Di sini aku bukan mau membahas tentang definisi atau tanda-tanda keterlambatan bicara / speech delay, karena sudah pasti bukan kompetensiku dan sudah banyak artikel tentang hal tersebut di mana-mana. Aku hanya akan menceritakan pengalamanku sebagai ibu dari anak yang mengalami kendala keterlambatan bicara.
Melalui tulisan ini akupun
mengakui bahwa aku masih jauh dari citra ibu sempurna melainkan ibu yang super
duper sangat banyak kurangnya sekali.
Saat Mengetahui Jani Speech Delay
Mulai dari usia 1 tahun, aku menuliskan perkembangan kosakata Jani. Di usia ini aku sama sekali tidak khawatir karena aku menuliskan kata pertama Jani sudah keluar sejak usia 10 bulan dan terus bertambah sejak itu.
Tapi mendekati usia 2 tahun, aku
merasa tidak ada perkembangan yang signifikan. Jani sudah bisa diberi
instruksi, sudah bisa bicara satu kata sesuai kebutuhannya, misalnya “Ninum” (minta
minum) atau menunjuk benda yang jatuh sambil bicara “Jatuh!”. Tapi Jani tidak
mau mengulang kata (echolalia), ikut
bernyanyi, ataupun berusaha menjawab pertanyaaan dari kami. Seperti pertanyaan
sederhana "Namamu siapa?"
Konsultasi ke Psikolog Anak
Di usia 3 tahun kurang 3 bulan (bulan Agustus 2020) saya membuat janji temu dengan psikolog di klinik tumbuh kembang. Lho kenapa kok lama, padahal sejak 2 tahun seperti sudah tahu tanda-tandanya ya?
Iya,
memang. Telat ya.
Alasan
yang pertama adalah tak lama dari ulang tahun Jani yang kedua, kita mengalami
Pandemi Covid-19 sehingga ada kekhawatiran tentang resiko tertular bila hendak
pergi ke klinik/ rumah sakit sekadar untuk konsultasi.
Namun
alasan utama sebenarnya adalah “DENIAL”.
Panjang pemikiran sebelum memutuskan pergi konsultasi, bisa jadi hal ini juga dirasakan oleh orang tua lainnya. Ada kalanya orang tua terlalu subjektif menilai anaknya ("anak kita sehat kok, anak kita nggak kenapa-kenapa"), sehingga mengabaikan 'red flag' perkembangan anaknya. Tak ayal berusaha untuk denial sebagai self-defence, yang sebenarnya adalah rasa takut. Takut bila nanti anaknya terdeteksi memiliki kebutuhan khusus.
"Ah Jani gak apa-apa kok," kataku pada diriku sendiri. Padahal selalu cemas lalu cari tahu tentang gejala ASD (Autism Spectrum Disorder) atau anak dengan kepribadian tertentu lain, dan mencari tahu adanya pada Jani.
Dukungan Pasangan
Sekuat apapun aku menyangkal, akhirnya aku tak tahan juga. Suami yang sebenarnya berusaha untuk selalu menenangkanku dan selalu bilang semua baik-baik saja, akhirnya kuberi penjelasan tentang alasan-alasan kekhawatiranku.
“Ada istilah kepribadian ambang, spektrum
autisme juga ternyata luas, jadi daripada tidak tenang dan terus berspekulasi,
aku mau konsultasi,” terangku pada suami. Suamiku akhirnya mendukung dan mau
ikut menemaniku menemui psikolog. Jadi di hari itu, ruang konsultasi yang kecil
jadi penuh karena ada kami; aku, suamiku, Jani dan Juno. Sepaket lengkap satu
rumah ikut, agar segala apa yang mungkin terjadi bisa ditanggung bersama. Dan ternyata
ada hikmahnya juga si kakak, Juno, ikut serta dalam ruang konsultasi. Dia jadi
lebih paham kondisi adiknya dan bisa ikut berkomitmen membantu proses ini. Nanti
akan kujelaskan lebih.
Jadi Jani Kenapa?
Setelah konsultasi, memang tidak boleh langsung diberikan diagnosa. Perlu parents ketahui, namanya menilai kepribadian / masalah psikologis tidak bisa saklek, harus ada observasi beberapa kali terlebih dahulu. Dari ruang konsul, biasanya akan disarankan untuk mengikuti terapi dan evaluasi untuk diketahui lebih dalam permasalahannya.
Secara umum, penyebab keterlambatan bicara yang mungkin terjadi pada Jani adalah terlalu banyak screen time.
