atau mempersiapkan segala hal berkaitan dengan presentasinya.
Interviewerku saat itu adalah rekan beliau, beliau kaget saat kubilang aku sudah memiliki anak. Singkat cerita, kondisi yang seharusnya adalah wawancara kerja beralih menjadi sesi terapi psikologis.
Aku menangis sejadi-jadinya saat beliau bilang "Juno jauh lebih membutuhkanmu, dibandingkan kami." Nolak halus sih, tapi maknanya dalam. "Masa kecil anak-anak tidak akan bisa terulang. Aktualisasikan diri sebaik mungkin saja di rumah."
Beliau juga bilang bahwa aku tak sendiri, banyak ibu di luar sana yang bergelar sarjana, bahkan tak sedikit yang menjadi master/ magister tapi memilih untuk berkarir di rumah.
Kalau ada yang tanya, waktu aku tes Juno sama siapa, Juno aku titipin sama tetangga. Ujung-ujungnya sama tetangga juga dinasehatin. "Mbak kalau kerja selain habis waktu, tenaga, sebenarnya uangnya juga paling cuma sisa sedikit karena habis buat transport, buat makan siang, buat beli baju kerja, peralatan make up, kan kalau kerja itu harus dandan juga. Belum kalau kumpul sama teman-teman. Terus untuk bayar penitipan anak/ sewa baby sitter. Sisanya berapa? Mending di rumah aja sama anak-anak. Hati tenang, anak-anak terawat dengan baik sama ibunya sendiri."
Ealah, Gusti Allah pancen belum meridhoi simbok kerja lagi le, buat ngurusin kamu pakai yg cinta. Galak sitik gak papa ya le, pancen simbokmu masih ajar sabar.
(Disadur dari caption Instagram pribadi pada 1-3 Januari 2019)


0 komentar:
Posting Komentar