Sudah menjadi harapanku untuk mendidik Juno, anak pertamaku
menjadi anak yang mandiri, tak terkecuali untuk berani tidur di kamarnya sendiri.
Bahkan sejak aku belum hamil anak kedua, kamar Juno (saat itu usia 3 tahun)
sudah dipersiapkan. Prosesnya bisa dibilang cukup panjang, karena dilatih sejak
usia 3,5 tahun, hingga akhirnya genap diumur 4 tahun, Juno sudah benar-benar
terbiasa tidur tanpa ditemani, di kamarnya sendiri.
Nah, bagi yang sedang ingin melatih anaknya untuk tidur
sendiri, berikut akan aku bagikan tips
untuk orang tua mempersiapkannya.
- Siapkan kamar anak yang tidak jauh dari kamar utama (kamar orang tua). Jadi saat anak takut atau merasa tak nyaman pada prosesnya (terbagun tengah malam atau terbangun karena mimpi buruk, dsb), ia akan mudah menemukan orang tuanya. Jadi jangan ya kamar utama di bawah, kamar anak di atas, atau sebaliknya. Untuk latihan sebaiknya satu lantai dulu, kalau sudah lancar mungkin bisa dipertimbangkan berpisah lantai dengan anak.
- Siapkan kamar yang menyenangkan untuk anak. Saya sengaja memasang gorden, dan sprei dengan gambar karakter yang disukai anak saya. Saya taruh semua mainan di dalam kamarnya, juga kolase foto-fotonya sejak bayi hingga sekarang. Jadi sedari awal ia tahu bahwa kamar tersebut adalah miliknya dan menumbuhkan sense of belonging.
- Sounding jauh sebelum dimulai. Saat ia masih sekasur dengan kami orang tuanya, bahkan sejak adiknya belum lahir kami selalu memberikan sugesti atau sounding bahwa dalam waktu dekat ia harus mulai belajar tidur sediri, beserta alasan-alasan mengapa ia harus tidur sendiri. Alasannya mulai dari kamarnya yang sudah disiapkan khusus untuknya, badannya semakin besar dan kasur kami tidak lagi nyaman jika ditiduri 4 orang (dengan adiknya), dan kami yang khawatir apabila tidurnya terganggu karena adiknya yang masih bayi akan sering terbangun tengah malam.
- Berdoa sebelum tidur. Kebiasaan ini harus dipupuk sedari kecil, sambil ditanamkan bahwa dengan berdoa maka Allah akan menjaganya hingga ia tidak takut lagi, dan tidak bermimpi buruk. Akan mulai sulit bila anak sudah mengenal konsep ‘hantu’ atau ‘jin’ atau ‘setan’, sehingga biasanya itu yang menjadi kekhawatiran mereka saat sendirian. Maka perlu ditanamkan lebih pada anak bahwa manusia itu derajatnya lebih tinggi dari jin dan sebangsanya, dan bila berdoa maka jin akan takut dan Allah yang akan menjaganya.
Tahapan pertama kali Juno tidur ditemani papahnya hingga terlelap, kemudian baru ditinggal setelah nyenyak. Terkadang bila papahnya belum pulang bekerja maka pintu kamarnya saya biarkan terbuka sehingga Juno tetap merasa aman meski tidak ada yang menemani di kamar. Selama beberapa waktu, setiap terbangun dari tidurnya di tengah malam, Juno selalu teriak memanggil papahnya, maka dengan sigap papahnya akan ke kamarnya dan menemani. Tahap selanjutnya ketika Juno terbagun menjelang subuh (sekitar jam 3 atau 4 pagi), ia tidak lagi memanggil tapi langsung ke kamar kami dan melajutkan tidurnya di kamar kami hingga pagi. Tahap terakhir Juno sudah terbiasa sudah tidak bangun tengah malam lagi hingga pagi.Proses belajar tidur sendiri ini butuh waktu dan bertahap (ya sama saja seperti proses belajar lainnya).
Keberhasilan Juno ini juga
dinikmati olehnya sendiri, ya pasti anak-anak akan senang dan bangga kan kalau
berhasil menguasai sesuatu. Juno cerita kepadaku, suatu waktu ketika dia
terbangun tengah malam, dia teringat kataku, “Kalau Juno takut, berdoa ya,
terus tidur lagi, gak akan terjadi apa-apa kok, kan Allah yang jaga.”
Satu lagi yang perlu sekali disampaikan ke pada anak saat
akan memulai belajar tidur sendiri, yaitu pemahaman bahwa bila tidur sendiri
bukan berarti karena orang tua ingin berpisah dengannya, tidak sayang padanya, melainkan
sebaliknya. Hal ini adalah sebuah langkah untuk menjadikannya semakin kuat dan
berani, menandakan bahwa ia semakin dewasa (bukan anak kecil lagi), biasanya
anak-anak akan suka bila dianggap sudah lebih besar. Ah kalau bagian ini
biasanya ibunya yang mewek, gak nyangka dan gak rela anaknya sudah bukan bayi
lagi. Ternyata anak belajar tidur sendiri selain perlu membesarkan hati anak,
sebelumnya juga orang tua dulu yang perlu membesarkan hati, supaya tega, yakin
dan konsisten pada proses belajar anak.
Ini baru salah satu tahap kemandirian anak, bila maju
mundur, yang dikhawatirkan adalah kelak akan menghambat proses kemandirian anak
yang lain.


0 komentar:
Posting Komentar