Screen
time memang tidak berdampak buruk pada
semua anak. Beberapa kasus justru anak berkembang pesat dan terstimulus oleh
tayangan televisi/ youtube. Tapi pada
Jani, justru sebaliknya, padahal seringkali saat dia menonton, aku ada di sebelahnya
untuk mengulang kata-kata dalam televisi supaya Jani lebih memeperhatikan makna
dan menambah kosakatanya. Beberapa tayangan Jani berbahasa Inggris, sehingga ini
juga menjadi kendala.Bisa jadi dia mengalami kebingungan karena bahasa yang dia
dengar di televisi berbeda dengan yang digunakan sehari-hari. Akibat nyatanya
adalah tak jarang Jani menyebut benda dalam bahasa Inggris. Hal ini tidak
disarankan sebenarnya, sebaiknya memang penggunaan bahasa Ibu lebih diutamakan
di usia pra-sekolah.
Jani Mulai Terapi
Singkatnya, Jani puasa nonton TV, sama
sekali tidak diperbolehkan menonton TV selama waktu yang tidak dapat
ditentukan. Alhamdulillah si Kakak bisa paham, dan bisa ikut mematikan TV selama di rumah. Aku pesan pada kakak, bahwa TV hanya bisa dinyalakan saat
tidak ada adik atau adik sedang tidur. Tidak sulit karena si Kakak ikut masuk
ruang konsultasi saat itu.
Selain itu, si Kakak juga terpaksa
aku tinggal sendiri di rumah (mengurangi resiko penularan Covid-19) selama aku harus mengantar adik terapi, tetapi kakak justru
senang karena dia jadi bisa nonton TV.
Selain itu Jani dijadwalkan untuk terapi sensori dan terapi wicara. Secara intensif aku sendiri yang antar Jani terapi selama 2x satu minggu selama 2 bulan penuh. Dari pengamatan terapis dan konsultasi lagi dengan dokter anak spesialis tumbuh kembang, Jani murni speech delay. Pada aspek perkembangan yang lain Jani dinilai cukup baik untuk anak seusianya.
Saran dari dokter sebenarnya cukup sederhana, ketat dalam pemberian screen time (agar lebih banyak interaksi dua arah) dan sekolah! Tujuannya agar Jani memiliki teman sebaya yang diharapkan bisa menjadi stimulus bicaranya.
Dokternya bilang, "Bu, ini sih anaknya di sekolahin aja nanti juga bisa ngomong sendiri. Tapi lagi pandemi ya, yaudah sering-sering diajak ngobrol ya."
Pentingnya Pengetahuan dan Kepekaan Orang Tua
Cukuplah aku yang kebanyakan self-defence terhadap anak, semoga orang tua lain bisa lebih siap, tanggap dan cepat melihat tanda sebelum muncul red-flag pada perkembangan anak. Tapi tolak ukurnya jangan anaknya orang lain ya, atau anak tetangga, apalagi anak selebgram, rentan bias dan jadi overthinking. Cukup kita lihat pedoman yang standar, ada di Kartu Menuju Sehat (KMS) dan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) yang bisa didapatkan di Posyandu. Formulir tersebut bisa diisi mandiri sejak anak berusia 3- 72 bulan. Kalau tidak pernah ke Posyandu, parents bisa dapatkan KPSP di mbah google ya, hahaha.
Pesan Untuk Parents
Mencari bantuan psikologis/terapis
bukan berarti hal yang menakutkan, menyedihkan atau memalukan. Bila ada aspek
tumbuh kembang tertentu yang dirasa mengkhawatirkan, tidak perlu menunggu lebih
lama, disegerakan saja untuk dapatkan bantuan dari ahlinya.
Dan satu lagi yang penting, di atas aku sempat menuliskan “jangan bandingkan anak kita dengan anak
orang lain,” ini sih pendapat pribadiku, karena aku pribadi bukan ibu yang kompetitif. Selagi anak
bertumbuh dan berkembang secara wajar, sehat, dan ceria, itu cukup. Tidak perlu
menjadi ‘lebih’ ataupun ‘luar biasa’, atau menjadi seperti anak si Anu, atau si Ono. Aku tidak mau anakku dibanding-bandingkan dengan anak orang lain.
Akupun meyakini bahwa setiap anak juga memiliki ‘waktunya’
masing-masing. Anak tetangga lebih cepat bisa jalan, bukan berarti anakku tak hebat. Begitu pula aku membesarkan hatiku. Jani terlambat bicara bukan berarti ia kelak tidak bisa menjadi anak yang pintar.
Ah sudahlah, teman sekelasku saat sekolah dulu, yang selalu nyontek saat ujian, yang selalu mendapatkan peringkat akhir satu angkatan, toh sekarang dia bisa juga mandiri, punya rumah dan bisnis sendiri.
Jadi jangan overthinking ya parents, dan tetap semangat, berusaha, dan berdoa.


0 komentar:
Posting Komentar